Jumat, 23 Maret 2012

Sebuah Cerpen: Segienam

Matanya tidak dapat berbohong. Aku lihat betul ada cipratan-cipratan aneh setiap kali tatapannya tertuju pada sosok itu. Gayanya saja yang terlihat tidak peduli. Sifat tomboynya memang terlalu dominan dan menutupi sifat kewanitaannya. Tapi walau bagaimanapun dia tetaplah seorang perempuan. Dia punya perasaan.

Namanya Killa. Anaknya manis. Dia termasuk salah satu orang penting di sekolahku. Bagaimana tidak? Dia pernah menjadi wakil dari Indonesia dalam turnamen taekwondo se-ASEAN. Otaknya juga cerdas. Namun sayangnya kurang diasah. Aku perhatikan dia sering tidur di kelas. Entah karena apa. Mungkin dia punya alasan.

Killa berjalan ke arah sosok di ujung koridor itu. Kedua tangannya memegang masing-masing satu botol pocari sweat. Salah satu botolnya dilempar asal ke arah sosok itu. Dan sosok itu terkejut bukan main. Killa tertawa melihat reaksinya. Sosok itu marah. Tapi Killa tidak perduli. Dia duduk di samping sosok itu, masih dengan tawa yang sama.

“Sayang, sebentar lagi band aku manggung. Doain ya,”

Aku terperangah mendengar suara itu. Ah, ternyata pacarku. Aku tersenyum padanya sembari mengangkat jempol pertanda aku pasti akan mendoakannya. Dia mengacak-acak rambutku lalu berbalik dan pergi meninggalkanku menuju kerumunan massa di depan panggung.

Tiba-tiba aku merasa tidak becus menjadi seorang pacar. Bukankah seharusnya aku memberinya semangat?

“Sayang,” aku memanggilnya sebelum dia semakin menjauh. Dia menoleh ke arahku. “Semangat ya!” ucapku sambil mengangkat kepalan tangan.

Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu. Tapi rasanya aneh. Ada yang berbeda. Apa ini perasaanku saja?

Dia membalik badan lalu pergi menjauh. Aku memandang punggungnya lekat. Dia merogoh saku celananya dan mengambil handphone. Sepertinya dia ingin menelepon seseorang. Siapa yang dia telepon?

Entah kenapa mataku langsung tertuju pada Killa.

***

Suara berisik dilapangan sekolah membuatku tidak nyaman membaca buku Physics Education ini. Sekalipun aku sedang berada di perpustakaan yang sepi. Ya, seharusnya tempat ini hening dan tenang. Karena sepenglihatanku, hanya ada aku dan penjaga perpustakaan di tempat ini. Namun suara musik yang kata Daffa beraliran rock ini berdentum kencang memekakkan telinga. Dinding perpus pun tak cukup kokoh meredam suara –suara tidak jelas itu. Heran, kenapa Daffa begitu suka musik brutal seperti ini?

Aku menutup buku. Percuma saja sepertinya jika aku melanjutkan hobby membacaku dalam keadaan berisik seperti ini. Mataku menerawang menembus jendela perpus. Entah kenapa, titik sorot mataku bertumpu pada satu sosok berkilau di bawah pohon beringin di sisi lapangan.

Gia. Nama yang selalu terdengar indah di telingaku. Sejak SD dulu, dia selalu berkilau dengan kesederhanaannya. Sayangnya dia sering tidak percaya diri. Andai aku punya kesempatan untuk mendekatinya, hal pertama yang akan aku lakukan adalah memberinya semangat untuk tidak malu tampil di muka umum. Aku tahu dia punya bakat menyanyi, tapi dia tidak pernah memperlihatkannya di depan umum.

Dulu saat SD kelas 6, ujian kesenian adalah menyanyi. Mau tidak mau dia harus tampil di depan kelas. Awalnya kelihatan meragukan, tapi saat dia mulai bernyanyi, suaranya menggetarkan seisi kelas. Bulu kudukku sampai berdiri. Dan pada akhirnya, dia lah satu-satunya anak yang mendapat nilai 100 dalam ujian kesenian saat itu.

Aku memang telah mengenalnya sejak lama. Tapi entah kenapa nyaliku selalu ciut setiap kali aku ingin mengajaknya berbicara. Bahkan saat berpapasan pun aku tidak berani menatap matanya, apalagi tersenyum. Bodoh. Ya, aku memang bodoh. Aku menyukainya tapi aku hanya bisa memandanginya dari balik jendela seperti ini.

Tiba-tiba seseorang yang aku kenal muncul dalam pandanganku. Dia mendekati Gia. Tangannya mengacak-acak rambut Gia mesra. Sial. Dadaku rasanya panas. Cemburu itu muncul lagi. Untungnya dia segera meninggalkan Gia menuju panggung. Rasa panas itu kembali mendingin.

Handphone-ku berdering. Dari Daffa.

“Heh, bray, bentar lagi gue manggung nih. Gue mau tunjukkin ke elo musik rock itu nggak selalu brutal. Gue tunggu ye dibawah panggung,”

Klik. Telpon terputus.

***

Mataku menangkap satu siluet di ujung koridor. Dalam sekejap aku sudah tau siapa sosok itu. Tertidur dengan posisi duduk di lantai dengan telinga disumbat headet. Siapa lagi kalau bukan Yuza, kapten tim sepak bola kebanggaan sekolahku.

Kebiasaannya memang seperti ini. Ujung koridor ini adalah tempat favoritnya untuk tidur. Dia memang sangat suka tidur. Tapi dia tahu waktu-waktu yang tepat untuk tidur, tidak seperti aku. Haha. Aku suka kebablasan tidur di kelas. Itu karena sekarang setiap sore sampai malam aku harus melatih taekwondo di kompleks sebelah rumah. Lumayan uangnya buat jajan, nggak nyusahin orang tua. Sampai sekolah pun, tubuhku akhirnya menyerah. Capek.

Ide jahil muncul dibenakku. Aku lemparkan salah satu botol pocari sweat dan jatuh tepat dipangkuannya. Yuza terlonjak kaget. Sungguh, ekspresinya benar-benar lucu.

“Hahaha, kaget ya?”

“Kampret!” Dia membuka headsetnya. Tangannya menurunkan kacamata lalu mengusap matanya yang merah dan berair. “Sialan lo, La!”

Aku duduk di sebelahnya. “Hahaha, lagian sih lo suasana lagi berisik gini masih aja sempet-sempetnya tidur,”

“Ngapain juga gue dengerin band-band alay itu,” ujarnya cuek.

Walaupun bukan aku yang di bilang alay, tapi rasanya aku tidak terima dia menyebut band-band di panggung itu alay, "Heh, mereka itu bukan band alay. Itu namanya band indie, band yang masih baru, masih fresh. Lagian temen lo si Daffa itu ikut acara ini juga. Berarti dia alay dong?”

