Sabtu, 08 Desember 2012

A Hope

(Cerpen ini pernah diikutkan lomba yang diadakan Gagas Media. Sayangnya didiskualifikasi karena terlambat ngirim)

Terinspirasi dari lagu Dewi Lestari - Selamat Ulang Tahun



5 menit lagi. Kamu tahu, kan, setelah 5 menit ini berlalu akan ada yang berubah? Karenanya aku disini, menunggu sesuatu yang menurutku masih ber-asa dari segala ketidakmungkinan. Aku percaya, Tuhan akan memberikan kebahagian di sela luka yang belum sempurna sembuh. Dan itu akan terjadi 5 menit lagi. 5 menit terpenting dalam hidupku.

Jujur, aku gugup.

Aku takut terlihat aneh dengan gaun ini. Ditambah lipstik pink dan pemerah pipi. Apa kamu akan menyebutku badut dengan stelan seperti ini?

Sebenarnya, aku belum siap menyambut 5 menit itu. Tapi kamu yang meyakinkanku. Kamu yang selalu meyakinkanku. 5 menit lagi. Baiklah, aku akan menunggu.

Semoga 5 menit itu tidak lama.

***

“5 menit lagi. Kenapa aku takut ya?”

Kamu menatapku lalu tersenyum. “Everything will be alright, Naya. Jangan gemetar seperti itu,”

Aku manyun. Laki-laki ini memang selalu menghadapi segala sesuatunya dengan santai. Kelewat santai malah. Mungkin, kalau 1 meter di depannya ada mobil yang melaju dengan kecepatan 100 km/jam, dia dengan santainya akan berjalan seolah masih punya nyawa cadangan. Kadang sikapnya itu mengesalkan. Tidak bisakah dia merasakan kegugupan yang aku rasakan sekarang?

“Hei,” tiba-tiba kamu menggenggam tanganku yang sedari tadi mengetuk-ngetuk tembok pembatas rooftop rumah kami yang hanya setinggi pinggangku dengan tidak berirama. Entah kenapa, seketika itu juga ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku. Rasa takut pun perlahan memudar seiring dengan terbitnya senyum itu. “Sudah siap dengan permohonan baru?”

Aku mengangguk.

“Seberapa banyak?”

“Hanya satu,”

“Kenapa cuma satu? Kamu bisa membuat seratus permohonan sekalipun,”

“Aku nggak butuh banyak permohonan,”

“Boleh aku tahu apa permohonanmu?”

Dengan mantap aku menggeleng, “ Ini rahasia antara aku dan Sirius,”

Sirius yang aku maksud adalah nama bintang yang dipercaya memiliki cahaya paling terang dalam ilmu Astronomi. Ini semua gara-gara dia. Dongeng tentang Sirius yang dia ceritakan 8 tahun yang lalu itu seolah sudah memiliki ruang khusus dalam kotak imanginasiku. Dan parahnya aku percaya.

Aku percaya jika Sirius itu adalah jelmaan dari dewa Apollo−yang orang Yunani anggap sebagai dewa cahaya. Konon, Sirius hanya muncul satu tahun sekali dan itu jatuh tepat pada hari dimana seluruh manusia merayakannya sebagai perayaan tahun baru. Pada hari itu, jika kita mengajukan permohonan, maka dewa Apollo akan mengabulkannya.

Dan entah kebetulan yang disengaja atau tidak, aku lahir di tanggal itu, tepat di malam tahun baru, 1 januari.

“Kita hitung mundur ya. 10... 9... 8...,”

Entah kenapa jantungku berdegup lebih keras.

“7... 6... 5...,”

Aku mulai memejamkan mata. Jemariku saling bertautan.

“4... 3... 2...1. Let’s make a wish!”

Hatiku lekas menggumam 1 permohonan yang sudah aku siapkan jauh-jauh hari. 1 permohonan sederhana yang aku yakin tidak akan menyusahkan dewa Apollo. Ini karena tahun lalu aku membuat begitu banyak permohonan dan tidak semua permohonan itu terkabul. Pikirku, mungkin karena dewa Apollo kerepotan dengan ratusan permohonan yang aku ajukan. Dan kali ini aku meringkasnya menjadi 1.

Hanya 1, kok, dewa Apollo.

Tiba-tiba terdengar bunyi letusan dan terompet dimana-mana. Mataku membuka dan aku sontak terpana dengan pemandangan spektakuler dihadapanku. Ada kembang api. Kembang api yang bermunculan layaknya cipratan cat warna-warni di kanvas hitam. Ini luar biasa. Ini... hadiah dari Tuhan yang tidak ternilai indahnya.

“Happy birthday to you... happy birthday to you... happy birthday, happy birthday, happy birthday, Naya...”

Aku menoleh. Belum selesai rasa kagumku pada keelokkan langit malam ini, dengan tiba-tiba lagi aku mendapat kejutan baru. Kamu berdiri disana, bermandikan cahaya lampu yang diatur sedemikian rupa pada sebuah papan putih membentuk kalimat “Happy Birthday”. Wajahmu bersinar, seperti Sirius di malam ini. Lalu kamu tersenyum. Aku sampai tak dapat berkata-kata dan hanya bisa berkaca-kaca.

“Cut Nayala Anggraini, selamat ulang tahun yang ke 16 ya. Semoga kamu semakin dewasa, semakin cantik, selalu sehat dan tidak kurang satu apapun. Dan oh ya, semoga permohonanmu pada sirius dikabulkan. Aku menyanyangimu. Selalu,”

Setelah kamu mengucapkannya, detik itu juga pipiku basah.

***

Malam ini dingin sekali. Sepertinya udara di rooftop rumah sedang tidak bersahabat. Tubuhku gemetar. Hidungku sampai meler beberapa kali. Tapi semua bisa aku tahan sebentar saja. Mungkin sampai kamu datang.

2 menit lagi.

2 menit lagi saat itu akan tiba. Aku butuh kamu untuk melengkapi semuanya. Cepatlah datang, Siriusku.

***

KRIIINGGG!!!

Telpon rumah berdering. Tidak ada orang di rumah selain aku. Sepertinya mbok Tarti sedang ke pasar. “Halo,”

 “Halo, Mbok. Naya ada?”

Aku mengenal suara itu. Seketika itu juga ide jahilku muncul. “Maaf, Mas Gilang, mbak Nayanya tadi kabur,”

“Hah? Kabur? Kabur gimana maksudnya, Mbok?”

“Ndak tau, Mas. Tadi dia tiba-tiba pergi bawa koper,”

“Serius? Mbok nggak becanda, kan?” terdengar nada panik dari kalimat itu. Perutku langsung geli.

“Kalo saya becanda, Mas, kan harusnya ketawa,”

“Mbok, tolong dong jangan main-main! Saya udah pusing sama pekerjaan di kantor. Saya nggak ada waktu becanda sekarang!”

Aku menyerah. Rasanya sakit sekali menahan ribuan semut yang menggelitiki perutku. Tawaku langsung meledak.

“Na... Naya?”

“Hahahaha. Serius amat sih, Mas Gilang. Jangan diambil pusing ah, nanti cepet tua. Hehehe,”

Hening di seberang.

“Mas, kok diem?”

Ada helaan nafas terdengar. “Naya, kamu tahu jantung aku udah mau copot,”

“Cie... kaget ya? Hahahaha,”

“Naya, ini nggak lucu. Aku panik, Nay. Tahu kamu seberapa khawatirnya aku? Tadi aku sempat kepikir mau beli tiket ke Jakarta saat ini juga begitu tahu kabar kamu kabur. Kamu tahu, kan, jarak Amsterdam-Jakarta itu nggak deket? Ribuan kilo, Nay! Dan aku yakin, kamu nggak kepikiran kalo aku bakal ketakutan setengah mati selama menempuh ribuan kilo itu. Aku takut kehilangan kamu, Naya. Aku takut,”

Hening kembali. Kali ini sunyi yang membungkam mulutku. Entah kenapa rasanya sakit sekali. Kata-kata itu... seperti pedang yang menusuk-nusuk ragaku. Perih. Mataku langsung panas.

“Ma... maaf,”

***

Perihal kabur, aku sudah sering melakukannya beberapa tahun yang lalu. Bukan tanpa alasan aku memutuskannya. Aku hanya merasa tidak enak. Ini bukan tempatku. Ini bukan “rumah”ku. Rasanya seperti orang asing yang terperangkap dalam pulau terpencil. Segalanya serba tidak nyaman.

Aku cuma ingin satu. Pulang ke rumah. Rumahku yang sebenarnya. Rumah tempatku dilahirkan. Kalo dipikir-pikir gampang saja. Aku tinggal pulang ke rumah dan hidup bahagia disana. Tapi masalahnya tidak sesederhana itu.

Aku tuna wisma. Rumahku hancur pada peristiwa tsunami Aceh 26 Desember 2004 silam. Segalanya terenggut saat itu. Tidak hanya rumahku, tapi juga jiwaku. Menyakitkan memang melihat begitu banyak jasad berserakan disekelilingku. Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan selain melihat ayah dan ibuku terjepit diantara timbunan batu bata dan beton sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena umurku baru 9 tahun saat itu.

Duniaku menjadi gelap. Tidak ada cahaya sama sekali. Aku seperti tidak punya harapan, tidak tahu kemana harus menuju. Semua orang berteriak tapi aku merasa kesepian. Hancur. Semuanya hancur. Rasanya paru-paruku sudah tidak sanggup beroperasi lagi sebagaimana mestinya. Mungkin sebaiknya Tuhan mencabut nyawaku saat itu juga.

