DEMI ALLAH, ALHAMDULILLAH, LAILAHAILALLAH, ALLAHUAKBAR JANTUNG GUE MAU COPOT HAHAHAHAHA
*Inhale exhale*
Kejadian kayak gini emang udah keseringan. Disaat gue dongkol setengah mampus sama dia tapi nggak bisa gue ungkapin, beberapa detik kemudian biasanya dia ngelakuin sesuatu yang bikin gue nggak bisa ngelanjutin marah. Ya udah. Tamat deh dramanya. Hahahaha.
Aneh. Sebenarnya nggak ada masalah apa-apa. Gue sama dia juga lempeng-lempeng aja kayaknya. Nggak ada berantem, banyakan ketawa, tapi... apa ya? Something wrong with this "lempeng" relationship. Ya itu, sometimes flat equal with bored, rite?
Apa sih yang gue cari? Gue pengen serius. Ini yang terakhir buat seumur hidup. Udah capek berkelana. Udah capek GR-GRan. Udah capek tebar-tebar pesona. Udah capek sakit hati. Cukup dramanya, ftvnya udah basi.
Waktu gue nemuin dia, gue tahu dia bukan aktor drama, so, nggak mungkin ada drama macem cinta fitri kalau gue jalan sama dia. Iya terbukti, damai tentram aman sentosa aja selama ini. Tapi, ah, lagi-lagi harus pake kata tapi, ya itu.... mbok yo kasih surprise gitu loh, kasih kejutan yang bikin gue hati gue cenat cenut lagi gitu. Hahaha najis.
Ayolah, 5 bulan lagi itu hari besar kita. Kalau lo lempeng gini terus bisa gila gue. Gue cuma nggak mau ada yang lebih perhatian dari lo. Gue mau fokus gue cuma ke lo. Makanya, bikin something dong yang bikin gue teriak kayak alay baru jatuh cinta. Sedikit tapi tiap hari itu better sih menurut gue daripada gede tapi jarang. Gampang kok, gampang banget bikin gue bahagia. Lo tinggal nanya "apa kabar kamu hari ini?" "lagi apa kamu?" "udah makan belum?", gitu doaaaaanggg! Serius, segampang itu dan gue jamin gue langsung atrial fibrilasi saat itu juga.
Iya tahu, emang lebay. Tapi orang seserius lo, selempeng lo, se-nggakpeduli lo, kalo ngelakuin itu jadi spesial menurut gue. Ini rada nyindir sih, sangking lo nggak pernah nanyain gue pertanyaan semainstream itu buat dua orang yang lagi pacaran. Demi Tuhan, lo nggak tahu kan gue lagi apa saat lo chat gue. Kalau gue lagi tenggelem saat itu, lo tahu?
Geregetan gue, sumpah! Kok ada ya cowok kayak lo di dunia ini? Pengen gue jadiin dadar gulung sangking gemesnya.
Saya belum pernah membuat surat
sejenis ini. Saya hanya terbiasa menjadikan kata sebagai refleksi dari dentuman
rasa yang muncul di hati saya. Seperti saat ini, saya ingin mengurainya. Maka
bacalah apa yang tidak pernah terlihat selama ini.
Untuk kamu yang sedang ada dipikiran,
"Saya mengagumi kamu. Jangan tanya
waktu, karena mereka pun tidak tahu kapan semuanya bermula. Anehnya, kamu tidak
perlu berucap, dunia sendiri yang telah bercerita. Seolah seluruh sudut bumi
serentak memuji namamu dalam versi yang berbeda-beda.
Saya mengalirkan takdir pada arus
yang tenang, membiarkan segalanya berjalan apa adanya. Beberapa kali tertabrak
bebatuan, namun rupanya tak sanggup menghentikan arusnya. Mengapa setenang ini?
Padahal dalam hati saya sudah ingin meledak saat jarak menjeda kita.
Inikah yang dinamakan cemburu?
Kalau benar, kamulah yang pertama menciptanya.
Kesederhanaan yang kamu bangun
terlalu megah. Saya sampai kehabisan kata-kata untuk mengkisahkannya. Apalagi
saat melihat binar mata malu nan tulus yang selalu berpendar saat mata kita tak
sengaja bertautan, detik itu juga saya menjelma menjadi cenayang, menerka-nerka
apa yang sedang isi hatimu katakan.
Setiap kali mendengar celotehmu,
saya merasa memasuki dimensi waktu tak berujung. Kamu membawa saya mengarungi
dunia tanpa perlu menjejak. Lalu seketika saya bermimpi. Saya ingin kesana, ke
tempat dimana saja kamu menjatuhkan hati.
Melukislah mimpi. Menciptalah
bumi tempat kita kelak berpijak. Masa depan akan terus memanggil nama kita jika
takdir menginginkannya. Maka saya hanya bisa berdoa agar semuanya mendapat yang
terbaik dari Yang Maha Baik. Jangan khawatir, kemanapun mimpi membawamu pergi,
saya akan tetap bertahan disini. Karena saya tahu, sejauh apapun negeri yang
kamu kunjungi tidak akan pernah mengambilmu selamanya. Kamu pasti akan pulang. Ke
rumah.