“Ya kecuali dia,”

Aku menempeleng kepalanya. “Woo, pilih kasih,”

Yuza melengos. Dia kembali memasang headsetnya. Mata sendunya terpejam. Ah, kenapa dia harus tidur lagi? Tidak bisakah dia menghargai kehadiranku?

Aku mencoba menghibur diri. Ini memang sifat Yuza. Nggak peka, bukan tipe perasa. Bahkan dengan jarak sedekat ini pun selama kami duduk di bangku SMA, dia tidak pernah menganggap kehadiranku itu sebagai sesuatu yang aneh. Ehm, maksudku, jika aku menjadi dia, aku akan merasa aneh dengan perempuan yang selalu mendekatiku, seolah menawarkan persahabatan yang aku sendiri tidak butuh.

Aku sering bertanya dalam hati. Apakah dia tidak pernah sedikitpun menangkap gelagat aneh dariku? Daffa saja sering memergokiku sedang memperhatikannya.

Yeah, Daffa memang cowok paling sialan yang pernah ada. Sering sekali dia memancing respon dari Yuza. Pernah saat aku sedang melamun, Daffa mengagetkanku dengan berteriak, “Eaaa, lagi ngelamunin Yuza yaaa? Hahaha,”. Seisi kelas pun dengar, bahkan mungkin Yuza sendiri. How “kampret” he is!

Tapi walaupun mengesalkan, tidak aku pungkiri bahwa celetukan-celetukan Daffa itu sangat membantuku. Setidaknya aku tidak perlu mengatakan langsung pada Yuza kalau aku tertarik padanya. Bukannya aku nggak berani ngomong langsung, tapi aku nggak mau disamakan dengan cewek-cewek genit itu. Cewek-cewek yang menjuluki diri mereka “Yuza holic”, sebuah fans club penggila Yuza yang merupakan gabungan cewek-cewek dari kelas 1 sampai kelas 3. Padahal Yuza sendiri tidak merasa punya fans.

“Hello Smansasi, MANA SUARANYAAAAAA???”

Suara itu terdengar menggema dari atas panggung. Aku memicingkan mata. Sontak aku menggoyang-goyangkan tubuh Yuza. “Heh, Yuza bangun! Daffa tuh tampil!”

Yuza tergelak. Dia menurunkan kacamata lalu mengusap matanya yang kembali merah dan berair. “Hah? Serius?”

“Iya, yaudah yuk kesana!” aku menarik tangannya kasar.

***

Andai mereka tidak menarikku kesini, mungkin aku masih bisa berteduh di dalam kelas. Mereka adalah teman-teman dekatku. Dea, Rita, Tania, dan Selvy. Awalnya aku menolak ajakan mereka. But, in the name of friendship, aku sampai rela berada di tengah-tengah kerumunan orang seperti ini. Euw, panasnya.

“Sebentar lagi band kita maju nih,” ucap Selvy antusias. Teman-temanku yang lain tak kalah antusias. Mereka bahkan sudah menyiapkan sebuah teriakan untuk mensupport band dari sekolah kami nanti ketika tampil. Mungkin cuma aku saja yang tidak menikmati keramaian ini.

“Hello Smansasi, MANA SUARANYAAAAAA???” teriak MC dari atas panggung membuat suasana semakin gaduh.

“GO SMANSASI, GO SMANSASI, GO GO GO, AAAARRRKKKHHHH!!!”

Aku melihat kesekeliling. Semua orang terlihat excited. Eh, tapi, hey, ternyata bukan cuma aku yang tidak tertarik. Dia juga. Sudah aku duga. Tapi kenapa dia ada disini ya? Biasanya jika suasana sudah ramai seperti ini dia akan bersembunyi di perpustakaan. Aku mengenalnya. Dia memang suka tempat yang hening, sepi, jauh dari keramaian.

Ya, aku sangat mengenalnya. Dulu, entah sekarang. Tapi sepertinya dia masih tetap sama. Kesukaannya tetap memakai kemeja kemanapun dia berada. Aku lihat tangannya juga menenteng buku berjudul “Physics Education”. Oh God, dia masih suka fisika rupanya, pelajaran paling membosankan yang pernah aku temui. Big applause.

Eh, kenapa aku jadi kangen ya? Ya Tuhan, aku kangen dengan kekakuannya, kangen dengan omelannya setiap kali aku malas belajar, kangen dengan jokes-jokes garingnya. Ingin sekali aku bertanya, “Fatra, did you feel the same with me?”

Aku ingat terakhir kali kami berada dalam jarak yang dekat. Saat itu dia marah. Marah besar sekali. Aku tidak pernah melihatnya semarah itu. Matanya tajam, aku sampai takut. Aku tahu kemarahannya bukan tanpa alasan. Dia memergokiku pulang ke rumah bersama Desta, teman se-modellingku. But i swear, i did nothing with Desta. Dia hanya menawari mengantarku pulang karena saat itu Fatra bilang tidak bisa menjemputku. Ternyata Fatra berbohong. Dia berada di rumahku untuk menyiapkan surprise karena hari itu hari ulang tahunku.

Aku maklum kalau dia marah. Dia memang orang yang sangat cemburuan. Bahkan terkadang kecemburuannya itu mengalahkan logikanya sendiri. Dan hari itu, di saat aku seharusnya bahagia merayakan hari ulang tahunku, i broke up with him. Memang aku yang memutuskannya karena aku benar-benar benci melihatnya membentakku seperti itu. Tapi kenapa sekarang seakan karma itu berlaku ya?

“AAAAAAA YUZAAAAAAA!!!”

Lamunanku buyar seketika. Teriakan teman-temanku ini benar-benar luar biasa. Aku mengusap-usap telingaku yang berdengung. Seperti ada ratusan lebah berada di dalamnya.

“Eh, Niar, fotoin kita dong!” ujar Dea sambil menyerahkan i-phonenya. Aku menghela nafas panjang sebelum meraihnya. Kebiasaan deh mereka.

Teman-temanku ini benar-benar aneh. They’re a big fans of Yuza—siswa dari kelas IPA 6, kapten tim football di sekolahku, dan ehm, aku akui, lumayan ganteng. Sangking ngefansnya, mereka sampai membuat fans club bernama “Yuza holic”. Dan lebih gilanya, setiap kali Yuza bertanding, mereka selalu setia berada di pinggir lapangan, berteriak sekuat tenaga untuk mensupport dan rela panas-panasan. Bahkan saat Yuza bertanding di kompleksnya dalam rangka 17 Agustusan pun mereka setia mendampinginya. Is that a crazy thing, right?

CEKREK! CEKREK! CEKREK! Tiga buah foto yang sempurna untuk penggemar berat Yuza. Semoga mereka puas.

“Eh, gue kesana dulu ya,” kata Yuza pamit dari fans-fansnya. Dia sempat tersenyum padaku dan aku membalasnya. Di sebelahnya berdiri seorang cewek tomboy bertubuh mungil. Wajahnya cemberut saat teman-temanku minta foto eksklusif bersama Yuza. Siapa ya dia? Ehm, maybe his girlfriend.

“Hey, Fatra!”