Tapi ternyata Tuhan malah menggariskan takdir yang sebaliknya. Dia mengirim kamu. Seakan menjadi penerang diantara kabut duka pada hari itu. Kamu, dengan seragam kaos bertuliskan “Relawan PMI” membawaku keluar dari ruang gelap itu. Tidak hanya itu, kamu juga memberiku harapan baru dengan caramu yang unik. Dongeng tentang Sirius. Dongeng tentang harapan yang akan selalu muncul di malam tahun baru. Kamu menceritakannya dengan menggebu-gebu. Dan bodohnya aku percaya begitu saja.

Takdir menuntunku menuju rumahmu. Alasannya sederhana, kamu butuh teman disana. Rupanya kamu juga sebatang kara. Tapi berbeda denganku, ayah ibumu masih bernyawa. Hanya saja, jarak ribuan kilo yang memisahkan kalian. Kamu di Jakarta dan mereka di Amsterdam. Sedangkan aku? Aku dan orang tuaku terpisah oleh dunia yang berbeda. Kami tidak akan bertemu lagi selama aku masih memilih menapak jejak pada bumi.

Tahun berganti tahun, Sirius datang lalu pergi, luka itu pulih secara perlahan. Hidupku nyaris kembali sempurna. Kamu seolah menjadi perekat serpihan-serpihan bahagiaku yang berserakan. Entah kenapa, aku rela menunggui pintu itu sampai ralut malam, asal bisa melihat kamu datang sepulang kerja. Aku rela bangun lebih pagi, asal bisa memandang ekspresi lugumu saat tidur. Aku rela berpura-pura bahagia, asal bisa menikmati senyummu setiap saat.

Awalnya aku menduga ini hanya sebuah refleksi dari rasa nyaman yang kamu ciptakan. Namun seiring bertambahnya umur, aku merasa ada yang aneh. Ada sesuatu yang tumbuh, entah apa itu, yang lama kelamaan menyesaki seluruh ruang dihatiku. Seperti... rasa tidak ingin kehilangan. Apa ini sudah tidak normal?

Mungkin bisa dikatakan dalam batas kewajaran jika kamu bukan seorang lelaki yang 11 tahun lebih tua dariku atau jika kamu bukan seseorang yang baru aku kenal secara tidak sengaja dalam sebuah tragedi besar atau jika kamu bukan seorang pria yang sudah seharusnya memilih wanita dewasa sebagai pendamping hidup bukannya seorang gadis remaja yang masih bertingkah kekanakkan. Tapi pada akhirnya aku harus menyadari bahwa ini bukan negeri dongeng yang dengan mudahnya menyatukan cinta sang putri dan pangeran.

***

“Nay, aku mau ngasih tau kamu sesuatu,”

Malam ini tumben-tumbennya kamu pulang lebih awal dan mengajak aku makan malam di rumah. Menunya nasi goreng spesial ala mbok Tarti. Walaupun sederhana, tapi rasanya menyenangkan karena ini adalah momen langka. Bisa duduk berhadapan dengan kamu tepat pukul 7 malam seperti ini mungkin bisa dihitung dengan jari sangking jarangnya kamu pulang sebelum tengah malam.

“Wah, samaan dong! Aku juga mau ngasih tau Mas sesuatu,” ujarku dengan wajah semeriah mungkin.

“Oh ya? Tentang apa?”

Aku meletakkan sendokku dan beralih menopang dagu. “Tebak dulu!”

“Kamu baru beli boneka baru?”

“No!” senyumku merekah. Aku tau kamu tidak mungkin bisa menebak.

“Ada siaran ulang barbie di televisi?”

“Haha, bukan,”

“Terus apa? Kasih clue dong!”

“Sesuatu yang bakal bikin Mas kaget,”

Wajahmu berubah serius. Aku tahu kamu sedang memutar otak untuk menebak-nebak apa yang ingin aku katakan. Andai kamu tahu, semakin kamu mengerutkan keningmu, wajahmu semakin lucu. “Kecoa?”

“Kenapa mikir kesitu?”

“Ya terus apa dong?”

“Jadi nyerah nih?” tanyaku sambil mengerling nakal.

Kamu mengangkat tangan tanda menyerah.

Aku tersenyum penuh kemenangan. “Payah nih! Masa gitu aja nyerah. Jadi gini... sebenernya yang mau aku kasih tau itu...,” sengaja aku menggantungkan kalimat itu sambil mengamati ekspresimu yang terlihat dipenuhi rasa penasaran. Keningmu yang berkerut, alis tebalmu yang terangkat naik, mata coklatmu yang berubah membulat, hidungmu yang terlihat menahan nafas, lalu berakhir pada mulutmu yang menganga lebar—entah kenapa membuatku semakin terpesona. Denyut aneh ini terasa kembali. Denyut yang hanya muncul pada saat sorot mataku dan matamu bertemu pada satu titik. Sepertinya ketidaknormalan ini mulai muncul lagi.

“Hei, kok malah bengong?” seketika itu juga kamu membuyarkan khayalanku.

Aku nyengir. “Sebenernya.... aku punya kejutan buat Mas,” aku melihat perubahan air muka di wajahmu. Sebelum kamu membuka mulut, aku sudah menyambar lebih dahulu. “Dan kejutannya bakal ada pas malam tahun baru nanti, tepat saat aku berumur 17 tahun,”

Aku kira kamu akan memaksaku memberi tahu apa bentuk kejutan itu. Karena setahuku, kamu orang yang paling anti sama yang namanya kejutan. Kamu paling nggak suka dibikin penasaran. Tapi anehnya, kali ini kamu justru diam.

“Kok kelihatan nggak seneng sih?” aku manyun.

“Ng... nggak kok, aku seneng. Hehe,”

Entah kenapa aku mengendus ada yang tidak beres dengan dirimu, mungkin lebih tepatnya ada yang salah dengan rangkaian saraf di otakmu. Aku lihat dari tadi kamu lebih banyak mengunci mulut dan tidak sebawel biasanya. Kulitmu juga memucat. Apa jangan-jangan kamu sedang sakit?

“Oh iya, Mas mau ngasih tau apa?”

“Hah?

“Tadi katanya Mas mau ngasih tau sesuatu,”

“Oh... nggak jadi deh, hehe,”

***

Aku melirik jam tangan yang tidak aku kenakan. 30 detik lagi dan kamu belum juga menampakkan batang hidung. Rasa gelisah itu semakin menyeruak dan membuat pikiranku menjadi tidak karuan. Berbagai spekulasi muncul dalam benakku. Tapi aku menepisnya dan berharap kamu nyata ada disini saat ini juga.

Untuk mengusir sepi, otakku sedari tadi memutar memori lama dalam album kenangan antara aku dan kamu. Semuanya terasa menyenangkan. Terutama di tempat ini. Tempat rahasia yang menjadi penghubung antara aku, kamu dan Sirius. Sebuah rooftop yang cukup luas. Tidak ada barang satupun disana, bahkan lampu sekalipun. Ini yang sering aku keluhkan padamu. Aku butuh lampu karena aku takut gelap. Dan kamu tahu sebabnya. Trauma psikis.

Tapi setiap kali aku mengeluh seperti itu kamu selalu berkata bahwa semakin hari langit akan semakin turun dan suatu saat kamu bisa menggapainya hanya dengan berjinjit saja. Lalu ketika saat itu tiba, kamu berjanji akan memetik salah satu bintang di langit untuk kamu jadikan lampu di rooftop ini supaya aku tidak takut lagi. Aku boleh memilih bintang mana yang cocok untuk dijadikan lampu. Dan aku memilih Sirius.

Sirius, bintang ini sudah memberi kekuatan tersendiri untukku menjalani sisa hidup. Sejak tragedi itu, aku selalu menanti setiap malam tahun baru dan mempersiapkan permohonan-permohonan khusus beberapa hari sebelumnya. Malam tahun baru sudah menjadi malam sakral yang sangat amat berarti untukku. Ada 3 hal yang membuat malam itu begitu berharga.

Pertama, pada malam itu aku akan bertambah usia. Kedua, Sirius, bintang kesayanganku ini akan muncul dan aku bisa mengajukan permohonan padanya. Ketiga, ini yang sebenarnya menjadi alasan terbesar mengapa aku begitu menyukai malam itu, karena kamu akan meluangkan seluruh waktumu yang mahal untukku. Ya, hanya untukku. Tidak diduakan dengan pekerjaan kantor atau kesibukanmu yang lain.

Dan detik itu semakin mendekat. Dingin menusuk-nusuk kulit seakan sedang mengadakan konspirasi besar dengan alam untuk membunuhku secara perlahan. Tubuhku gemetar kian hebat. Aku butuh kamu. Aku butuh pelukmu. Aku mohon, sebentar saja datang kesini. Sebentar saja, kuatkan aku. Jadikan aku siap menghadapi kenyataan bahwa sebentar lagi kamu akan menjauh, sebentar lagi kamu tidak akan lagi bisa melewati malam tahun baru denganku, sebentar lagi dongeng sirius itu akan benar-benar lenyap dalam ingatanku.

Sebentar lagi, sebentar lagi, dan sebentar lagi...

Sejujurnya, aku belum siap mengganti kata sebentar lagi itu dengan saat ini.