Semoga saja saya bisa menjadi
rumah ternyaman untukmu kembali dari pertualangan.
Punya teman banyak. Bebas berlarian dan tertawa terbahak-bahak. Membeli gulali berwarna merah jambu. Bermain petak umpet. Memanjat monkey bar dan berlomba mengayun setinggi-tingginya di ayunan. Menggambar meja. Bernyanyi dengan suara keras tanpa takut orang mengkritik suara kita fals. Mengganggap diri mampu berubah menjadi power ranger dan saling mengklaim sebagai power ranger warna apa. Lalu bertengkar dengan teman. Sejam kemudian berbaikan seakan amnesia bahwa beberapa detik yang lalu saling membenci. Men-cie-kan teman perempuan yang dekat dengan teman laki-laki atau kita sendiri yang sok merasakan jatuh cinta pada kali pertama.
Semua terasa indah. Semua terasa mudah.
Lalu waktu bergulir. Umur kian bertambah. Masalah menggunung dan semakin rumit.
Memilih teman semakin selektif karena selalu ada yang menyandang gelar "pemakan teman sendiri". Sudah mulai menghindari jajanan pinggiran dengan alasan "nggak higenis". Lebih banyak bermain dengan gadget dan peran teman bermain mulai tersingkirkan, yang ada cuma teman hangout. Mulai menjaga sikap alias jaim. Sinis-sinisan, saling menggosip, menebar fitnah, dan lebih gilanya pada teman dekat sendiri. Lalu bertengkar dengan teman. Sampai mati saling membenci. Merasakan jatuh cinta yang dirasa terakhir kali tapi selalu berakhir menyedihkan.
Aku nggak tahu kenapa kita harus melalui proses ini. Sudah takdirnya?
Aku hanya kangen masa kecilku. Tapi aku, kamu, kita, sudah terlanjur dewasa. Maka mengapa kita tak sekalian saja mendewasakan diri?
Bertemanlah seperti masa kecil dengan sikap yang lebih dewasa. Lihat segala sesuatunya jangan hanya dari satu sisi. Kita manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Kalau kamu menganggap temanmu adalah manusia paling "buruk" di dunia, cobalah berkaca, seberapa banyak "buruk"mu yang kamu tutupi. Barangkali di mata Tuhan, dia lebih baik darimu, teman :)
Aku mengambil kutipan kata-kata Darwis Tere Liye dari novelnya "Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah" yang mungkin juga sudah pernah kamu baca, begini katanya:
"Cinta sejati selalu menemukan jalan. ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan terbaiknya. Kebetulan yang menakjubkan."
Itu yang kubilang "Sebenarnya Tuhan memberikan perasaan itu sederhana, tapi manusia yang membuatnya jadi rumit sendiri". Aku jadi teringat kisah Habibie dan Ainun, aku yakin kamu pasti juga sudah pernah mendengarnya, atau bahkan sudah menonton filmnya.
Jadi seperti yang kamu tahu, Habibie dan Ainun pernah bertemu saat masih berumur 13 tahun dikarenakan mereka satu sekolah dan menjadi murid paling cerdas dibagian ilmu eskak (kalau nggak salah). Dan guru eskak mereka pernah berkata, "Kalian ini jodoh!". Tahun-tahun setelahnya mereka berpisah. Habibie malah sempat ke Jerman, Ainun tetap di Indonesia. Mereka nggak melakukan kontak sama sekali. Sampai akhirnya saat yang tepat itu tiba, Tuhan mempertemukan mereka secara kebetulan. Ya, kebetulan yang menakjubkan. Itu namanya jodoh.
Maka dari itu, kalau ada yang bilang "Jodoh itu harus dikejar, kalau enggak, nanti diambil orang," aku agak kurang setuju sih. Yang menurutku benar, jodoh itu akan datang sendiri dan Tuhan yang akan menggerakkannya kearah kita. Tapi kitanya jangan diam juga. Terus memperbaiki diri, perbanyak doa, dan buka pergaulan seluas-luasnya. Siapa tahu jodoh kamu lagi di Jerman, Dis. Hehehe.
Atau... justru jodoh kamu sebenarnya sudah dekat, dekat sekali, tapi kamu aja yang nggak sadar karena kamu terlalu sibuk mencari? Who knows? :)
Sebenarnya aku nggak terlalu mengerti soal hati. Hati itu rumit. Segala sesuatu yang menyangkut perasaan itu pasti nggak pernah sederhana. Dan sialnya, aku mudah sekali menggunakan perasaan. Beginilah nasib tipe melankolis sejati. Hiks!
Otak manusia kadang nggak bisa mengerti maksud dari kata hatinya sendiri. Sering nggak sinergis. Alhasil, kita sering terjebak pada titik bifurkasi dimana harus memilih antara mengikuti kata otak atau kata hati. Dan aku, mungkin karena aku terlalu sering mengikuti kata hati dan berujung pada kekecewaan, akhir-akhir ini aku lebih memilih mendengarkan logika. Sebisa mungkin aku menjawab pertanyaan yang terus berkeliaran, "Apa dia orangnya?"
Tapi otak nggak bisa menjawabnya. Kenapa? Karena Tuhan mengirimkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu lewat hati, lewat perasaan, lewat hal tersensitif yang sering kali menghasilkan jawaban salah. Rumit kan?