Deg! Jantungku rasanya mau copot saat mendengar nama itu disebut. Yuza yang masih berada di dekatku yang memanggilnya. Entah kenapa aku refleks menoleh kearah Fatra. Dan saat itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mataku bertemu dengan matanya.

***

“Heh, Yuza bangun! Daffa tuh tampil!” teriak Killa di telingaku.

Suara cemprengnya yang keterlaluan langsung membuka mataku yang terasa baru beberapa menit terlelap. “Hah? Serius?”

“Iya, yaudah yuk kesana!” Killa menarik tanganku kasar. Cewek ini kecil-kecil tarikannya kenceng, Men. Bakat taekwondonya benar-benar mendarah daging.

Sebenarnya aku malas ke depan panggung. Rame, pengap, rusuh. Kenapa sih Daffa mesti ikut acara ginian? Aku tahu dia ingin memajukan nama bandnya. Tapi, hey, bukan disini wadahnya. Sepertinya daritadi aku perhatikan, band-band yang tampil cuma alay-alay yang sok ngerti musik. Bukannya ngeremehin, tapi gimana ya? Ah sudahlah.

“Kita ke depan yuk!” ajak Killa dan hampir menarikku lagi andai aku tidak buru-buru menolaknya.

“Gue ke Fatra aja deh! Tuh, dia disana!” kataku yang merasa beruntung menemukan sobat kentalku itu di tengah kerumunan. Setidaknya aku bisa terlepas dari cewek ini.

“Ah, kesana aja yuk, Za. Lebih deket lebih asik,” Tuh kan, mulai deh maksa-maksa nggak jelas.

“Nggak ah, gue kesana aja. Lagian...,” belum sempat aku memberi alasan, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan yang entah berasal dari mana.

“AAAAAAA YUZAAAAAAA!!!” Ya Tuhan, tidak bisakah hidupku tentram, damai, aman, sentosa barang sebentar saja?

Segerombolan cewek menghampiriku. Aku mengenal cewek-cewek ini. Mereka selalu ada dimanapun aku berada, berteriak lalu membuat ulah-ulah yang kadang aku tidak mengerti esensinya. Entahlah, apa yang membuat mereka kesurupan seperti ini.

“Yuza, foto dong pleaseee! Ntar gue jadiin DP BBM, avatar, profil picture di FB, skype, MSN, YM, ah pokoknya semua deh! Ya? Ya?” kata salah satu cewek yang aku kenal bernama Tania. Ucapannya pun diangguki teman-temannya.

Kalau sudah begini apa boleh buat. Daripada aku digentayangi mereka sepanjang hari. Aku pun menyanggupi permintaan mereka dan mereka langsung loncat kegirangan.

“Eh, Niar, fotoin kita dong!” pinta Dea pada seseorang bercadigan pink yang sedang menghadap ke arah panggung.

Seseorang itu berbalik badan dan detik itu juga jantungku seakan berhenti berdetak. Sial! Seseorang itu... Daniar Elisia Putri.

Aku merutuki diriku sendiri. Sindrom ketemu cewek itu muncul lagi. Deg-degan, merinding, panas dingin, dan lain-lain. Semoga kecupuan ini tidak terlihat dimata Niar. Malu gila!

Niar menerima permintaan teman segengnya. Entah dengan ikhlas atau karena terpaksa, dia akhirnya memotret kami. Ya Tuhan, cantiknya keterlaluan. Aku bersyukur Tuhan bersedia menciptakan makhluk sesempurna ini di tengah cewek-cewek sok cantik dan kecentilan yang ada di dunia ini.

Entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Mungkin, sejak pertama kali Fatra mengenalkannya padaku. Ya, dulu Niar memang pacar Fatra. Tapi saat itu aku masih bisa mengontrol diri, mungkin karena aku tidak mau dianggap makan teman. Dan saat kabar mereka putus beredar, ketidaknormalan ini mulai muncul. Niar seakan menjadi hantu yang membayangi kemanapun aku berada.

Yang aku tahu, dia adalah salah satu model dari agency ternama di Indonesia. Akhir-akhir ini wajahnya juga sering menghiasi layar kaca. Entah di video clip, iklan, atau ftv-ftv. Posturnya yang tinggi langsing, wajah blasteran Jawa-Uzbekistan, dan bakat di bidang entertaiment membuatnya pantas muncul dimana-mana. Nikkita Willy mah lewat!

“Eh, gue kesana dulu ya,” kataku pamit pada cewek-cewek ini setelah puas berfoto. Sebelum pergi, aku coba mencuri senyum pada Niar. Dan wohooo, dia balas tersenyum. Astaga... rasanya pengen salto, khayang, roll depan, roll belakang dalam satu gerakan sekaligus.

But, keep calm, Yuza! Stay cool is the best way to attract her attention.

***

Akhirnya hari ini datang juga. Festival band indie yang diadakan sekolahku, SMA Negeri 1 Bekasi atau yang biasa disingkat Smansasi. Ini pertama kalinya band-ku tampil. Setelah melewati audisi internal antar band-band dalam sekolah, hari ini, kami—The Luzea—tampil mewakili sekolah kami dalam festival band indie se-Jabodetabek. Sebuah pencapaian yang luar biasa menurutku karena band ini baru dibentuk 2 bulan yang lalu.

And this is the time. “Hello Smansasi, MANA SUARANYAAAAAA???”

God, please bless us now. Sumpah ini deg-degannya parah. Aku melirik 3 temanku yang lain. Tara, sang drummer sedari tadi menghentak-hentakkan kakinya. Galang, bassist andalan kami ini sudah menghabiskan 1 kotak tissue untuk mengusap keringatnya. Dan Po, si vokalis bersuara ngebass ini bolak-balik meminum air mineral, entah karena haus atau memang ginjalnya bocor. Inilah bentuk kenervousan kami.

Mau tidak mau, life must go on, right? Dan sekarang kami sudah diatas panggung. Aku bisa melihat semua dari atas sini. Ada rasa bangga terselip diantara rasa-rasa lain yang bercampur aduk tidak karuan.

“The Luzea, band asal SMA 1 Bekasi ini katanya baru pertama kali tampil diatas panggung. Bagaimana rasanya bisa digambarkan?” tanya si MC basa-basi.

Aku membiarkan Po yang menjawab semua pertanyaan MC. Mataku mencoba mencari-cari dua orang yang aku harapkan berada di kerumunan itu. Ah, itu mereka. Fatra dan Yuza. Mereka adalah sahabat paling kampret sedunia. Pasalnya, merekalah yang paling tidak percaya kalau bandku bisa lolos audisi internal kemarin. But now, aku buktikan di panggung ini.

“DAFFAAAAA!!!” teriakan cempreng yang aku kenal itu membuatku mengalihkan pandangan ke satu sosok mungil yang berdiri disamping Yuza. Namanya Killa. “DAFFAAAAA!!!” sekali lagi dia berteriak sembari melambaikan tangan.