***

Dear, Naya

Sebelum kamu membaca surat ini sampai akhir, aku ingin kamu tahu, bahwa aku tidak pernah berpura-pura menyayangimu. Aku benar-benar sayang kamu sejak awal Tuhan menggariskan takdirku menemukanmu. Kamu yang membuatku merasa memiliki hidup. Hidup yang dalam definisi kamusku berarti tidak lagi merasa kosong ditengah suara-suara berisik yang tumpang tindih dalam gendang telingaku.

Kalau aku boleh menganalogikan, kamu itu seperti crayon, punya banyak warna yang masing-masing warna mencerminkan 1 perasaanmu. Aku melihat warna biru saat kamu sedang tersenyum. Sejuk dan mendamaikan. Lain waktu aku bisa melihat warna merah saat emosimu sedang meledak-ledak. Atau warna hitam saat hatimu sedang dirundung kesedihan. Semua terlihat jelas, Naya. Terlalu jelas. Bahkan sampai saat kamu memancarkan warna merah jambu di setiap kali aku berada di sampingmu.

Naya... kamu itu perempuan terhebat yang pernah aku temui. Ketegaranmu menantang hidup adalah alasan mengapa aku berkata demikian. Aku kagum padamu. Dan entah atas dorongan apa, aku selalu ingin melindungimu, aku selalu ingin menjaga nyala mata itu, aku selalu ingin menjadi alasan di balik tawa riangmu.

Awalnya aku hanya berpikir bahwa selamanya aku bisa menjagamu karena kita satu atap. Tapi ketika hari itu datang, aku menyadari bahwa segalanya tidak sesederhana itu. Hari itu adalah hari dimana aku terjatuh pada hati perempuan lain. Namanya Claudia. Dia teman kecilku saat aku masih tinggal di Amsterdam. Dialah pencipta asli dongeng Sirius itu. Dongeng yang sebenarnya ditujukan agar aku tidak menangis ketika ayah dan ibu tidak bisa pulang ke rumah karena sibuk dengan urusan kantornya.

Aku tidak menyangka dongeng Sirius itu akan berefek besar pada kehidupanmu. Dan kehidupanmu adalah kehidupanku juga. Maka ketika kamu kembali menjadi kamu, aku pun seperti punya nyawa cadangan sehingga hidupku kembali hidup. Namun seperti yang kukatakan sebelumnya, semua ternyata tidak sesederhana itu. Aku tidak memikirkan akan hadirnya kehidupan lain yang kelak menjadi kehidupanku juga.

I’m so sorry Naya if what i wanna tell to you will hurt you much. Aku nggak bisa datang malam tahun baru nanti. Aku harus ke Amsterdam. Aku dan Claudia akan bertunangan. Sebenarnya berkali-kali aku ingin memberitahumu, tapi aku nggak sanggup. Aku takut akan merusak semua kebahagiaanmu bahkan sebelum hari H itu datang. Maafkan aku, Naya. Maafkan aku jika keputusanku tidak memberitahumu ini salah.

Dan aku ucapkan, selamat ulang tahun, Naya. Jadilah perempuan yang semakin dewasa, cantik hatinya, rupanya, maupun tingkah lakunya. Dari sini aku akan memohon pada Sirius untuk terus menjagamu karena aku tidak akan bisa lagi menemuimu sesering dulu.

Aku harap kamu mengerti, Naya. Aku menyayangimu, tapi aku mencintainya. Sekali lagi maaf.

 Gilang

***

“10... 9... 8...,”

Cut Nayala Anggraini, selamat ulang tahun yang ke 16 ya. Semoga kamu semakin dewasa, semakin cantik, selalu sehat dan tidak kurang satu apapun. Dan oh ya, semoga permohonanmu pada Sirius dikabulkan. Aku menyanyangimu. Selalu.

Mataku panas dan hatiku terasa disesaki sesuatu yang menyakitkan. Sakitnya melebihi hawa dingin yang begitu mencekam sedari tadi.

“7... 6... 5...,”

Aku takut kehilangan kamu, Naya. Aku takut.

Ada air disana, tertampung di kedua kelopak mataku. Semakin lama semakin menggunung dan rasanya perih.

“4... 3... 2... 1,”

Tes!

Kelopak mataku melemah dan air itu mengalir dengan indahnya seiring dengan munculnya kembang api berwarna-warni di angkasa gelap.

Aku harap kamu mengerti, Naya. Aku menyayangimu, tapi aku mencintainya. Sekali lagi maaf.

“Kamu yang nggak pernah ngerti, Gilang. Semua ini buat kamu,”

Saat itu juga aku menghapus seluruh make up yang menempel di wajahku. Bodoh!

*** 

Sirius, di ulang tahunku yang ke 16 ini, aku cuma mau memohon satu hal.
Kuatkan aku untuk mengatakan yang sejujurnya padanya nanti,
tepat saat aku berulang tahun yang ke-17,
bahwa aku mencintainya,
sepenuh hati.

Selasa, 04 Desember 2012

Weakness

You do it again.
Stare at me.
Then smile.



 And i've lost my heartbeat.

Jumat, 23 November 2012

Teman hidup

Tak pernah lelah aku menuliskan indahnya
Dia, penyempurna kelemahanku
Penguat ketika aku lelah menghadapi dunia
Tanpa perlu berbahasa 
Karena hati kita tersatukan rasa

Dia, pengukir setiap senyumku
Bersamanya aku tenang
Bersamanya aku tak perlu bimbang
Andai bahagia bisa diukur
Maka bumi ini adalah besarnya bahagiaku memilikinya

Aku dan dia adalah satu
Terjatuh atapun bangkit
Jemarinya tak pernah bosan menggenggam tanganku
Dan sebelah tangannya adalah sapu tangan
Yang selalu siap menghapus setiap air kesedihanku

Dia adalah doaku pada Tuhan
Teman hidupku
Dan kuharap selamanya akan begitu
Setidaknya sampai mataku tak mampu lagi menikmati teduhnya


Sincerely, your missing rib



Minggu, 04 November 2012

Siluet

P.s: baca cerita dibawah ini sambil dengerin lagu berikut, biar feelnya dapet :)



“DASAR LELAKI BIADAB!!! KAMU PIKIR SAYA NGGAK BISA HIDUP TANPA KAMU!!!”

“Oh ya? Coba buktikan! Aku nggak yakin kamu bisa, HAHAHA,”

“BRENGSEK!!!”

“Sudahlah, Ndah. Semua makhluk di bumi ini juga tahu hidup kamu itu bergantung sama aku,”

“Dari awal seharusnya saya sadar kalau kamu itu PENGECUT!!!”

“Pengecut? Hei, aku tahu kamu juga nggak tahan merawat anak sial itu!”

PLAK!!!

***

Cekrek!

Aku memutar ganggang pintu perlahan. Rupanya tidak dikunci. Hatiku jadi semakin cemas tidak karuan. Pasalnya, tidak biasanya dia menelponku dan menyuruhku segera menuju ke rumahnya.

Dari luar, rumah itu terlihat sepi. Jujur, aku selalu mengagumi rumah bergaya minimalis dengan pemandangan pantai itu. Pekarangannya yang indah, jalanan yang selalu sunyi, dan suara ombak yang bergemuruh seakan ingin mengajak orang-orang yang mendengarnya melelapkan diri kedalamnya.

Dan begitu aku melangkahkan kaki memasukinya, aku terkejut setengah mati. Suasana didalam 180⁰ lebih menakutkan dan mengerikan. Mungkin benar kata orang, rumah itu penuh misteri yang tidak pernah terpecahkan sejak berabad-abad lamanya. Gelap. Hening. Sangat berantakan. Yang terdengar hanya deru ombak memanggil-manggil.

Mataku terus mencarinya. Jantungku berdegup lebih cepat seperti pelari maraton yang dipaksa lari 100 putaran stadion Gelora Bung Karno. Gila, ini gila. Bulu kudukku langsung berdiri. Lututku terasa lemas, padahal aku tidak mengidap arthritis. Aku berharap dia baik-baik saja. Tapi dia dimana?

Setelah 15 menit aku mengitari isi rumah itu, entah mengapa tiba-tiba langkahku tertuntun menuju pintu kaca belakang rumah yang tebuka lebar. Seperti ada yang menarik-narik kakiku dan memberitahu dia ada disana.

Dan ternyata memang benar. Dia disana. Duduk di ujung sebuah jetty yang terbuat dari kayu menuju laut lepas yang keindahannya tiada tara. Dia tidak terlihat, hanya tampak seperti siluet yang membaur dalam sunset. Siluet terindah yang pernah ada di muka bumi.

Siluet itu bernama Tasya. Gadis cantik berwajah tirus dengan rambut pendek sebahu. Aku lupa kapan pertama kali mengenalnya. Yang aku tahu, setiap hari dia mampu mencuri seluruh memori otakku sampai aku nyaris gila.

Seperti saat ini.

Aku melewati pintu kaca itu dan melangkah perlahan dengan perasaan yang campur aduk. Aneh. Ini semua terlalu aneh. Aku merasa ada yang janggal. Di setiap kayu yang menjadi pagar pembatas jetty ini terikat balon-balon berwarna putih. Lalu pada kayu yang aku injak terlihat banyak jejak kaki berwarna merah.

Putih? Merah? Pertanda apa ini?

Pikiranku langsung tertuju padanya. “Tasya!”

Dia menoleh. Hening sesaat. “Sini,” Tangannya menepuk-nepuk kayu disebelahnya pertanda aku harus duduk disana.

 “Kamu kenapa disini sendirian?”

“Tasya pengen lihat sunset,” ada seulas senyum tipis diantara kedua pipinya yang tirus.