Rumit itu karena kita yang membuatnya menjadi bercabang-cabang nggak karuan. Tuhan menciptakannya sederhana kok. Solusinya? Biarkan saja. Ketika orang baru mengetuk pintu hatimu, biarkan dia masuk. Kalau setelah hari berganti dan kamu merasa malah jadi rumit, berarti bukan dia orangnya. Kalau sudah tahu bukan dia orangnya, kenapa harus dipertahankan?
Ini keputusan besar yang pernah kuambil. Aku telah memilihnya menjadi partner dalam merajut mimpi besarku. Bersamanya, aku berharap lautku tak pernah lagi sunyi. Bersamanya, ombak berdesir hampir disetiap denting degup jantungku.
Jika kamu tanya apa perihal yang menjadi alasanku memilihnya, sejujurnya, aku tak tahu. Aku hanya melihat asa dalam jelaga kedua matanya yang berkilat tulus. Di sisi lain, ada sebongkah rindu yang mengantarkanku pada satu titik keyakinan. Rindu yang bercampur dengan jutaan rasa yang sulit aku mengerti. Ini kali pertama aku merasakannya.
Aku tidak bilang aku jatuh cinta.
Mungkin, belum.
Tapi satu yang harus kamu tahu, inspirasiku kembali berpendar. Setelah kamu meredupkannya dengan kepergianmu, dia menyalakannya lagi tanpa dia sadari. Terima kasih sudah memberiku tawa selama ini. Kini, aku benar-benar harus melepasmu.
Sampai jumpa lagi, Keenan. Aku berharap perahumu juga segera berlabuh.
Aku kangen Keenan. Bukan, Keenanku berbeda dengan Keenan Klapertaartholand. Keenanku nggak jago melukis. Keenanku nggak pendiam. Keenanku juga nggak sepintar dia.
Keenanku selalu bersikap apa adanya. Dia yang aneh, suka tertawa, dan punya banyak teman. Keenanku suka sekali mendengar cerita-ceritaku. Aku pernah bilang aku suka perahu kertas. Percakapan berikutnya, dia bilang dia suka perahu kertas. Dia berusaha menyukai apa yang aku suka. Dia berusaha membuatku nyaman.
Keenanku suka gunung, suka laut, dan suka jalan-jalan. Aku juga suka semuanya. Aku ingin sekali pergi bersamanya, menanjaki gunung tertinggi, menikmati desiran ombak di kala sunset, menjelajahi seluruh sudut negeri yang belum pernah kukunjungi. Aku yakin, bersamanya, lelah dalam perjalanan akan tergantikan nafas bahagia. Bersamanya, mimpi-mimpiku akan menjadi nyata.
Aku kangen Keenan. Kangen celotehnya, kangen leluconnya, kangen kehebohannya. Andai dia tahu, cerita-ceritanya masih kusimpan rapi dalam sebuah file. Bukan karena apa-apa, aku hanya takut tiba-tiba kangen disaat yang nggak tepat. Disaat waktu berputar lebih cepat dan kita berubah terlalu hebat.
Aku tahu, kita nggak akan bisa selamanya bersama. Kita bukan Kugy dan Keenan dalam perahu kertas. Kita bukan mereka yang punya radar neptunus.
" Keenanku, terima kasih sudah menjadi inspirasi hampir di semua puisiku. Maaf, aku nggak bisa mengatakannya langsung padamu. Maaf juga, aku berbohong pada mereka kalau puisi-puisi ini nggak ada hubungannya denganmu.
Aku takut mereka menghinamu lagi. Aku nggak bisa selamanya membelamu karena aku nggak punya alasan untuk melakukannya. Kita sudah terlalu jauh. Kita sudah melewati sejumlah waktu tanpa saling menyapa.
Lewat tulisan ini aku berharap kamu tahu, aku ingin sekali mendengar lagi suaramu. Puisiku meredup, Keenan. Aku kehabisan cerita. Aku ingin mengajakmu ke Ranca Buana, seperti saat Keenan mengajak Kugy kesana sebagai rasa terima kasihnya karena telah menjadi inspirasi di setiap lukisannya. Tapi kamu bilang, Ranca Buana nggak sebagus deskripsi dalam perahu kertas.
Kugy dan Keenan suka pisang susu. Aku dan Keenanku suka es durian. Kita selalu mencari es durian paling enak di sudut negeri ini. Aku ingat, terakhir kali kita makan es durian dengan kebab turki. Kombinasi yang aneh, tapi entahlah, aku menyukainya.
Keenan, sejak terakhir kali kita bersama mengunjungi kerajaan dewa neptunus, aku nggak pernah lupa satu pesanmu. Aku nggak boleh takut ombak. Bermain bersama ombak itu menyenangkan. Terima kasih karena kamu telah membuatku menyenanginya.
Apalagi yang bisa aku katakan selain terima kasih? Kamu mengajarkanku banyak hal tanpa kamu sadari. Kamu menjadikanku tertawa disaat-saat tergelap dalam hidupku. Kamu menelusup dalam pikiranku dan membuat inspirasiku mengalir deras dalam sekali kejap.