Aku tersenyum menandakan bahwa aku melihatnya. Tapi dia tetap melambaikan tangan, kali ini ditambah loncat-loncat. Haha. Lucu sekali dia. Gayanya yang tomboy kadang tidak cocok dengan sifatnya yang masih kekanak-kanakan. Aku sudah pernah bilang padanya. Dan dia tidak perduli omonganku.

Aku tahu, yang dia perdulikan memang hanya Yuza. Dia selalu cerita panjang lebar tentang Yuza. Apapun. Bahkan dia bisa cerita berulang-ulang sampai aku bosan mendengarnya. Inilah nasib menjadi abang-abangan.

Tapi biarlah seperti ini, aku merasa menjadi abang-adek adalah hal yang paling tepat untuk bisa dekat dengannya. Apalagi setelah insiden penolakan itu, bisa sedekat inipun menjadi hal yang luar biasa. Ya, aku memang pernah menembak Killa dan dia menolakku mentah-mentah.

“And now, this is the song from Goo Goo Dols, Iris,” kata Po mengawali aksi kami diatas panggung.

Aku memulai dengan petikan gitarku. Suara gaduh itupun berubah sunyi. Lalu Po masuk ke dalam musik dengan suara baritonnya, perlahan tapi pasti. Aku rasakan seluruh penonton hanyut dalam lagu ini.

And I’d give up forever to touch you.
Cause I know that you feel me somehow.
You're the closest to heaven that I'll ever be.
And I don't want to go home right now

Dari atas sini, aku bisa melihat semuanya. Aku bahkan melihat yang seharusnya tidak terlihat. Seperti saat Yuza mencuri pandang ke arah Niar. Aku tahu Yuza bukan tipe orang yang suka mengumbar masalah pribadinya. Dia yang paling pendiam dan jarang bercerita diantara aku dan Fatra. Tapi dari tatapannya itu jelas sekali terlihat dia menyimpan “sesuatu” pada cewek cantik itu.


And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
And sooner or later it's over
I just don't wanna miss you tonight


Sayangnya, perhatian Yuza bertepuk sebelah tangan. Ternyata Niar masih menyimpan kenangan-kenangannya bersama Fatra. Bukannya aku sok tahu. Tapi aku sempat melihat pandangannya stuck pada Fatra. Beberapa kali senyumannya terkembang ringan, padahal Fatra tidak meliriknya sama sekali.


And I don't want the world to see me
'Cause I don't think that they'd understand
When everything's meant to be broken 
I just want you to know who I am


Aku tahu, Fatra memang sudah melupakan semua kenangannya bersama Niar. Dia merasa sudah cukup sakit hati atas perlakuan Niar padanya dulu. Dan sekarang, perhatiannya teralih pada seorang gadis. Teman masa SDnya. First lovenya. Namun sayang, gadis itu sudah menjadi milikku. Dia adalah perempuanku. Gia.

Aku cukup respect dengan keberanian Fatra yang jujur padaku bahwa dia menyukai Gia. Dia mengatakan kalau dia akan sportif dan tidak akan mengganggu hubunganku dengan Gia. Aku percaya padanya.


And you can't fight the tears that ain't coming
Or the moment of truth in your lies
When everything feels like the movies
Yeah you bleed just to know you're alive


Dan Gia, dia memberikan hatinya dengan sempurna padaku. Ya, hanya padaku. Dengan keadaan seperti ini bukannya aku merasa senang, tapi justru aku merasa bersalah. Aku seringkali merasakan ada getar-getar cemburu pada Gia saat aku berdekatan dengan Killa. Tapi Gia tetap diam dan hanya diam. Dia tidak pernah mengungkapkan apapun yang dia rasakan. Sifat Gia memang setipe dengan Yuza. Perbedaannya, aku masih bisa membaca yang dirasakan Yuza lewat gelagatnya, sedangkan Gia sama sekali tidak menunjukkan apa-apa. Aku tidak tahu pasti dia cemburu atau tidak. Semoga saja hanya feelingku.

“DAFFAAAA!!!” teriakan cempreng itu memecah konsentrasiku. Bahkan dalam suara berisik seperti inipun aku masih bisa mendengar teriakannya.

Ini juga yang tidak aku tahu pasti. Sebenarnya apa yang aku rasakan pada Killa. Rasanya aneh. Aku menyayanginya, tapi tidak seperti rasa sayangku pada Gia. Ini dua rasa yang berbeda. Aku sudah mencoba berulang kali untuk menyayanginya seperti seorang kakak pada adiknya. Tapi bukan begini rasanya. Aku juga pernah mencoba menjauhinya, namun hasilnya nihil. Aku justru semakin terbayang-bayangi oleh sosoknya.

I just want you to know who I’am.
I just want you to know who I’am.
I just want you to know who I’am.

Dari sini aku mulai menyadari. Bahwa kami sudah terjebak dalam segienam tak berujung. Dan entah sampai kapan akan seperti ini.


THE END

Selasa, 13 Maret 2012

Tembok Besar itu Bernama "Ketakutan"

Saya seorang pemimpi. Bahkan saya abadikan dalam email saya untuk blog ini (coretansangpemimpi.blogspot.com). Kalau mau dijabarkan dalam point-point, beginilah mimpi-mimpi saya:

1. Saya ingin selesaikan studi saya di fakultas kedokteran dengan nilai yang sangat memuaskan

2. Saya ingin berbisnis dibidang clothes and accessories dengan seluruh design karya saya sendiri

3. Saya ingin membangun sebuah rumah untuk saya dan keluarga saya tempati dengan hasil jerih payah saya sendiri.

4. Saya ingin menulis sebuah buku yang menginspirasi banyak orang

5. Saya ingin naik haji serta menghajikan ayah ibu saya

6. Saya ingin lancar berbahasa inggris

7. Saya ingin mendapatkan beasiswa, apapun bentuknya

8. Saya ingin mengambil spesialist obsgyn di FKUI

9. Saya ingin ke negara 4 musim, melihat salju, dan kuliah disana.

10. Saya ingin tinggal di Bandung

Inilah mimpi terbesar dalam hidup saya. Masih banyak mimpi-mimpi kecil lain yang tidak saya sebutkan. Tapi apalah arti mimpi kalau tidak dibarengi usaha dan doa. Ya, saya sadar itu.

Sayangnya, saya menyadari satu hal. Ada tembok besar yang menghalangi langkah saya. Tembok besar itu bernama "ketakutan".

Saya takut memulai hal yang baru. Saya takut keluar dari garis yang secara tidak sadar saya buat sendiri. Saya takut kecewa. Saya takut terjatuh untuk yang kesekian kalinya. Dan ketakutan akut ini lambat laun berubah menjadi sebuah kemalasan. Kemalasan kronis yang jika tidak diobati secara perlahan mulai dari sekarang akan berdampak negatif pada mimpi-mimpi saya diatas.

Ya Allah, saya tidak ingin membunuh mimpi saya. Karena jika saya membunuh mimpi saya, secara otomatis saya juga akan membunuh diri saya sendiri. Bukankah manusia tanpa mimpi itu sama saja dengan mati?