Aku tahu, dia memang pengagum nomer satu fenomena tenggelamnya matahari. Dia selalu cerita, andai dia punya kesempatan kedua, dia mau terlahir sebagai matahari yang punya cahaya terbesar segalaxi bimasakti. Tapi menurutku, dia tidak perlu berpikir demikian.

Karena dia memang matahari.

“Kamu nggak papa, kan?” aku serius mengkhawatirkannya.

Hening kembali. Dia mengayun-ayunkan kaki sampai ujung kakinya menyentuh air laut dan membentuk gulungan ombak kecil.

“Tasya?”

“Mereka teriak lagi. Tasya benci mereka,”

Aku tahu siapa yang dia maksud.

“Mereka jahat! Sampai kapan mereka mau teriak di depan Tasya? Tasya salah apa? Mereka nggak perlu sayang sama Tasya. Tasya cuma pengen mereka diem,”

Aku menggenggam tangannya. Erat. “Kamu jangan takut, ada aku disini,”

“Tasya nggak takut. Sekarang mereka udah diem kok. Selamanya. Selamanya Tasya nggak bakal denger suara mereka lagi. Hehehe,”

Keningku berkerut. “Maksud kamu?”

Tiba-tiba angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Segerombol awan hitam berjalan dan merusak pemandangan sunset yang begitu indah sore itu. Ditambah suara petir yang menggelegar membuat suasana menjadi kelabu dalam sekejap. 



Dia tersenyum. Senyum termengerikan yang pernah dia tunjukkan untukku.

“Tasya, apa yang udah kamu lakuin?”

Dia diam tapi tatapannya tertuju pada genggaman tanganku. Entah feelingku yang salah atau bagaimana, tapi tatapan itu seakan menjadi pertanda bahwa jawaban dari pertanyaanku ada disana. Aku melepaskan genggamanku perlahan.

Merah. Ada warna merah lagi.

Mataku terbelalak kaget. YA TUHAN! Ini... ini... “Darah?” aku manatap nanar telapak tanganku yang berlumuran darah. “Tasya, kamu...?” belum sempat aku bertanya, dia kembali memberiku kejutan lain.

Tangannya terayun kedepan. Jari telunjuknya menunjuk sesuatu. Sesuatu disana, di tengah laut. Mengambang. Terseret ombak kesana kemari. Itu...

Astaga! Itu manusia! Ya, aku yakin aku tidak salah lihat. Itu manusia. 2 manusia yang sudah berwujud mayat.

Aku terlonjak kaget. Refleks aku berdiri dan menjauh dari gadis itu. “Kamu... Kamu membunuh mereka? Kamu gila, Sya!”

Lagi-lagi dia tersenyum. Sial! Itu bukan senyum Tasya. Dia pasti sedang dimasuki roh halus. “Apa kamu bilang? gila? Kamu bilang Tasya gila? Hahaha,” dia bangkit dari tempat duduknya. Lalu kejutan ketiga muncul dan sukses membuat jantungku terlepas dari posisinya.

Putih lagi. Lalu merah. Dress baby doll putihnya berlumuran darah. Tiba-tiba kakinya melangkah mendekatiku, meninggalkan jejak berwarna merah. Merah lagi. Lalu putih. Wajah itu memutih. Pucat. “Iya, KAMU GILA! Ini sudah gila namanya! KETERLALUAN!”

“KAMU YANG GILA! Belum sadar juga? HAHAHA,” dia tertawa terbahak-bahak seperti mendapatkan energi petir yang berebut bersahut-sahutan. Bulu kudukku kembali berdiri. Aku hendak mundur tapi langkahku terpentok pada pagar kayu pembatas jetty. Sial! Kalau aku mundur selangkah lagi, aku akan jatuh ke laut.

“PERGI! PERGI KAMU DARI SINI! KAMU EMANG UDAH BENAR-BENAR NGGAK WARAS!”

“Hei, yang nggak waras itu siapa?” Dia mengepungku. Semakin lama semakin mendekat, sampai tangannya berhasil membelai pipiku. “Rendy sayang... kamu pikir Tasya nyata?”

“Hah?” keningku berkerut lagi. Apa-apaan ini?

“Kamu belum sadar ya kalau kita satu? Tasya itu kamu. Kamu itu ya Tasya. Jiwa kita sama. Kalau menurut kamu Tasya gila, sesungguhnya kamu yang gila,” kali ini tangannya mengelus rambutku.

Kepalaku mendadak sakit. Sakit sekali. Dia pasti melakukannya lagi. Dia hendak mencuri seluruh memori otakku. Ya Tuhan, tolong hentikan ini! Sakit Sekali... “AAAARRRGGHHH!!!”

Berisik.

............................................ lalu hening.

Pandanganku mengabur. Semua berputar. Aku tersedot dalam mesin waktu. Lalu aku tersadar. Sekelilingku sepi. Aku dimana? Putih. Semua putih. Tidak ada apa-apa disana. Yang ada hanya sebuah layar besar yang sedang memutar sebuah film.


Adegan 1

Sebuah taman. Tasya disana. Duduk disebuah ayunan dengan wajah yang begitu gembira. Hei, ada aku juga!

“Kamu mau es krim?” kataku sambil menyodorkan es krim cone rasa vanilla.

“Mau!” dia meraihnya lalu menjilatnya dengan penuh keceriaan. “Hmm, enak,”

Aku memandangnya. Cukup lama. “Sya, kamu punya mimpi nggak?”

“Punya,”

“Apa?”

“Tasya pengen jadi matahari,”

“Matahari?”

“Tasya pengen bercahaya, Ren. Tasya pengen nggak ada orang yang takut gelap lagi karena Tasya,”


Adegan 2

Sebuah ruang tamu dalam rumah bergaya minimalis. Ada 2 aktor disana. Seorang pria—kekar, berwajah garang, berkumis, memakai kaos oblong dan jaket kulit dengan seorang wanita yang mungkin 5 tahun lebih muda dari si pria—cantik, rambut panjang dan dicepol asal, memakai daster berwana biru langit. Wajahnya mirip denganku.

“DASAR LELAKI BIADAB!!! KAMU PIKIR SAYA NGGAK BISA HIDUP TANPA KAMU!!!”

“Oh ya? Coba buktikan! Aku nggak yakin kamu bisa, HAHAHA,”

“BRENGSEK!!!”

“Sudahlah, Ndah. Semua makhluk di bumi ini juga tahu hidup kamu itu bergantung sama aku,”

“Dari awal seharusnya saya sadar kalau kamu itu PENGECUT!!!”

“Pengecut? Hei, aku tahu kamu juga nggak tahan merawat anak sial itu!”

PLAK!!! Si wanita menampar si pria. Lalu terdengar suara tangisan.


Adegan 3

Sebuah pintu besar. Tiba-tiba pintu itu terbuka. Kamera menyorot 2 orang sedang berbincang-bincang di dalam. Seorang lelaki berjas putih dengan seorang wanita yang tidak terlihat karena membelakangi kamera.

“Dia mengidap schizofrenia,” kata si lelaki berjas putih.

“Schizofrenia?”

“Ya, schizofrenia. Sejenis gangguan jiwa yang sangat hebat. Perasaan, pikiran, dan perbuatannya menjadi terpecah dan telihat tidak serasi. Kadang dia bisa tertawa padahal hatinya sedang sedih, atau sebaliknya. Terlihat tidak sinkron dan sering berubah-ubah,”

Hening.

Si wanita menunduk.

“Bu, apa anak Ibu pernah berkata bahwa dia melihat sesuatu yang Ibu tidak lihat atau mendengar sesuatu yang tidak Ibu dengar?”

“Sering, Dok. Dia sering berkata bahwa dia melihat gadis cantik sedang duduk di ujung jetty rumah kami setiap sore. Saya juga sering melihat dia seperti berbincang dengan ‘sesuatu’ yang tidak saya lihat,”

“Sudah saya duga,” lelaki berjas itu menyandarkan punggungnya pada kursi, “Penderita schizofrenia memang sering mengalami halusinasi. Mereka menciptakan sosok-sosok sendiri dalam khayalan mereka yang mungkin akan terus menghantui sepanjang hidup mereka,”

“Apa dia bisa sembuh, Dok?”

“Bisa, tapi sulit. Karena...,” kalimat lelaki berjas putih itu menggantung setelah melihat ke arah kamera.

Beberapa detik kemudian, si wanita menoleh, mengikuti arah pandangan si lelaki berjas putih. Ternyata dia wanita yang sama seperti pada adegan kedua.

“Re... Rendy?”


Adegan 4

Lokasi sama seperti pada adegan kedua. Tapi kali ini di dalam sebuah kamar. Ada aku dan wanita tadi. Aku terbaring diatas ranjang sedangkan si wanita duduk disampingku dan mengelus-elus rambutku lembut. Matanya bengkak dan berair.

“Semua akan segera membaik, Sayang. Ibu akan menjagamu dan tidak akan membiarkan orang lain membuatmu terluka. Bahkan ayahmu sendiri. Ibu berjanji, selama nafas Ibu masih berhembus, Ibu tidak akan membiarkan lelaki itu menyentuh dan menyakitimu. Karena kamu anak Ibu satu-satunya. Anak kebanggaan Ibu. Ibu sayang kamu,”

Wanita itu mengecup keningku.


Adegan 5

Tasya. Dia berdiri di ujung jetty. Angin membuat rambut dan dress baby dollnya bergerak-gerak. Sekilas aku melihat dia tersenyum lalu melambaikan sebelah tangannya.