Keenan, aku selalu percaya, hati itu dipilih, bukan memilih. Kita nggak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan. Biarlah perahu kertas ini mencari pelabuhannya, dan setelahnya aku berjanji, tidak akan pernah berlayar lagi,"
Sumpah, ide-ide udah terlalu banyak numpuk dan rasanya mau tumpah meluber kemana-mana. Gue butuh wadah penampung. Gue butuh nulis!
Tapi gue nggak bisa, seenggaknya untuk saat ini. Sial!
Sidang proposal skripsi, ujian SOCA, KKD, penelitian, sidang skripsi, ujian OSCE dan bla bla bla lainnya benar-benar jadi inhibitor kuat yang siap ngebunuh setiap ide yang muncul di otak gue hampir di setiap harinya.
Ini tuh kayak... ngangenin sesuatu tapi kita nggak bisa ketemu sama yang kita kangenin. Dipendem terus, makin lama makin numpuk! AAAAARRRGGHHH!!!
Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini benar-benar terasa berbeda. Bukan karena saya sudah masuk semester akhir dan sedang riweuh dengan segala urusan skripsi, penelitian, soca, dan blah blah blah lainnya. Tapi karena something inside this heart yang nggak bisa saya deskripsikan bagaimana rasanya. Bisa dikatakan saya jatuh cinta. Jatuh cinta yang luar biasa kepada yang menciptakan cinta.
Saya belum pernah merasa sebahagia ini, setenang ini, dan sedamai ini. Ada hawa sejuk yang merambat di kulit setiap kali saya mengingat Dia. Saya tahu, Dia akan selalu bersama saya, walaupun seringkali saya cuek dan sebodo amat dengan segala kebaikan-Nya. Apakah ada yang lebih membahagiakan ketika kita tahu bahwa ada seseorang yang selalu setia menyayangi kita, selalu mendengar apa yang kita keluh kesahkan, selalu memberi apa yang kita butuhkan?
Bersama Dia saya merasa cukup. Saya bersyukur sejak lahir keluarga saya sudah mengenalkan Dia kepada saya. Dia yang terindah, yang sempurna, yang bisa membuat saya tersenyum dengan segala kejutan-kejutan kecil-Nya di hidup ini. Terima kasih, terima kasih atas segalanya. Atas rasa cinta sedalam ini yang tidak pernah saya rasakan seumur hidup saya. Semoga ini belum terlambat. Tapi insya Allah, jika Engkau menghendaki, saya ingin selalu istiqomah bersama-Mu.
Nggak nyangka udah kurang lebih 3
tahun gue ngejalanin ritual dinner hampir setiap hari bareng dua manusia
setengah alien ini. Walaupun capek setengah mati sehabis rapat atau segala
macem tetek bengek kehidupan kampus, tapi gue dan dua sahabat itu selalu
happy-happy aja ngejalanin ritual ini. Kesannya dinner itu adalah timing yang
pas buat merefresh pikiran yang jenuh sejenuh-jenuhnya sama dunia perkuliahan.
Sure!
Pas dinner, we always do some fun
things, walaupun kadang cuma sekedar haha hihi ngobrolin sesuatu yang nggak
jelas, curhat sampai ngebuka-buka aib, kuliner dipinggiran jalan, ngomentarin
mas-mas yang tiap malem galau mulu main biola di genteng, ngomentarin suara abang sate
yang punya suara falseto "terindah" di seluruh penjuru dunia, sok-sok-an makan
di mall padahal lagi kere, nonton bareng OVJ dan bla bla bla lainnya. Gue dan
mereka jadi kayak bener-bener kenal satu sama lain. Bahkan, hampir semua
penjual makanan di daerah tawakal pun kenal kita. Kalo satu diantara kita ga ada,
pasti mereka langsung nanya “Kok ga bertiga?”.
Sangking deketnya, gue sampai
hafal harus bersikap apa disaat dua kesayangan gue itu lagi badmood. “Kesayangan”,
yeah harus gue akui, i love them much! But i can’t tell this to both of them,
gengsi lah yauuuu muehehehe
This is it, my dinner partners for
almost 3 years
1st Adelita Yuli
Hapsari atau yang sering gue panggil Adel, Dels, Delle, Edel
Cewek ini selain dinner partner
yang paling gokil, dia juga partner in crime gue. Adaaaaa aja ide gila yang
sering gue sama dia lakuin. Mulai dari saling tukeran foto alay masing-masing,
saling ngirim voice note nggak penting, video call-an padahal jarak kosan cuma
100 meter, dan masih buanyaaaak lagi. Itu seringnya kita lakuin kalo lagi
badmood tingkat dewa mahabrata.
Dia juga temen brainstorming
paling yahud kalo gue lagi pengen bikin kreatifitas. Ide gue sama dia sering
nyambung. Mulai dari kolaborasi musikalisasi puisi, merancang surprise buat
temen, bikin video, sampai hijab tutorial muahahaha.
Si turunan cina ini emang sering
banget bikin gondok, apalagi kalo keras kepalanya kumat. Beuuuuh, sumpah gue
harus tarik nafas menahan kesabaran supaya nggak meledak-ledak. Masalahnya gue
sama dia itu sama, ya itu, sama-sama keras kepala. Kalo gue keras kepala juga,
benturan satu sama lain, ya ancur lah jadinya.