Coba bayangkan jika kalian tidak punya mimpi, tidak akan ada perubahan dalam hidup kalian. Sebagai contoh, saya baru saja bertemu dengan penjual somay keliling di kompleks saya. Beliau sudah berdagang somay sejak saya masih duduk di bangku SD. Somaynya memang enak. Tapi lihatlah hidupnya. Dari saya berumur 9 tahun sampai sekarang hampir menginjak 20 tahun, pekerjaannya tetap berdagang somay keliling. Tidakkah dia menginginkan perubahan? Lalu jika tetap seperti itu hidupnya salah siapa? Salah takdir?

Yang membuat takdirnya seperti itu adalah dirinya sendiri. Allah berfirman, "Tidak akan berubah suatu kaum melainkan karena dirinya sendiri". Allah tidak pernah melihat hasilnya, tapi Allah melihat usahanya. Seberapa besar usaha manusia itu, maka Allah akan memberikan hasil yang setimpal dengan usaha yang dikerahkan.

Kalau saya buat kesimpulan, beginilah konsep bermimpi yang tepat: "Tulislah mimpi sebanyak-banyaknya, usaha + doa, lalu ikhlaskan hasilnya pada Tuhan yang Maha Esa"

Memang bicara lebih mudah daripada prakteknya, saya akui itu. Tapi mulai dari sekarang saya akan berusaha, walau  perlahan tapi pasti, untuk meraih apa yang saya impikan sejak dulu. Mungkin bisa dimulai dengan merobohkan tembok itu :)


Minggu, 04 Maret 2012

Quote

"JANGAN PERNAH REMEHKAN IMPIAN
WALAU SETINGGI APAPUN.
SUNGGUH TUHAN MAHA MENDENGAR"



MAN JADDA WAJADA
Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil
- A. Fuadi -

Senin, 27 Februari 2012

Catatan Akhir Sekolah (part IV)

Video made by me
I miss them all :')


ISOMERS
(Invicible Science Six Mighty of Power)

Semenjak saya dan mereka menyatu dalam satu kelas, terciptalah komitmen untuk selalu bersama. Bukan sebagai teman sekelas, tapi sebuah keluarga. Lalu komitmen itu mulai berubah menjadi ketakutan. Ketakukan yang mencekam seperti sejuk yang merambat di permukaan kulit, lalu merasuk hingga ke tulang dan membekukannya. Saya terlalu takut untuk meyakini kalau sebentar lagi saya akan kehilangan keluarga saya.

Ada sesuatu pada mereka. Setiap gerakan mereka membuat saya tercengang, kadang tertawa, kadang merasa jengkel. Tapi itu adalah bentuk ekspresi mereka. Dan sialnya, saya menyukai apa yang mereka perbuat. Tepuk tangan saat seseorang datang terlambat dan tawa saat sang objek penderita kebingungan. Kegaduhan saat ada orang yang sial untuk menerima “gesekan” dan tertawa bersama, mengetahui semua orang menikmatinya. Atau waktu wali kelas berdelik marah, terganggu oleh tawa anak-anak. Teman sekelas yang tidak bisa duduk diam, mengitari kelas mencari suatu objek yang dimainkan. Saya selalu menemukan sesuatu yang istimewa dalam setiap tingkah mereka.

Karena itulah, saya tidak cukup berani saat mengetahui waktu saya untuk bersama mereka akan segera berakhir. Kami lebih dari sekedar sekumpulan orang yang berkumpul di tempat yang sama, waktu yang sama, dan kota yang sama. Kami adalah keluarga.

Meski kadang hasrat untuk menempeleng mereka muncul karena lawakan yang sukses membuat saya tertawa, rasa kehilangan itu tetap ada. Saya akan kehilangan keceriaan ditengah-tengah lautan tugas sekolah. Kehilangan teman membolos saat merasa bosan. Kehilangan ocehan guru yang kadang membuat mengantuk. Kehilangan bau pagi dan gemerisik daun yang bergesekan di sekolah. But most of all, saya akan kehilangan mereka.

Perasaan kebas itu kini terhapus. Bukankah di setiap ada pertemuan, akan ada perpisahan? Mereka punya impian. Saya punya impian. Berpisah untuk mengejarnya bukanlah suatu hal yang harus ditangisi.

Saya akan merindukan ocehan mereka, para guru, dan terik matahari yang menyengat saat upacara. Bahkan celotehan yang paling menyakitkan pun akan sangat terasa merindukan.

Demi apapun itu, saya tidak akan melupakan masa-masa SMA saya.

Karya Septianto Mawardika
Dibacakan saat perpisahan kelas di Anyer

Sabtu, 18 Februari 2012

Kamis, 02 Februari 2012

Kamu Keren Hari Ini

Back sound: Bunga Citra Lestari - Pernah muda


Nia lihat kamu. Tapi kamunya nggak lihat Nia. Kamu sibuk sama isi kotak makanmu. Makan apa sih? Sepertinya lezat. Mulutmu sampai penuh begitu. Hahaha tuh kan kamu tersedak. Makanya kalo makan pelan-pelan.

Siang ini panas ya? Nia keringetan nih! Kamunya sih enak berteduh di bawah pohon. Lah, Nia? Kalau bukan karena Pak Mardi ngadain ujian volly dadakan hari ini, Nia sih lebih milih bolos pelajaran dan pergi ke kantin. Hehe.

Kelas kamu kok enak sih nggak ada guru? Sayang sekali ya, Pak Mardi terlalu rajin dan nggak pernah absen ngajar. Andai aja kelas Nia sama kelas kamu sama-sama nggak ada pelajaran, mungkin Nia lebih konsen ngelihatin kamu makan.

Eh, kamu senyum. Bukan buat Nia sih, tapi Nia ikutan seneng. Seenggaknya Nia lihat senyum kamu. Lucu. Sedikit ngasih semangat Nia buat nyelesaiin ujian volly yang super ngebosenin ini. Tapi pukulan Nia nggak pernah bener nih. Jadi malu kalo kamu lihat.

Astaga, kamu beneran lihat! Ya Tuhan, bagaimana ini? Giliran Nia yang mukul nih. Aduh, please, jangan nengok kesini!

DUNG!

Alamak, bolanya malah kelempar ke belakang. Pukulan macam apa ini? Bodohnya dirimu Nia! Dan semuanya tertawa. Sebodo amat lah! Eh, kamu, kamu ikut ketawa nggak ya? Nia nggak berani lihat nih, malu!

Nia lihat Pak Mardi aja deh! Pak Mardi geleng-geleng kepala dari kejauhan. Dia bilang, “Kamu tuh mau mukul kemana sih? Masa bolanya terbang ke belakang sampai kena kepalanya Dion tuh!”

Hah? Kena kepala kamu? Serius? Eh, iya bener. Eh, eh, kok kamu jalan ke arah Nia? Aduh, Nia malu nih! Mau ditaroh dimana muka Nia? Nia nunduk aja deh.