Kemudian dia membalik badan. Tiba-tiba semua menjadi buram dan berkabut. Lama kelamaan dia hanya terlihat seperti sebuah siluet. Siluet dalam kegelapan. Semakin lama semakin kabur dan menjadi tidak terlihat.

Lalu hilang. Tasya menghilang.


Adegan 6

Kali ini rasanya aneh. Adegan ini terasa nyata karena yang menjadi aktor satu-satunya adalah aku.

Aku berada di sebuah jetty. Sepi. Tidak ada siapa-siapa disana. Nafasku tersengal-sengal dan seluruh tubuhku merinding. Aku berlumuran darah. Wajahku, badanku, tanganku sampai kakiku yang meninggalkan jejak berwarna merah. Aku tersentak lalu melihat kesekelilingku. Banyak cipratan darah dimana-mana. Bahkan sampai balon-balon putih yang terikat di pagar kayu pembatas jetty berubah warna menjadi merah.

Aku mundur beberapa langkah sampai aku terjatuh karena menabrak sesuatu. Sesuatu yang besar. Aku mengucek mataku. Tidak mungkin, aku pasti salah lihat. Aku kucek sekali lagi. Dua kali. Tiga kali. Dan semua semakin terlihat jelas.

Aku..................................... aku menabrak mayat!

2 mayat yang ditumpuk. Mayat pria dan wanita yang terdapat pada adegan kedua. Dan didekat mayat-mayat itu—tepatnya di ujung kakiku—ada sebuah pistol tergeletak. Aku lekas mengambil pistol itu. Kalau-kalau si pembunuh itu muncul, setidaknya aku bisa membunuhnya terlebih dahulu.

Sedetik...

Semenit....

................................ beberapa menit berikutnya, tidak juga ada yang muncul.

Aku memandang pistol itu lekat. Lalu tatapanku tertumbuk pada mayat-mayat itu. Pistol... mayat... pistol... merah... darah...

Aku... aku yang membunuh mereka?

Tidak mungkin. Rasanya ini mustahil. Bagaimana mungkin aku membunuh mereka tapi aku tidak sadar?

Aku membunuh mereka.

Aku membunuh.

Aku pembunuh.

Aku... pembunuh?

Hatiku bergemuruh. Pistol ini... aku membunuh mereka dengan pistol ini. Nafasku menderu dan mataku panas. Apa yang sudah aku lakukan? APA YANG BARU AKU LAKUKAN, TUHAN?

Jemariku menekan pemantik pistol lalu mengarahkannya...................................
 ............................................ke pelipisku.

Dan yang terjadi selanjutnya, aku tidak tahu...

***

HEADLINE NEWS:

JAKARTA— Seorang pemuda penderita gangguan jiwa tewas bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri setelah membunuh kedua orang tuanya.

-THE END-

Kamis, 25 Oktober 2012

Sinyal Hujan




Sore ini, seharusnya cahaya orange yang merambat memasuki jendela kamarku. Tapi awan hitam menutupinya dan membuat segala sesuatunya menjadi lebih gelap. Anehnya, ada perasaan bahagia yang mencuat setiap kali aku melihat mendung membungkus matahari. Itu artinya hujan akan segera turun. Dan itu juga berarti dia akan segera muncul.

Yah... setidaknya dalam pikiranku sendiri.

***

5 tahun yang lalu...

Hujan turun tidak terlalu deras. Aku menikmati setiap rintiknya sambil membekap tanganku dalam saku jaket. Dinginnya sungguh luar biasa. Kalau saja besok tidak ada ujian statiska, pasti aku sudah menerobos hujan sedari tadi. Mungkin terdengar sedikit kekanak-kanakan, tapi aku suka hujan-hujanan. Membiarkan setiap tetesnya jatuh diatas kepalaku adalah salah satu caraku mencintai hujan. Aku suka hujan. Sangat suka.

Cekrek!

Aku menoleh dan mendapati seorang lelaki yang lebih tinggi dua jengkal dariku sedang memainkan kamera canonnya. Posisi berdirinya tidak jauh dariku. Mungkin hanya satu meter.

Cekrek!

Dia memotret sekali lagi. Dua kali. Tiga kali.

“Kamu suka hujan?”

Sekilas aku melihat ekspresi terkejut dari wajahnya, lalu dia menoleh. Dingin, itulah kesan pertama yang aku tangkap dari mimik mukanya saat menatapku untuk kali pertama. Ada jeda hening yang cukup lama sampai akhirnya dia membuka mulut.

“Suka banget,” jawabnya singkat lalu kembali asyik memotret sesuatu diatas kepalanya. Mataku mengikuti arah bidikan lensanya. Genteng.

Keningku berkerut. “Kok hujannya di foto?” Baru kali ini aku menemukan seseorang yang sebegitu sukanya sama hujan sampai diabadikan dalam lensa kamera.

“Biar bisa ngelihat hujan setiap hari,”

“Kenapa nggak dirasain aja?” Aku memejamkan mata dan mulai merasakan jiwaku bersatu dengan hujan. “Ngerasain hujannya harus pake hati. Rasanya tenang, damai, semua masalah seakan tiba-tiba menghilang. Terus tarik nafas perlahan. Cium bau hujan. Hmmm... rasanya seperti kembali hidup,”. Aku membuka mata dan mendapati dia memperhatikanku dengan seksama. Aduh, jadi malu.

Dia tersenyum, aku pun meralat perkataanku bahwa dia adalah manusia dingin. Dia nggak dingin, tapi sejuk. Senyumnya teduh. “Setiap orang punya cara masing-masing buat nikmatin hujan,”

“Ah, aku setuju banget!”

“Kamu mau tahu nggak cara lain yang asyik buat nikmatin hujan?”

“Emang gimana?”

“Minum teh susu hangat. Mau coba?”

“Sekarang?”

“Mumpung masih hujan,”

Detik berikutnya meluncur di luar perkiraanku. Aku baru mengenalnya. Namanya Adit. Dia anak jurusan teknik sipil yang kampusnya bersebelahan dengan kampusku. Hobbynya fotografi dan hujan adalah objek kamera favoritenya. Menurutnya, hujan dan teh susu hangat adalah kolaborasi paling top yang nggak ada tandingannya. Dan aku setuju setelah mencobanya di cafetaria kampus bersamanya.

Aku nggak nyangka, hujan akan mengikat kami sedemikian dekat. Walaupun beda kampus, tapi saat hujan turun, dia rela berlari menuju kampusku dan mencariku. Lalu kami ngobrol dan membicarakan apa saja sambil menikmati secangkir teh susu hangat. Begitu seterusnya. Hujan seakan sudah menjadi sinyal bahwa kami harus bertemu.  

Sampai suatu ketika hujan kembali turun...

Aku mengaduk-aduk teh susu hangatku sambil meresapi “rasa hujan” yang begitu nikmat. Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke dalam handphoneku.

Sender: Hujanku
Maaf telat, Sayang. Masih ada dosen nih. Diluar hujan ya? Cieee, pasti kamu kegirangan deh.

Seketika itu juga aku memandang hujan. Entah kenapa sebersit senyum terbit dari dasar hatiku. Aku tahu, hujanlah yang membawa kebahagiaan itu. Tanganku merogoh sesuatu dalam tas. Sebuah note dengan pulpen yang aku selipkan di ulirnya. Jemariku pun mulai menari diatas kertas yang masih suci.


Aku menyebutnya hujan.
Bulirnya meneduhkan bahkan sampai ke relung yang terdalam
Bersamanya aku menemukan duniaku
 Bolehkah aku menyimpannya?
Setidaknya untuk ku kenang sendiri.

“Raina!”

Mendengar namaku dipanggil, mataku langsung teralih pada sumber suara. Aku terkejut sepersekian detik.

“Adit!”

Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti saat kami bertemu. Senyum teduh yang mampu menghujaniku dengan berjuta-juta kekaguman. Tapi bedanya, kali ini senyum itu bukan untukku.

“Kamu udah nunggu lama ya? Maaf banget ya, tadi dosennya ngaret,”

“Nggak papa kok. Nih, aku udah pesenin kopi kesukaan kamu,”

“Terima kasih, Sayang,”

Aku tersenyum lalu melirik beberapa senti ke arah meja di belakang mejaku. Dia disana, masih dengan teh susu hangatnya. Ada suara gelak tawa perempuan yang terdengar membaur dengan bunyi hujan. Sepertinya, dia sudah menemukan “hujan”nya. Begitu juga dengan diriku.

Tiba-tiba dia memiringkan kepalanya sedikit dan mata kami bertemu pada satu titik. Jujur, saat itu degup jantungku mulai kacau. Lalu dia menarik bola matanya ke atas—ke arah hujan, dan kembali menatapku pada detik berikutnya. Entah atas sinyal apa, kami tersenyum berbarengan.

Ah, aku tahu, itu sinyal dari hujan.

Bukankah hujan yang membuatku menemukannya?

***
“Kalau hujan, jangan galau mulu!”

“Dih, siapa yang galau?”

“Lah, itu, ngapain kamu berdiri dipinggir jendela?”

“Aku cuma inget kita waktu dulu,”

“Kenapa? Dulu aku ganteng ya?”

“GR! Sini teh susunya!”

“Nih! Dua cangkir teh susu hangat plus suara hujan, romantis banget ya? Happy anniversary, Raina! I love you,”

“Love you too, Adit!”