Dia juga moody, BANGET! Gue
sampai hafal kalo dia lagi bete. Ketawanya pasti lebih garing daripada kerupuk.
Kalo penghargaan piala citra ada nominasi manusia-manusia paling nggak peka,
gue yakin dia bakal masuk nominasi, dan bahkan mungkin menang. Haha. Inilah
susahnya punya temen yang sensitivitasnya dibawah rata-rata. Dia bete, gue
tahu. Gue bete, dia nggak peka, malah kadang bikin tambah bete. Yeaaaaah
*ngais-ngais tanah*
Tapi lepas dari semua itu,
manusia ini selalu sukses bikin acara makan malem gue jadi berwarna dengan
celetuk-celetukannya yang kadang bikin pengen bentur-benturin kepala sangking
gokilnya. Hwehehehe.
2nd Friyoga Syahril sering gue panggil Yoga, Yogs, Yo, Bapak
Muka boleh bapak-bapak tapi
kadang kelakuan kayak bocah. Ngambekan gitu deh. Tapi cowok ini care banget
looooh. Kalo gue lagi sakit, dia adalah manusia di lini pertama yang siap
nganterin gue berobat ke dokter. Gue inget waktu gue sakit mata, dia bahkan
rela bolak balik ke klinik karena dokternya nggak kunjung dateng, waktu itu
ujan pula. Duh, sweet banget deh! Hihi.
Dia juga pernah rela nyamperin
kosan gue jam 1 pagi cuma buat nganterin flash disc yang isinya makalah setelah sebelumnya gue curhat ke dia sambil nangis gara-gara
internet gue mati, nggak bisa download makalah di email kelompok, dan gue belum
ngerjain PPT buat presentasi besoknya. Itu jam 1 pagi loh, dan kosan gue sama
dia itu jauhnya naujubilleh. Bahkan dia juga rela gue suruh beli boneka segede
gaban buat kado adel yang gue tahu dia pasti malu setengah mampus ngebawa
boneka itu dari mall ke kosan gue. Hahaha.
Tapi kalo ngomongin keburukan
manusia ini yeeee, keras kepalanya itu loh masya Allah dah. Selain itu, manusia
ini juga sensi buangeeeeet ngelebihin sensinya cewek kalo lagi dapet. Gue
selalu pengen nyakar mukanya setiap kali dia ngehina gue jeleklah, gendutlah, joroklah dan sebagainya. Kata-katanya jleb abis nusuk sampe ke sumsum tulang.
Kalo gue jelek, gendut, jorok, kenapa sering banget lo bilang
sayang gue, Pak? Dasar aneh haha. Sayangnya sebagai sahabat yeee, jangan salah
paham!
Kalo udah iseng itu emang suka
kelewatan deh. Suka ngegoda-goda gitu bikin bulu kuduk gue jadi merinding.
Haha. I know, it just his jokes to make me and adel laugh :’)
Terima kasih buat kurang lebih 3
tahun dinner super indah ini. Gue tahu, sebentar lagi kita mau nggak mau harus
ninggalin ritual ini karena harus berpisah buat ngeraih cita-cita kita yaitu be
a good doctor.
Soon! Yeah SOON! Setelah nama
kita jadi dr. Hani, dr. Adel dan dr. Yoga, dinner bareng lagi yuks! Kalo bisa
sambil bawa suami/istri plus anak-anak kita nanti muehehehehehe
Pesan: Kalo lo punya waktu sekarang buat have fun sama teman-teman lo, do it! Walaupun have fun lo itu cuma sekedar kumpul-kumpul atau makan bareng atau bahkan ngelakuin hal-hal kecil yang ga meaning. Percaya deh, suatu saat lo bakal kangen sama masa-masa itu dan bakal jadi kenangan yang ga terlupakan seumur hidup lo. Every little thing they do, can make us laugh someday.
Pernah nggak lo ngejalanin sesuatu yang lo suka tapi tiba-tiba ditengah jalan lo merasa rasa itu bukan dari hati lo?
Gue pernah dan itu terjadi akhir-akhir ini.
Gue mahasiswa kedokteran dan kuliah di fakultas ini adalah keputusan gue. Jujur, dari kecil gue nggak pernah pengen jadi dokter. Alasannya simple, karena yang mau jadi dokter udah banyak. Setiap ditanya guru "Cita-citanya mau jadi apa?", hampir 3/4 isi kelas jawabnya mau jadi dokter. Waktu kecil gue emang nggak punya cita-cita tetap. Wajar, masih labil.
Semakin dewasa, gue tau apa yang gue mau. Gue suka gambar, ngolah warna, atau apapun yang berhubungan dengan art. So, waktu kelas 12, gue putusin buat nyoba masuk universitas yang ada fakultas designnya. Alhamdulillah, gue diterima pertama kali di universitas trisakti fakultas design komunikasi visual. Sejak saat itu gue mulai percaya diri. Gue sangat amat yakin takdir gue memang untuk menjadi mahasiswa design dan kerja di advertising adalah impian terbesar gue.