Sekilas Nia lihat bayangan kamu semakin dekat. Serius deh, Nia nggak berani lihat muka kamu. Padahal kamu bukan monster bermata satu. Tapi jujur, detik ini kamu lebih menyeramkan dari itu.

Bayangan kamu berhenti bergerak. Astaga, bagaimana ini? Baju Nia makin basah sama keringat. Nia bau nih, jangan dekat-dekat Nia. Mending kamu lanjutin makan kamu sana!

“Nia, cepat ambil bolanya!” seru Pak Mardi. Oh iya, bolanya! Dimana ya bolanya? Kok nggak ada?

“Nih!” tiba-tiba kamu menyodorkan benda bulat yang sedang Nia cari. Nia bengong, sedikit malu sih. “Kalo mukul tuh kayak gini,”

DUNG!

Wow! Cool! Bolanya melewati net dan jatuh persis di depan Pak Mardi!

Nia melongo. Nia benar-benar speechless. Kamu senyum lalu pergi.

Astaga, kamu keren hari ini.

Rabu, 25 Januari 2012

I'm Still Your Friend, Right?

Pagi hari, ketika saya baru membuka mata, seperti biasa saya mengecek handphone untuk melihat apakah ada pesan yang masuk selama saya tidur. Ternyata ada beberapa pesan masuk via BBM dan 1 SMS. Saya membuka semua BBMnya dan tidak ada satupun yang perlu balasan saya. Lalu saya membuka SMS. Dan saya terkejut dengan isi pesan tersebut.

Mungkin lebih tepatnya terkejut pada siapa yang mengirim SMSnya.

Ialah sahabat lama saya. Namanya Adhi. Isi pesannya singkat. Sangat singkat malah. Dan saya membalasnya dengan pertanyaan. Lalu beberapa menit kemudian dia membalasnya dengan pesan yang lebih panjang yang sempat membuat saya tersenyum beberapa detik. Begini isi SMSnya.


Ah, si Adhi emang paling jago bikin saya ketawa! 

Saya memang orangnya cuek, terkesan nggak peduli, atau bahkan lupa sama teman lama. Saya memang jarang duluan mengirim pesan untuk teman-teman saya, terutama teman-teman lama saya. Dan saya tahu kalian pasti berpikiran saya sudah berubah, jadi gaul karena berteman dengan anak-anak gaul disini. Mentang-mentang kuliah di Jakarta...

Semua itu salah. Saya nggak pernah lupa sama kalian. Saya memang jarang mengirim pesan duluan, tapi saya selalu memantau keadaan kalian dari jauh dengan cara saya sendiri. Dan pada dasarnya saya nggak berubah, hanya saja waktu yang menyuruh saya untuk berubah. Kalian pasti tahu maksud saya.

Sekali lagi saya katakan, saya nggak pernah lupa sama kalian, sama curhatan-curhatan kalian, bahkan sama semua cerita tentang kita dulu. Ada tawa sehabis mendapat nilai bagus, tangis saat putus sama pacar, marah saat salah satu diantara kita menjengkelkan, semuanya melebur menjadi satu dalam ingatan saya.

Jujur, saya kangen. Andai jarak dan waktu nggak sekongkol memisahkan kita, mungkin saya ada disamping kalian sekarang.

I'm still your friend, right?

Rabu, 18 Januari 2012

Kata Mereka

Entah mengapa, akhir-akhir ini banyak hal yang membuat saya tertegun. Bukan perihal kejutan, tapi semua ini cukup membuat saya terkejut beberapa detik, berpikir sehari semalam lalu membuat kesimpulan sendiri. Saya menyukainya. Saya suka menganalisis apa saja yang tidak terduga terjadi pada saya. Contohnya kata-kata dari beberapa orang disekitar saya.

1.       “Lo tuh keponya keterlaluan. Itu artinya hidup lo ngebosenin,”

Ini kata salah satu teman terdekat saya. Saya yang notabennya ceplas ceplos, sempat dibuat tertegun dengan kata-kata itu. Saya memang kepo (mau tau urusan orang lain), tapi apa itu menandakan hidup saya ngebosenin? Ternyata tidak juga. Saya kepo tapi bukan berarti saya mau ikut campur urusan orang lain. Banyak kok manfaat dari kepo. Dengan kekepoan saya ini, saya bisa tau apa yang dirasakan teman-teman saya saat ini tanpa harus mendengar curhatan mereka secara langsung. Ya lewat curhatan mereka di jejaring sosial tentunya. Dan itu cukup membantu saya untuk mengambil sikap dengan mereka yang moodnya sedang tidak baik.

2.       “Parah, lo satu-satunya cewek yang bilang gue freak!”

Kata teman lelaki saya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke muka saya. Entah kenapa, saya suka menjadi satu-satunya orang yang melakukan sesuatu. Rasanya seperti Alexander Graham Bell yang pertama kali menemukan telepon.

3.       “Nggak usah mikirin kado buat mama, dapetin nilai bagus aja buat kado mama,”

Yes, it’s from my super lovely mom. I love her too much and much. I’ll do my best for her. May Allah answer my pray to give her the best protection in every step she takes.

4.       “Sini, Han. Gue kangen,”

Ah, ini dia. Sebuah kata kangen yang bikin saya kangen luar biasa. Itu dari—entah saya harus menyebutnya siapanya saya. Yang jelas saya kangen setelahnya.

5.       “Amiiiin,”

Sebuah kata sederhana dari adik semata wayang saya yang mengamini doa dari saya. “Semoga keterima PTN ya”

6.       “Tata’ Hani...”

Haha. Itu dari Fariz, si kecil lucu anak mbak kost. Saya senang mendengar suaranya memanggil nama saya. Terdengar polos.

7.     “Hidayah itu seperti hujan. Terserah kita mau membiarkannya jatuh atau menadahnya dengan tangan kita,”

Kata kak nungky, mentor saya di forum kedokteran islam. Dia menjelaskan tentang hidayah. Ternyata hidayah itu tidak datang dengan sendirinya. Hidayah itu perlu niat dan kemauan. Dan jangan diam saja! Kejar si hidayah sampai dapat. Allah menyukai orang yang mau belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

SEKIAN

Minggu, 08 Januari 2012

30 Minutes of Regret

[Backsound: Yiruma - do you]


Pagi ini, kamu datang mengejutkanku. Ini memang bukan kunjungan pertamamu ke rumah baruku. Tapi... kita sudah cukup lama tidak bertemu.

Kamu berubah. Rambut acak-acakan yang dulu sering menjadi bahan omelanku, kini sudah kamu sisir rapi. Ada guratan rambut halus tumbuh di sepanjang kontur rahang bawahmu. Tubuhmu yang dulu kurus kini sudah lebih berisi. Pakaianmu juga lebih rapi ala pekerja kantoran. Dan, ah, ya, kamu sekarang memakai kacamata!

Satu-satunya yang tidak berubah darimu adalah sorot mata itu. Tetap teduh dan hangat. Aku merindukannya. Mungkin juga merindukanmu.