-THE END-

Kamis, 18 Oktober 2012

Kepo allert

Selama ini gue nyangka, orang macem gue yang sifat kepo-nya udah mendarah daging sampai menusuk ke tulang belulang (halah!), selamanya bakal cuma bisa mengepoi orang dan akan terhindar dari kekepoan orang lain. TAPI SEMUA SALAH TERNYATA, HAHAHAHA. Saya terkepoi, Sodara-sodara! TERKEPOI!!! Dan ini termasuk aib dalam dunia perkepoan. Hani bersabda "Barang siapa yang sudah terkepoi, niscaya anda termasuk MANUSIA LEMAH!". That's mean include me :(

Akhirnya Hani Teguh membuat sebuah quote:

"TIDAK ADA MANUSIA YANG BISA BEBAS DARI SIFAT KEPO, BAIK ITU MENGKEPOI ATAUPUN TERKEPOI, MAKA BERHATI-HATILAH. KUATKAN BENTENG PERTAHANAN SELAMA MEMILIH HIDUP DI DUNIA MAYA"

Sekian.


Sabtu, 06 Oktober 2012

Abaikan postingan ini

"Aneh banget sih lo, Han!"
"Mimpi apaaaa gue punya temen seaneh lo,"
"Lo itu cewek paling freak yang pernah ada di muka bumi!"

Kutipan kata-kata diatas itu berkeliaran di pikiranku akhir-akhir ini. Mereka bilang aku aneh? Aneh apanya sih? Berkali-kali garuk-garuk pantat tetep aja nggak nemu jawabannya. Help! :(

Coba deh pikir, apa aneh kalo kamu...
1. Anak kedokteran tapi males cuci tangan sebelum makan
2. Ngaku cewek tapi hobby melihara bulu ketek
3. Bangga pamerin sendawa di depan gebetan
4. Pengen diet tapi apa aja diembat
5. Suka sok jalan di catwalk kalo udah ketemu kaca di kamar
6. Joget-joget eksotis kalo denger lagu nge-beat
7. Fans Kangen Band *serius*
8. Sering kentut, bau, tapi jago nyembunyiin dari orang-orang
9. Gampang GR! gampaaaaaang banget :(
10. Ngeluh, ngeluh dan ngeluh. Tiada hari tanpa ngeluh
11. Doyan stalking. Bahkan stalking-in tukang somay depan sekolah juga pernah
12. Kalo mandangin orang-orang bercengkrama, pasti di otak ini udah bikin coversation sendiri
13. Sangat amat cinta film drama cinta-cintaan
14. Selalu merasa menyatu dengan alam. #apeuh
15. Ngupil kalo belom dapet upilnya nggak bakal nyerah walau harus berdarah. Hidup upil!

Itu bukan aneh kan? Aku masih normal kan? Tolong, katakan kalo aku masih normal, Fernando! Hiks :'(

Sabtu, 25 Agustus 2012

In love with him (i mean his character)

Semua berawal dari kebiasaan gue ngelamun waktu nyetir motor malem-malem. Waktu itu yang ada dipikiran gue, gue pengen bikin 1 tokoh cowok buat bakal calon novel gue nanti. Tokoh ini harus punya karakter kuat dan real di mata gue. Itu artinya dia harus benar-benar nyata, dia harus benar-benar ada, dia adalah orang-orang disekeliling gue. Gue coba berpikir keras.

Awalnya si A yang humoris, apa adanya, luar biasa dalam hal sosialisasi, dan penuh kejutan. Gue pikir, karena gue deket sama tokoh ini, gue nggak perlu kerja keras buat nyari tau tentang dia. Gue tau hampir semua tentang makhluk ini. Tapi pada akhirnya gue coret karena gue pikir tokoh ini kurang............... apa ya? kurang greget gitu loh.

Lalu imajinasi gue beralih ke si B. Sifatnya jaim, sok romantis, suka mendem apa yang dia rasain, sabar luar biasa sama hidupnya yang keras, kadang childish, sempat menarik perhatian gue. Tapi langsung gue coret, karena jujur aja gue nggak suka sama sifat "childish"nya. Sifat kayak gini nih yang bikin hampir semua cewek ilfil. Termasuk gue yang anti-banget-cowok-childish.

Otak gue terus mikir. Memory SMA pun terputar kembali. Dan nggak tau kenapa, tiba-tiba otak gue stuck sama tokoh itu. Sebut saja si C. Sempet gue ragu karena gue sama sekali nggak kenal cowok ini. Ngobrol aja nggak pernah, paling cuma ngomong satu dua kalimat. Tapi sebersit keyakinan muncul. Gue yakin cowok ini punya "sesuatu" yang tersembunyi dan nggak banyak orang tau. Sifatnya yang cuek dan terkesan kayak nggak pernah punya masalah—jujur bikin gue penasaran.

Pas nyampe rumah, gue buka internet. Sinyal "kepo" gue udah mencapai puncaknya. Awalnya gue coba kepo lewat twitter, nggak banyak yang gue dapet dari sini. Terus gue coba search lewat google. Gue nemuin formspringnya. Dari sini gue mulai menebak beberapa sifat dan karakternya. Tapi rasanya ada yang kurang, akhirnya gue coba search lagi di google dengan keyword yang gue tambahin selain namanya. Entah kenapa gue ngetik "......... (nama si C) blogspot" di kotak search google. 

And TARAAAAA, i found that! i found his blog, a place where he usually pour the content of his mind and heart. Dan sumpah, tulisan-tulisannya di blog itu benar-benar bikin gue bengong, mangap, nahan napas, bahkan sampe lupa ngedip. Dan yang terparah, ada satu tulisan—he said that he cried when he wrote that—yang sukses bikin gue ngapusin air yang tumpah dari mata gue sama daster gue. Berkali-kali tanpa sadar gue gucapin "Oh God, gue baru tau dia orangnya kayak gini....,". Gue bener-bener tenggelam dalam setiap rangkaian kata-katanya yang lepas dan apa adanya dia, seakan gue ada di dunianya yang nggak banyak orang tau.

Sampai di tulisannya yang terakhir, gue akhirnya berani mendeklarasikan, "I'm totally in love with his character and lock him to be my main figure in my novel soon,"

Senin, 13 Agustus 2012

Cerita malam

Mungkin tidak ada yang tahu, sudah sejak lama saya mengagumi malam. Menikmatinya seorang diri adalah satu hal yang selalu ingin saya lakukan setiap hari. Karenanya, saya rela diam-diam menyelinap ke luar rumah dan berjalan tak tentu arah dengan motor butut kesayangan saya. Saya tahu resikonya, orang tua saya akan marah besar. Saya anak perempuan harapan mereka, keduanya tak ingin saya terbawa oleh kerasnya dunia malam. 

Tapi saya tidak sepenakut mereka. Saya dan malam adalah sahabat. Kami sering bertukar cerita. Mungkin dalam konteks bernama realitas, saya lah yang selalu bercerita. Cerita apa saja, bahkan tanpa perlu bersuara sedikitpun, malam akan selalu menjadi pendengar yang setia.

Kemarin, saya kembali menemui malam setelah sekian lama...



Udara berhembus menampar wajah saya. Rasanya jauh lebih nikmat daripada meringkuk diatas kasur paling empuk sedunia sekalipun. Semua masalah seakan tertarik keatas, menguap menuju awan hitam yang membelenggu langit. Badan pun terasa seringan kapas. Tanpa sadar, saya tersenyum sepanjang perjalanan random hari itu.

Sekelebat memori melintas di otak saya. Entah itu kejadian yang telah lampau atau yang baru saja terjadi. Yang jelas saya menikmatinya, seakan sedang menyaksikan putaran film di bioskop. Saya lah sang sutradara, scriptwriter, aktris sekaligus penontonnya. Bukankah itu menyenangkan?

Tiba-tiba sebuah lagu terputar dalam otak saya. Lagunya The Triangle - How could you ini benar-benar bikin saya meleleh dan galau luar biasa. Love this song so much! No doubt :)

How could you - The Triangle by hani aqmarina

Jumat, 20 Juli 2012

Finally, thank you Gagas Media

Sebenarnya ini target kecil yang gue pasang kira-kira setahun yang lalu, yaitu cerpen gue muncul di blog gagas media ( http://blog.gagasmedia.net/). Emang sih dari pihak gagas media nggak ngasih embel-embel uang, tapi seenggaknya cerpen gue berhasil tembus dari para editor yang bekerja di penerbit itu. Menurut gue itu udah ngasih kepuasan sendiri buat penulis yang masih super duper amatir kayak gue.

Gue ngirim tiga cerpen. Cerpen pertama, sampai nunggu berbulan-bulan, nggak ada balasan ataupun kemunculannya di blog gagas media. Begitu juga dengan cerpen kedua yang gue bikin sekitar 3 bulan setelah cerpen pertama. Sampai akhirnya cerpen ketiga, dimana gue udah bener-bener pasrah sama hasilnya dan gue udah males ngecek cerpen-cerpen yang muncul di blog itu.

Tapi pagi ini, setelah solat subuh, entah kenapa gue iseng buka blog itu lagi. Dan SUBHANALLAH, CERPEN GUEEEEEEE NONGOL DISITU!!!! KYAAAAA!!!