Tapi perjalanan hidup nggak bisa semulus yang kita mau. Ternyata nyokap bokap gue kurang setuju kalau gue masuk design. Mereka nyuruh gue masuk kedokteran. Kata mereka, kalo design masih bisa diasah lewat les atau kursus, tapi kalo kedokteran nggak bisa dan muka gue nggak cocok jadi mahasiswa design. Gue mikirnya nggak papalah buat cadangan (blagu yee kedokteran buat cadangan ckck) kalau nanti gue nggak diterima fakultas designnya ITB. Kenapa gue mau kedokteran? Alasannya juga simple, karena gue suka biologi dan gue nggak suka pelajaran itung-itungan.
Singkat cerita, gue di terima di fk trisakti lewat jalur undangan dan ITB nolak gue. Gue sakit hati. Akhirnya gue ngubur dalem-dalem cita-cita gue kerja di advertising dan nyoba move on ke kedokteran. Tapi ternyata segala hal yang udah cinta mati itu susah dihilanginnya. Dan beginilah hasilnya.
- Gue mahasiswa kedokteran tapi gue sering ngiri sama teman-teman gue yang sekarang jadi mahasiswa design (dan masih sedikit menyesal kenapa dulu nggak masuk design aja)
- Gue belajar tentang kedokteran lebih dari 20 menit udah nggak betah tapi gue bisa berjam-jam duduk ngegambar detail sketsa kota atau ngedesign busana pesta sampai lupa makan (Yeah you know i love eat much)
- Setiap ke gramedia, gue lebih milih ke rak design graphic atau design interior daripada ke rak ilmu kedokteran.
- Gue nggak bisa ngebayangin suatu saat nanti gue bakal kerja di RS tapi gue bisa ngebayangin gue kerja di kantor advertising.
- Kalau teman-teman gue antusias beli buku kedokteran, gue sama sekali nggak berminat dan rasanya pengen menjauh aja dari mereka. Kalaupun akhirnya gue beli buku kedokteran, itu cuma supaya gue nggak minder, bukan karena gue butuh.
- Saat teman-teman fk gue ngobrol soal penyakit or apapun tentang kedokteran, rasanya hati gue menciut dan kuping gue tertutup buat dengerin itu tapi kalau gue ngobrol sama teman-teman gue mahasiswa design, apapun yang mereka ceritain soal kuliah mereka, walaupun gue nggak ngerti, rasanya lebih menarik dan gue antusias.
- Dokter nggak pernah jadi cita-cita gue waktu kecil tapi jadi designer pernah dan itu bertahan lama sampai sekarang.
- Waktu papa bilang ke tukang-tukang, "Ini dia arsiteknya yang ngedesign interior rumah saya," sambil ngerangkul gue rasanya lebih bangga ketimbang papa bilang ke teman-temannya kalau gue anak kedokteran.
Aneh kan? Bukannya gue nggak bersyukur bisa kuliah di kedokteran, tapi ini masalah hati. Gue suka tapi gue nggak cinta. Beda sama design, i give all of my heart waktu otak gue berimajinasi tentang design spanduk atau saat tangan gue membuat sketsa wajah. Dan rasa gembira itu yang paling mencolok. Gue pernah sampai jingkrak-jingkrak kegirangan waktu dikasih tugas design cover buku tapi waktu dikasih tugas bikin makalah tentang penyakit, rasanya berat hati setengah mampus.
Yaaah nasi sudah menjadi bubur. Apa lagi yang bisa gue lakuin selain ngejalanin ini semua? Yang penting rasa suka itu masih ada. Bukannya sesuatu yang terbiasa bisa jadi menumbuhkan rasa cinta? Karena gue terbiasa belajar kedokteran, gue berharap, suatu saat gue bisa jadi cinta sama bidang ini. Mikirnya sih, dengan jadi dokter, Allah lagi ngebukain jalan gue buat lahan amal.
Toh, nggak semua yang kita pikir baik itu adalah yang terbaik buat kita. Allah lebih tahu :)
Jadi ceritanya, rumah gue baru dirobohin atapnya gara-gara banyak rayap yang ngegerogoti kayu-kayunya. Nah, setelah atap dibangun lagi, entah ada angin apa, tiba-tiba bokap ngajak gue buat ngedesign interior rumah gue sendiri. Wohooo!!! Gue sangat amat super excited sekaliiiihhh :p Ini tuh, salah satu dari empat mimpi besar gue. Apalagi kerjaan ini kolaborasi sama insinyur terhandal sejagat raya yang tidak lain tidak bukan adalah bokap gue sendiri hihi.
Tinggal 3, tinggal 3!!! Yuk ah, insya Allah 3 mimpi yang lain bakal kesampaian juga, 1 di tahun ini, yg 2 masih menunggu waktu. Aamiin. GANBATTEEEE HANI, Hap! hap! hap!
Honestly, i’m still in love with Yuri. Bodoh? Ya, aku memang bodoh.
Mungkin aku adalah satu-satunya pria dari sekian milyar manusia yang masih saja
percaya kalau cinta sejati itu akan datang andai kita mau bersabar menunggu.
Shit! Sebenarnya aku benci kata menunggu.
Tapi Yuri, perempuan itu—entah
apa yang dilakukannya sampai memberi efek sedemikian besar terhadap hidupku.