Oh iya, apa kabar?

***

Pukul 16.00, seharusnya kamu sudah sampai di rumahku.

Diluar memang sedang hujan. Aku yakin, kali ini hujan yang akan kamu jadikan alasan untuk datang terlambat. Kamu memang selalu banyak alasan. Padahal aku selalu bilang, aku benci orang yang ngaret!

Handphoneku berdering. Tanda SMS masuk. Sudah kuduga, pasti dari kamu.

From: Angga
Sayang, maaf kayaknya aku datang telat. Hujan deras dan jalanan macet. Tapi aku pasti datang. Wait me there. Love you.

Aku menghela nafas.

Sejam yang lalu aku memang menelpon dan memintamu untuk menemaniku disini. Kamu tau alasannya. Aku benci suara hujan. Ya, hanya itu. Aku akui, aku memang egois karena tidak pernah mengerti dan peduli keadaanmu. Aku selalu marah karena kamu selalu datang terlambat. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah memelukku tanpa berkata sepatah katapun.

Sebenarnya, itu yang aku butuhkan sekarang. Pelukanmu.

To: Angga
Cepatlah datang! Aku nggak suka nunggu lama! Hujan berisik sekali.

Pukul 16.10. Hujan diluar semakin deras.

Tubuhku gemetar dan pikiranku melayang pada hujan setahun yang lalu. Kamu pernah bilang, hujan dan susu cokelat hangat adalah pasangan yang paling serasi. Ya, aku selalu ingat itu. Sayangnya, aku benci hujan dan tidak suka susu cokelat. Tapi mungkin aku bisa membuatkannya untukmu.

Aku paksakan bangkit dari kasur dan menuju ke dapur.

Pukul 16.15. Dingin sekali.

Sweater tebal pemberian dari almarhum nenek tak cukup kuat menahan udara dingin yang menusuk-nusuk kulit. Apa mereka bersengkongkol ingin membunuhku? Ah, aku tidak boleh berpikir negatif. Kamu yang bilang, ‘di dunia ini tidak ada yang negatif kecuali pemikiran dari manusianya’. Aku percaya, karena kamu yang mengatakannya.

Aku berjalan ke ruang tamu sambil membawa segelas susu cokelat. Semoga kamu cepat datang supaya susu ini tidak keburu dingin.


Pukul 16.20. Sepertinya petir murka.

Aku menelungkup dan menutup telinga rapat-rapat. Ini yang aku benci dari hujan. Mereka selalu berisik sehingga membuat petir marah. Berhentilah! Jangan bertengkar dihadapanku!

Pukul 16.25. Rasanya aku mengantuk.

Tubuhku lemas sekali dan kepalaku pusing. Hujan diluar sudah mulai mereda. Kenapa kamu belum juga datang?

Aku ingin tidur. Tapi aku juga ingin melihatmu. Tuhan, aku mohon, aku ingin melihatnya sebentar saja.

Pukul 16.30. Akhirnya.

Pintu rumahku terbuka. Kamu masuk dengan tubuh basah kuyup lalu menghampiriku dan mengecup keningku.

“Sayang, maaf, aku...,”

“Kamu terlambat 30 menit, Sayang. Sekarang aku mengantuk. Aku tidur sebentar ya?”

***

Angga:

Hai, apa kabar, Aira? Sudah lama ya kita tidak bertemu? Maaf aku baru mengunjungimu sekarang. Banyak cerita yang mau aku sampaikan padamu. Boleh ya aku cerita? Setidaknya kamu tidak merasa kesepian.

Aku sekarang bekerja sebagai arsitek di salah satu perusahaan kontruksi di Jakarta. Kamu masih ingat, kan, cita-citaku yang ingin menjadi arsitek? Aku bersyukur Tuhan mengabulkannya. Dan 3 bulan yang lalu aku sempat pergi ke Korea untuk bekerja sama dengan arsitek disana merancang sebuah hotel. Sungguh itu hal paling luar biasa yang pernah aku alami.

Emm, cerita apa lagi ya? Sepertinya ceritaku tidak terlalu menarik buatmu. Mungkin lebih baik kita mengenang masa dulu. Sekalian bernostalgia. Aku masih ingat semua loh!

Aku masih ingat dengan impian-impianmu. Pergi ke pulau terpencil dan membangun rumah sederhana disana, mendirikan museum permen lolipop kesukaanmu, membuat halaman rumahmu penuh dengan bunga dari seluruh penjuru dunia. Haha, aku selalu tertawa setiap kamu mengatakannya. Menurutku, itu konyol. Lalu kamu memasang muka cemberut dan tidak bicara seharian.

Ingat tidak, dulu kamu sering mengomeliku karena rambutku yang berantakan? Haha, mukamu lucu sekali setiap marah. Pipimu jadi tembem dan memerah. Mirip kartun chibi maruko chan. Maka dari itu, aku tidak pernah bisa balas memarahimu.

Aku juga ingat kamu yang benci hujan. Menurutmu, mereka berisik. Lalu kamu menelponku dan memasang waktu untukku sampai di rumahmu. Sayangnya aku selalu terlambat. Dan kamu marah karena itu. Aira, sebenarnya keterlambatanku tidak pernah aku rencanakan. Aku juga tidak tahu kenapa aku tidak pernah bisa on time. Selalu saja ada halangan.

Tapi darimu aku belajar banyak hal. Aku jadi lebih menghargai waktu. Setiap detik itu berharga dan tidak semua orang punya banyak waktu. Ya, sepertimu. Waktumu terlalu sedikit. Dan terlalu cepat.

Andai saat itu aku sampai 30 menit lebih cepat, mungkin aku tidak merasa sebersalah ini. Tapi hari itu aku sedang sial. Mobilku mogok dan harus aku bawa ke bengkel. Lalu aku menaiki taksi. Ternyata, jalanan macet total karena banjir di salah satu ruas jalan. Akhirnya aku memilih berlari ke rumahmu.

Sayangnya, waktumu harus berakhir hari itu.

..........

..........

Aira, istriku juga pengidap kanker sepertimu. Aku sudah berjanji pada Tuhan tidak akan membuang waktunya yang terlalu sedikit hanya untuk menungguku. Terima kasih karena kamu telah mengajarkanku hal-hal kecil yang ternyata bisa merubah seluruh hidupku. Aku tidak akan melupakannya. Dan juga tidak akan melupakanmu. Sampai kapanpun.

Rabu, 04 Januari 2012

Random Pink


Bukti kegalauan menjelang Ujian Akhir Modul GEH

Photoscape by Hani Aqmarina

Sabtu, 31 Desember 2011

Di Balik Topeng Badut

Namanya badut. Aku suka padanya.

Me with badut :)

Siapa yang tidak suka badut? Dia lucu dan menyenangkan. Khas dengan hidung bulatnya yang berwarna merah tomat, bibirnya yang selalu tersenyum lebar serta perutnya yang gendut membuncit. Setiap orang pasti akan terhibur dengan penampilannya, terutama anak kecil.