Nama gue ada disitu juga. OH GOSSSHHH!!! Gue hampir sesak nafas ngelihatnya :')


Bener-bener luar biasa berkah Ramadhan. Thank you Allah. Setelah ini, gue janji bakal belajar nulis yang lebih baik lagi. Sampai akhirnya mimpi besar gue terwujud yaitu nyiptain 1 novel hasil karya gue sendiri. Aamiin :)

Kamis, 12 Juli 2012

Nafas pertama di umur 20

The last june on 2012

Haaaah, rasanya campur aduk begitu gue bangun dihari pertama umur gue menginjak angka kepala dua. Hei dude, i'm twenty now! twenty loooh!!! Twenty means gue udah nggak pantes bertingkah kayak anak kecil lagi. No more egois. Yaaah, walaupun gue tau, egois termasuk sifat bejat yang sudah merajalela dalam darah gue. Istilahnya, egois itu ya gue, gue itu egois. Gue tau, selama ini banyak orang yang kesel sama sifat egois gue. Terutama keluarga gue. Kerasa banget loh!!! Walaupun mereka nggak menyatakan secara terang-terangan, tapi gue sadar kok waktu penyakit gue itu kumat. Dan hebatnya, mereka masih tahan sama sifat gue yang so childish ini :') That's the reason why i must say thanks to God for giving them in my woderful life. Mereka keluarga terhebat yang pernah saya miliki. I wanna send kiss attack from here. MUAH!

And for the best gift from God called friends, terima kasih banyaaaak guys!!! Hidup gue bakal kayak tv jaman baheula—just black and white—kalo nggak ada kalian. Gue tau, gue ini emang super duper nyebelin. Ngomong suka nggak dijaga, bikin kalian bete, kesel, marah, dongkol, jengkel, jengkol (#eh?), tapi kalian tetep mau nemenin gue, ngasih gue hidup yang mejikuhibiniu, dan secara nggak langsung ngasih gue banyaaaaak banget pelajaran hidup yang nggak bisa gue dapetin dibangku sekolah atau kuliah :)

The last but not least, thanks Allah, the only God i have, for amazing life and love that you give to me. Dan terima kasih buat nafas pertamanya di umur 20 tahun ini :)

Sabtu, 09 Juni 2012

Sketch in the middle of night

2 sketsa dibawah ini saya buat benar-benar di tengah malam. Entah tiba-tiba ide itu muncul dan tangan saya gatal untuk mencoret-coret kertas HVS yang ada di depan mata saat itu. I know, i'm not an expert in design outfit, it just one of my hobbies :)




Ah, ketauan banget ya amatirnya? Hehehe

Sabtu, 19 Mei 2012

Kenapa namanya "cinta monyet"?

Cinta monyet itu apa sih? Kenapa ya namanya "cinta monyet"? Kenapa nggak cinta uler atau cinta kecebong? Sumpah ini awkward question yang akhir-akhir ini menuh-menuhin otak gue. Ada yang bisa jawab?



Ngomong-ngomong soal cinta monyet, gue mau cerita ah soal pengalaman cinta monyet jaman baheula. Jaman SD sama SMP, jaman-jamannya gue bermetamormofosis dari manusia suci tanpa dosa menjadi manusia alay penghuni acara musik dahsyat. Let's cekidot!

Waktu SD, gue terkenal sebagai anak kalem super pemalu yang kalo nggak diajak ngobrol nggak bakal ngomong. Talk less do more adalah prinsip gue. Diem-diem gini gue dulu ranking 3 besar loh hahaha *sombong* :p

Awal mula kehidupan percintaan masuk ke dunia gue adalah saat duduk di kelas 4 SD. Seorang cowok bule, temen SD gue di makassar, lewat perantaraan temen gue menyatakan cintanya yang terpendam dan nggak bisa diungkapin karena guenya kelewat pendiem. Pantesan cowok itu suka ngerjain gue. Ternyata ya... hahaha. Sayangnya gue udah keburu pindah ke Bekasi sih. Jadi, cinta itupun bertepuk sebelah tangan.

Next, di kelas 4 SD juga, kakak kelas flirting ke gue. Mungkin karena guenya yang sok-sok cool, ini manusia jadi agak-agak agresif. Demi ngobrol sama gue, dia sampai nyegat gue di gang sempit (jalur yang biasa gue lewatin buat pulang ke rumah) bahkan sampai ngejar gue pake sepedanya demi tau rumah gue dimana. Sayangnya ini nggak sampai tahap menyatakan cinta karena dia keburu lulus.

Di kelas 6 SD, cowok pindahan dikabarkan naksir sama gue. Pas ultah gue, katanya dia udah nyiapin sebuah boneka sekalian mau nembak gue. Sayangnya kabar tersebut udah keburu masuk telinga gue H-1 gue ultah. Alhasil karena gue takut mau jawab apa pas ditembak nanti, gue memutuskan untuk bolos sekolah selama 2 hari. Dahsyat kan? Hahahaha

Di SMP, disini nih fans gue bejibun *PD gilaaaa* hahahaha. Tapi beneran nggak boong. Banyak yang nembak lewat sms, tapi karena gue pikir cara nembak kayak gitu nggak gentle, jadinya gue tolak dengan bahasa yang super halus. Tapi ada juga cerita yang menurut gue menarik.

Gue ditembak sama 3 cowok dalam satu geng!!! Ini nih yang bikin gue mendadak migrain stadium akut. Tapi 3 cowok ini punya cara yang beda dalam hal pedekate. Cowok pertama, cara pedekatenya jauh lebih halus dari 2 cowok yang lain. Diem-diem menghanyutkan gitu deh. Tiba-tiba ngasih hadiah, suka sms rutin, suka ke gep sama gue lagi mandangin gue. Huehehehe...

Cowok kedua, cara pedekatenya agak lebih agresif dari cowok pertama. Karena gue sama dia satu kelompok belajar, dia suka minta diajarin. Kadang-kadang ngerjain gue, suka telpon gue sampai larut malem, bikin puisi buat gue. Ada cerita unik dari cowok yang satu ini. Cara dia dapetin nomer telpon gue terbilang beda dari cowok-cowok yang lain.

Pas study tour, sekolah gue pergi ke jogja. Waktu itu lagi hujan, bus gue sama bus dia sebelahan. Dari tempat duduk gue kalo dibuka jendelanya langsung ke arah tempat duduk dia. Awalnya cuma senyum-senyum, terus entah dapet ide darimana tiba-tiba dia memanfaatkan embun di kaca bus buat nulis pesan ke gue.

"No Hp plis"

Gue tulis "Buat?"

"Ada deh :)"

Gue langsung geleng-geleng kepala. Jual mahal dikit lah hahahaha. Tapi akhirnya dia nggak kehilangan akal. Dia nulis nomer telponnya di kaca, berharap gue mau nyatet nomernya. Tapi gue tetep nggak nulis, yakali masa gue sms dia duluan -_- Akhirnya dia ngasih kode ke temen sebelah gue di bus buat nulis nomer gue dikaca bus. Walaupun udah gue halang-halangin, ternyata temen gue ini jauh lebih tangkas. Cowok ini pun berhasil dapetin nomer hape gue

Cowok ketiga, ini cowok super duper ajaib. Cara pedekatenya jauh lebih agresif dan sangat frontal. Pernah loh di depan kelas, pas lagi pelajaran bahasa indonesia balas pantun, dia gombalin gue. Di depan guru bahasa indonesia, Meeen! Gini nih isi pantunnya,

Satu titik, dua koma
Hani cantik, siapa yang punya?

Hahahaha, seisi kelas langsung ketawa ngakak, termasuk guru gue. Dia bikin dua pantun, satu lagi gue lupa. Dua-duanya buat gue dan bikin heboh kelas. Cara nembaknya pun terbilang aneh. Jadi waktu itu pas pulang sekolah, tiba-tiba gue di dorong temen gue ke dalam kelas trus gue dikunci dari luar. Otomatis gue ketakutan, teriak-teriak minta tolong. Tiba-tiba kedengeran suara ribut, semacam drum band gitu deh. Ada yang nyanyi juga, nyebut-nyebut nama gue. Terus akhirnya pintu kelas kebuka. Surpriseee...!!! Puluhan orang udah nangkring di depan kelas bawa peralatan kayak galon, botol, dst yang bisa nimbulin bunyi.

Cowok ini tiba-tiba muncul di tengah kerumunan, berlutut di depan gue dan bilang "Hani, gue udah lama suka sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue?"

SKAK MAT!!! Gue cuma bisa bengong dan nggak ngerti mau jawab apa. Masalahnya ini di depan banyak orang, nggak cuma temen seangkatan gue, tapi juga angkatan lain, bahkan anak SD yang gedung sekolahnya ada di lantai satu. Karena gue sangat wasting time dengan cuma bengong, entah dapet ide darimana dia nyodorin HP dan saputangan. Kalo gue ngambil HP berarti gue nerima dia, kalo saputangan berarti gue tolak. Suasana pun makin rame. Dan gue memutuskan untuk mengambil saputangan lalu pergi ninggalin rasa kecewa dari banyak orang. Tapi gue sama cowok ini masih kontak-kontakan kok sampai sekarang, like friends should be :)

Dan di SMA, ceritanya jauh lebih complicated. Untuk pertama kalinya, gue ditembak sama adik kelas gue, sama guru les gue, sama mantannya temen gue, dan lain-lain. Selain itu juga, di zaman ini pertama kalinya gue punya pacar! Ah, kalo diceritain bisa jadi berlembar-lembar folio.

So, sampai disini dulu ya. Postingan ini sama sekali nggak ada maksud buat pamer kalo banyak yang naksir gue atau apalah, sekedar sharing pengalaman aja kok. Siapa tau ada yang dapet inspirasi cara pedekate dari cerita-cerita diatas. Hehe siapa tau kaaaan? :)

Sabtu, 12 Mei 2012

Jika Takdir Sudah Bicara


Tidak ada yang tidak mungkin. Aku percaya kalimat itu. Pasalnya, Tuhan sudah menggariskan takdir pada setiap ciptaan-Nya bahkan sebelum yang diciptakan tersebut lahir ke dunia. Termasuk keberadaan kamu dihidupku.