Aku gila. Bahkan sintingnya, aku rela menemaninya saat ini, di tempat ini,
pukul segini, hanya karena—i know i’m stupid
enough to do this—dia tidak bisa tidur. I
mean, ini pukul 01.00 pagi dan ini di pinggir tebing! Mana ada orang yang
mau bangun dan pergi ke tempat seperti ini hanya untuk menemani seseorang yang
tiba-tiba menelponnya dan mengatakan dia tidak bisa tidur sehingga butuh teman
mengobrol?
Oke, enough. *Inhale* *Exhale*
Yuri, if i can describe her in one word, she’s—for
me—everything. I like (and love)
everything on her. Rambut ikalnya yang panjang berkilau, alis tebalnya
seperti ada barisan semut membentuk lengkungan sempurna, mata coklatnya yang
berpendar indah, hidung mungilnya yang menyerupai seluncuran taman kanak-kanak,
bibir kecil tebal pink eksotis—i
don’t know how to find a simple word to describe this best part on her that i
loved much.
Dulu, Yuri cantik. Sekarang, dia
mempesona. Aku bukannya gombal. That’s
fact. Sejak dulu sampai sekarang, Yuri selalu bisa membuatku—bahkan
mungkin semua pria—menahan kedipan mata kami untuk sekian detik. Entahlah, she has an—people
say it “inner beauty”. Apapun yang dia pakai, apapun yang dia lakukan,
apapun yang dia ucapkan, selalu dan selalu membuat aura cantiknya terpancar.
I know her more than she know herself. Aku adalah (sialnya)
sahabatnya sejak kami masih sama-sama suka bermain petak umpet. Bukankah, itu
sudah petunjuk Tuhan kalau aku dan dia—berjodoh? Haha. Stupid! Aku tahu aku hanya tidak bisa menerima kalau di ruang
hatinya sudah ada yang menempati. Lelaki idamannya. Lelaki yang selalu bisa
membuatnya tertawa. Seharusnya. Tapi apa yang lelaki itu lakukan sekarang?
Kemana dia ketika Yuri tidak bisa tidur?
My eyes stuck on her (again). Ya Tuhan, dia semakin kurus. Tubuhnya
tidak sekuat dulu. Matanya sayu namun masih bependar seindah bintang di malam
ini.
“Ed, aku suka tempat ini,” Yuri
membuyarkan lamunanku.
“I know, Yuri,”
“You know what?”
“Everything, about you,”
“Really?”
“Yeah, mau bukti?”
“No. I know it, Ed,” Yuri merebahkan kepalanya di bahuku.
Dari sini, tampak jelas kerlip
bintang di langit gelap berpadu lampu-lampu rumah dan jalanan layaknya taburan
bintang dibawah kaki bukit. You safe here,
Yuri... Here, in my heart.
***
# Yuri
Ed, i’m very lucky to have him. Dia lelaki ter—i can’t describe him just in a
few words—sangking banyaknya ter—bla bla bla yang dia miliki.
Mungkin satu kata yang bisa aku ucapkan tentangnya. Ed gila. Dia lelaki tergila
yang pernah aku temui.
How come? Lihat ini, his
shoulder, always available 24 hours for me.
“Ed, dia muncul lagi malam ini,”
aku menegakkan kepalaku yang masih sedikit nyut-nyutan.
“Dimana?” Mendengar pertanyaan
ini aku menoleh padanya sembari mengerutkan kening. “Oh, maksudku, mimpi baik
atau...,” Ed menggantungkan kalimatnya, seperti enggan menyebutkan.
“Entahlah,” Aku menghembuskan
nafas panjang. Udara dingin menelusup dibalik sweater tebalku. Dingin sekali.
Hening. Kami seakan
mempersilahkan angin yang berbicara. Sudah biasa, suasana seperti ini sudah
sering aku lewati bersama Ed. Saat aku dan dia tidak ada bahan pembicaraan dan
kami membiarkan hening yang bersuara. Aku tidak masalah. Asal bersamanya, aku
tenang.
“Yuri,”
“Ya, Ed?”
“Apa dia... masih berarti
untukmu?”
Aku memandang wajah Ed yang masih
menatap lurus ke depan. “Jujur, masih. Dia masih disini,” Aku meletakkan
telapak tangan di dadaku. “Kenapa?”
“Kalau gitu...,” Ed mulai
menatapku. “ Kita sama,”
Aku tersentak sepersekian detik.
Mata itu... mata Ed... seperti... berbicara. Aku bisa merasakannya.
Udara dingin semakin menusuk-nusuk
tulangku. Aku mencengkram kedua lenganku seperti sedang memeluk diriku sendiri.
Tubuhku gemetar. Nafasku mulai sesak.
Tiba-tiba dua tangan kurus itu
memelukku. “Kamu pakai berapa lapis baju?”
“Dua,”
“Besok pakai empat ya. Kalau
lebih malah lebih baik. Badanmu butuh pelindung yang lebih hangat,” Ed
memelukku semakin erat. Badanku terbenam dalam tubuh besarnya yang mulai
mengurus. Aku merasakan tangannya mengelus-elus rambutku.