Aku memang bukan anak kecil dan aku tidak pernah melihat sesosok badut dari penampilannya. Tidak pernahkah kau berpikir siapa sesungguhnya manusia dibalik “topeng” itu?

Dia badut—makhluk berhidung bulat, berbibir lebar dan berperut buncit, begitulah orang-orang menilainya. Menurutku tidak. Badut itu penipu!

Siapa yang sangka dibalik senyum lebar palsu itu tersimpan kesedihan yang mendalam? Tidak ada yang tahu, kan? Ya, mereka tidak akan tahu dan tak mau tahu apa yang badut rasakan.

Mengapa aku yakin si badut punya kisah menyedihkan? Begini logikanya, apa mungkin si badut memang bercita-cita menjadi badut? Aku yakin tidak ada orang  yang mau bekerja setiap hari dengan make up super menor hanya untuk ditertawakan orang-orang kalau tidak karena desakan.

“Asal asap dapur tetap ngebul setiap hari,” begitu katanya sambil tertawa. Aku tahu, tawa itu palsu. Hey badut, sebegitu menderitanyakah dirimu?

Tapi badut tetaplah badut. Apapun masalah yang tersembunyi dibalik "topeng" itu, badut akan tetap terlihat lucu kan?

________________________________________________________________
*special thanks to badut taman safari who give me inspiration to write this post

Jumat, 09 Desember 2011

Sekotak Senyuman

[Aku harus bagaimana? Semuanya sudah terlanjur. Memang tak seharusnya mendung itu tetap disini. Bukankah aku sudah berkata "aku rela"? Maafkan aku, ini memang salahku]



Hari ini hujan kembali turun
Namun ada yang aneh
Setiap rintiknya terasa hambar
Tik... tik... tik...
Kosong, tak ada nyawa di dalamnya
Tik... tik... tik...
Kemana hujan yang biasanya?
Tik... tik... tik...

Aku:
Hey, ini sakit! Jangan sembarangan mengetuk pintu!
Kau tidak tahu pintu yang ini begitu istimewa
Kalau kau mau masuk harus pelan-pelan...
Janji ya?

Hujan pun mengangguk. Pintu itu terbuka perlahan. Seketika hujan terkejut.

Hujan:
Kenapa ada banyak kotak disini?
Berserakan, jauh lebih berantakan dari sampah
Katamu pintu ini istimewa?
Kalau seperti ini dalamnya, apa istimewanya?

Aku:
Dulu, ruang dibalik pintu ini begitu indah.
Kotak-kotak ini tersusun rapi.
Kau akan senang bermain disini, bersamaku.
Namun semuanya berubah.
Kotak terindahku telah dicuri orang.

Hujan:
Kotak apa yang dicuri?
Siapa yang berani mencurinya?

Aku:
Sekotak senyuman, makhluk bernama lelaki yang mencurinya.
Sekarang aku sudah lupa bagaimana caranya tersenyum.
Bisakah kau ajarkan aku?

Hujan:
Aku tidak bisa mengajarkanmu.
Tapi aku akan memberikanmu sesuatu.

Hujan menyerahkan kotak yang entah apa isinya.

Aku:
Apa ini kotak senyuman?

Hujan:
Bukan, ini kotak harapan.
Dengan kotak ini kau akan mampu menemukan senyummu kembali.
Percayalah.

Hujan pun berhenti
Seketika semburat pelangi melongok dibalik mendung
Dan kotak harapan itu akan kusimpan
Di balik pintu bernama hati


[Pergilah. Menjauhlah. Kali ini kupastikan semuanya sudah kembali seperti semula. Mendung itu sudah pergi. Aku baik-baik saja. Terima kasih telah menjadikannya sebagai jawaban, bahkan sebelum aku mengatakan "Aku mencintaimu"]

Kamis, 08 Desember 2011

Rock On!


Rock is not always look grim, you can keep sweet with it hehe :) 

Photoscape by Hani Aqmarina

Rabu, 07 Desember 2011

A Sweet Rose :)


I've got this idea when my time getting so busy and i felt bored in this
Yeah, like usual, my idea always appeared when 'galau' attack me hehe :)

Photoscape by Hani Aqmarina

Selasa, 25 Oktober 2011

"My crayon"


They're my song in silence
They're my beautiful dream in my sleeping beauty
They're my holiday in busy day
They're my flower in spring time
They're my dew in green leaf

They're my crayon in my empty life
They who i called FRIEND

Sabtu, 01 Oktober 2011

Semacam cinta

Heran. Aku mengherani kelakuanku sendiri. Kenapa mataku tak bisa lepas sedetikpun dari wajah lembayung itu? Wajah yang sedari tadi tak pernah membalas tatapanku—walaupun aku tahu sebenarnya dia menyadari aku sedang memperhatikannya.

Sekali lagi, aku menghela nafas. Mencoba tersadar dari kenyataan yang sesungguhnya. Tapi entah mengapa aku seakan tak ingin kenyataan itu ada. Aku ingin seperti ini saja. Duduk manis dan hanya diam sambil menikmati setiap garis lekuk wajahnya dan berhenti tepat disatu sudut lengkung bibirnya. Manis. Dia manis sekali seperti gula.

Hey, Aldy, sadarlah!

Suara-suara semacam itu terus menghantam gendang telingaku. Argh, aku benci hidup seperti ini. Hati dan pikiranku sedang tak bisa singkron menghadapi kenyataan. Aku ingin marah, tapi sayangnya aku tidak tahu harus marah dengan siapa. Dengannya? Dengan semua hari-hari bersamanya? Atau yang salah adalah awal mula perkenalan kami? Sepertinya memang yang patut disalahkan adalah perkenalan itu.

Tidak seharusnya aku berada ditoko buku itu. Tidak seharusnya aku membeli buku Astronomi itu. Tidak seharusnya dia menyukai buku yang sama. Tidak seharusnya kami berkenalan, berbicara tentang banyak hal, dan mulai menjalin tali persahabatan. Tidak seharusnya takdir kami berakhir seperti ini.

Dan sekarang aku terjebak. Terjebak dalam hal yang aku sendiri sulit untuk menjelaskannya. Dan dia... ah, dia semakin hari semakin mempesona. Mata bulat itu, hidung mungil itu, bibir tipis itu... ck! Mengenaskan sekali aku.

Dia menoleh, menatapku sejenak. “Rasanya aneh, tapi aku akan berusaha membiasakan diri memanggilmu kakak,” ujarnya sambil tersenyum. Matanya menerawang seakan berusaha menelusuri apa yang ada dipikiranku. Bodoh! Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dalam pikiranku. Pikiranku sedang kosong.

“Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang ingin disampaikan?” dia bertanya seperti mengintrogasiku.

Aku terdiam sesaat. Beberapa detik kemudian sebuah kalimat yang tak kusadari meluncur indah dari mulutku. “Tak bisakah untuk hari ini saja jangan anggap aku sebagai kakak tirimu? Aku mencintaimu, Elia,”