Aku tahu Tuhan punya maksud mempertemukan kita. Walaupun rasanya menyakitkan, tapi percayalah, di setiap rencana-Nya adalah yang terbaik untuk kita. Mungkin dengan cara seperti ini Tuhan ingin memperingatkan kita. Kita sudah lalai, Sayang. Sudah berapa lama kita menghapus “Tuhan” dalam ingatan kita?

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan. Karena Tuhan Maha Pengampun.

***

“PERGI KAMU DARI RUMAH SAYA!!! SAYA TIDAK PERNAH MENGIZINKAN GEMBEL MACAM KAMU MENGINJAKKAN KAKI LAGI DI RUMAH INI!!!”

“Tapi, Pa, dia berniat baik kesini,”

“BERANI-BERANINYA YA KAMU MEMBELA DIA!!!”

“Dia mau melamar Gyka, Pa,”

“APA??? MELAMAR??? HAHAHA. PUNYA APA DIA BERANI NGELAMAR KAMU???”

“Saya memang nggak punya apa-apa, Om. Tapi...,”

“TAPI APA??? MODAL CINTA ITU NGGAK CUKUP BUAT MEMBANGUN SEBUAH RUMAH TANGGA!!! MAU KAMU KASIH MAKAN APA ANAK SAYA KALAU KAMU SUDAH MENIKAH NANTI???”

“Saya juga belum tahu, Om. Tapi yang jelas saya harus menikahi anak om secepatnya,”

“GILA KAMU YA???”

“Pa, dia memang harus menikahi Gyka,”

***

Malam ini hujan deras mengguyur kota Jakarta. Rasanya pas sekali dikombinasikan dengan pikiranku yang sedang semerawut seperti benang kusut. Untungnya ada kamu disini. Setidaknya ada yang bisa menyelamatkanku jika nanti aku terlalu tenggelam dalam pikiranku sendiri.

“Mau roti?” tawarmu padaku memecah kesunyian. Sebungkus roti coklat seharga Rp. 2500,- itu kamu sodorkan padaku.

Aku mengangguk. Perutku ini memang sudah merengek sejak tadi pagi. Akhirnya baru malam ini aku bisa memasukkan sedikit makanan ke dalamnya. “Dapat duit darimana?”

Mendengar pertanyaan itu tiba-tiba kamu menatapku. Aku hafal tatapan itu. Tatapan yang seolah berkata bahwa kamu tidak suka diinterogasi. Sayangnya aku memang harus mempertanyakan itu. “Halal kok!” jawabmu ketus.

Hening pun kembali merasuk. Hanya terdengar suara berisik dari beberapa orang yang lalu lalang dan suara kereta terakhir jurusan Depok-Bekasi yang baru saja transit di stasiun ini. Aku jadi ingat saat pertama kali bertemu denganmu. Di kereta ekonomi jurusan Depok-Bekasi itulah takdir mempertemukan kita.

***

“DASAR ANAK NGGAK TAU DIRI!!! DIAJARIN SIAPA KAMU BERBUAT SEPERTI ITU??!!!”

“Maafin Gyka, Pa...,”

“PAPA KECEWA SAMA KAMU GYKA!!! BERANI-BERANINYA KAMU BERBUAT SERENDAH ITU!!!”

“Om, ini bukan salah Gyka,”

“LANTAS SALAH SIAPA??? KAMU MAU BILANG KEJADIAN INI KARENA NGGAK SENGAJA??? KAMU PIKIR SAYA BEGO!!! BRENGSEK!!!”

GDEBUUGGG!!!!

“PA!!! TOLONG JANGAN PUKULIN GAKA!!! GYKA YANG SALAH!!! PUKUL GYKA AJA, PA!!!”

“MULAI SEKARANG KAMU BUKAN ANAK SAYA!!! PERGI KAMU DARI SINI!!! PERGI KALIAN!!!”

***

Jam menunjukkan pukul 21.00. Aku telat pulang lagi. Ini gara-gara dosen statistik yang sukanya datang telat. Alhasil, kuliah sampai ngaret 1 jam. Untungnya kereta terakhir masih bisa ke kejar.

It’s a beautiful night
We’re looking for something dumb to do.
Hey baby, i think i wanna marry you...

Handphone-ku berdering. Tertera di layar “Papa sayang”.

“Halo, Pa,”

“Nak, dimana kamu?”

“Gyka baru pulang nih, Pa. Kuliah terakhir ngaret jadinya Gyka pulang agak malem,”

“Oh, ya sudah, hati-hati ya di jalan,”

“Oke, Papa Sayang,”

Klik! Telpon terputus. Papa memang selalu seperti ini semenjak mama meninggal. Khawatirnya terlalu berlebihan. Apalagi aku adalah anak satu-satunya yang dimiliki papa, perempuan pula. Wajar sih kalau papa over protective seperti ini.

“It’s a beautiful night, we’re looking for something dumb to do. Hey baby, i think i wanna marry you... Permisi, Mbak, Mas,”

Seorang pengamen tiba-tiba mendekatiku. Tubuhnya kurus, tinggi dan sangat dekil. Rambutnya ikal diikat ke belakang. Wajahnya oval dengan struktur rahang yang sangat tegas. Dengan berbekal gitar kotornya itu dia melanjutkan lagu Bruno Mars kesukaanku. Suaranya enak juga.

“Permisi, Mbak,” lelaki kucel itu mengulurkan tangannya padaku.

Aku merogoh dompet dan mengambil uang Rp 2000,-. “Suaranya enak, Mas,”

Mendengar pujianku, ekspresinya terlihat agak kaget. Mungkin selama dia ngamen belum pernah ada orang yang memujinya. “Oh, ehm... makasih, Mbak,” ucapnya sambil tersenyum malu.

“Besok nyanyi disini lagi ya, Mas. Kalo memang ditakdirkan, saya pasti bisa melihat Mas nyanyi lagi,”

***

“Kamu habis apain aku, Ka? Kita berbuat apa semalam?”

“Aku nggak tau, Gy. Aku nggak ingat apa-apa,”

“Ka, aku takut,”

“Maafin aku, Gy. Pikiranku lagi kacau. Aku mabuk semalam,”

“Aku harus bilang apa sama papa?”

“Nggak akan terjadi apa-apa kok, Sayang,”

***

Malam semakin larut. Stasiun sudah sepi pengunjung. Aku mendengar kamu menangis lagi. Aku hanya pura-pura tidur. Kamu memang tidak pernah cerita apa-apa tentang semua masalahmu, tentang apa yang mendesak di dadamu. Dan aku tidak pernah memaksamu untuk cerita. Mungkin hanya dengan menangis kamu bisa lega.

Semoga cerita kita ini berakhir bahagia. Itulah harapan yang selalu aku selipkan dalam setiap doaku sebelum tidur pada Tuhan.

***

Tanganku meraba-raba alas tidurku. Eh, kenapa strukturnya lembut ya? Aku buru-buru membuka mata. Kasur? Kenapa aku ada di kasur? Seingatku semalam aku masih tidur di aspal.

“Selamat pagi, Sayang,”

Mataku langsung teralih pada sosok di depan pintu. Sosok yang sudah lama tidak aku temui. Walaupun sudah lama tidak bertemu, tapi aku masih hafal wajahnya yang teduh dengan senyumnya yang selalu membuatku nyaman berada di dekatnya. “Papa?”

“Nih, papa bawain susu dan roti kesukaan kamu,” tangannya menyodorkan meja lipat berisi susu dan setumpuk roti tawar.

Aku merasa canggung dengan semua ini. Sepertinya aku sudah terbiasa tidak makan seharian. “Gaka mana, Pa?”

Ekspresi papa yang ceria pun berubah 180⁰. Pasti sebentar lagi beliau akan marah. “Gaka nitipin surat ini buat kamu,” ucap papa sambil menyerahan sepucuk surat tanpa amplop dari dalam saku celananya. Ternyata papa nggak marah sama sekali. Ada apa ini?

Aku mengambil surat itu dengan perasaan yang tidak karuan.

***

Dear Gyka,

Tidak terasa ya sudah terlalu jauh kita melangkah. Aku merasa keadaanku semakin membaik dengan kehadiranmu. Tapi disaat yang bersamaan pun aku merasa keadaanmu malah semakin memburuk.

Kamu tau nggak rasanya? Rasanya sakit, Gy. Aku tidak bisa perkirakan seberapa besar rasa sakit ini melihat kamu harus tidur dibawah atap stasiun dan hanya makan jika aku punya uang. Kamu tidak pantas mendapatkan ini. Pertama kali aku bertemu denganmu, aku melihatmu sebagai anak kuliahan yang ceria dan begitu mempesona. Aku ingin melihat keceriaan itu lagi. Mungkin dengan kembali ke rumahmu adalah solusinya.

Maaf aku harus pergi, Sayang. Aku sendiri tidak tahu kapan akan kembali. Jika takdir berpihak padaku, mungkin kita bisa bertemu lagi. Itu kan yang selalu kamu agungkan dari kata “takdir”? Takdir Tuhan itu tidak pernah salah. Aku percaya itu kok.

Oh iya, titip anak kita ya. Kalau sudah lahir nanti jaga dia baik-baik. Aku menyayangimu.

Gaka.

THE END