Entahlah, tiba-tiba ada
kehangatan menjalar di kulitku. Dengan dua lapis baju pun aku bisa merasa
hangat, asal ada Ed disampingku. “Kenapa kamu seperti ini, Ed?”
“Apa maksudmu?”
“Kenapa kamu selalu ada untukku?
Kenapa kamu tidak menikah saja dengan perempuan yang kamu cintai, lalu memiliki
anak-anak yang kelak saat dewasa akan memberimu cucu-cucu yang lucu? Kenapa
kamu...,” Aku menelan ludah. “lebih memilih sendiri?”
Herannya, Ed malah tertawa. “Dari
kita TK, SD, SMP, SMA, kuliah, kerja sampai kamu menikah, punya dua anak yang
sama-sama gantengnya dan tiga cucu yang lucu, kamu masih tetap cerewet ya?”
Aku mencoba melepaskan diri dari
pelukkan Ed lalu memandangnya. Mata kami bertemu untuk kesekian kalinya. Deru
nafas kami beradu. “Kamu bodoh, Ed,” kalimat itu meluncur begitu saja dari
mulutku.
Ed menyerah dan akhirnya menunduk. Sedetik kemudian memandang lurus ke depan. “Ya, aku bodoh,” Ed
tersenyum. Senyum tulus yang biasa dia berikan untukku.
Angin menggoyang-goyangkan
rambutnya yang sudah memutih. Aku terkagum. 65 tahun kami bersahabat dan Ed masih
sama seperti dulu—Ed yang tampan, Ed yang baik hati, Ed yang selalu menjadi
malaikat pelindungku.
Aku di bumi menunggumu, menunggu semua ceritamu tentang istana langit, menunggu semua celotehmu tentang negeri di atas awan, menunggu semua kisahmu tentang makhluk-makhluk penghuni atap bumi. Setiap apa yang keluar dari mulutmu adalah kedamaian. Karenanya aku disini, berdiri memandang langit dan berharap kamu segera pulang.
For me, friendship is about tolerate. Yap, toleransi. Berani berteman, itu artinya kamu harus berani
menerima perbedaan satu sama lain. Dan jangan sekali-kali kamu ngejudge kalau
kamu ngerasa nggak cocok sama dia hanya karena sifat kalian bertolak belakang.Sometimes, yang bertolak
belakang itu justru bisa saling melengkapi.Like
a puzzle. Temanmu adalah pengisi kekuranganmu.
Berteman, nggak selamanya selalu sejalan.I mean,kadang di tengah jalan muncul
ketidaknyamanan atas sifat dari teman kita. Dan penyebab ketidaknyamanan itu
tidak lain dan tidak bukan adalah ego, suatu pertahanan terhadap keyakinan kita
akan pembenaran diri. Wajar jika ego kita muncul ke permukaan secara tiba-tiba.
Itu manusiawi.
Tapi coba bayangkan jika ego kamu dan temanmu muncul disaat
bersamaan, mereka akan bertubrukan satu sama lain dan saling melukai. Namun
jika kamu sudah dewasa, kamu akan tahu saat itu adalah saatnya kamu mengalah.
Ada kalanya kita membandingkan teman yang satu dengan teman yang
lain. Teman saat sekolah dengan teman saat kuliah, si A yang enak diajak curhat
dengan si B yang kelihatan nggak peduli sama kita, atau dia yang sering nggak
klik sama kita dengan dia yang punya sifat sama dengan kita. Kali ini
ujung-ujungnya kita harus kembali ke definisi dari berteman.
Friendship is about tolerate.
Dari perbedaan akan tercipta satu kesatuan.Right?
Pernah suatu ketika menonton acara Hitam Putih, Deddy Corbuzier
berkata"Selama ini orang
berpikir, sahabat yang baik itu adalah sahabat yang ada disaat kita
susah/sedih, tapi kalau menurut saya, sahabat yang baik justru adalah dia yang
ada disaat kita senang. Kalau saya sedih, saya lebih memilih untuk menyendiri
dan merenung. Tapi coba bayangkan ketika anda sedang senang, misalnya sedang
ulang tahun, tidak ada sahabat disamping anda, tidak ada yang mengucapkan
selamat ulang tahun, bukankah itu lebih menyedihkan?"
Saya setuju denganstatementitu. Kenapa kita harus mempertanyakan
kemana teman kita disaat kita sedih? Justru mereka yang ada disaat kita bahagia
adalah yang terbaik. Ketika kamu sedih dan kamu tahu teman kamu sedang bahagia,try to hide your sadnessdan tersenyumlah. Atau jika kamu sudah
benar-benar tidak bisa untuk tersenyum, menghindarlah, jangan memaksa untuk
ikut nimbrung karena itu bisa memicu munculnya ego dengan perkataan
"Tolong lo ngertiin gue!". Kamu tahu dengan begitu kamu bisa merusak
kebahagiaan temanmu. Itu lebih kejam daripada nggak ada yang peduli saat kita
sedih.Sure!
Disini, bukan berarti saya sudah bisa menjadi sahabat yang baik
buat sahabat-sahabat saya. Saya cuma berusaha menjadi diri sendiri dan memahami
setiap karakter mereka.Try to
change the words"Coba
lo ada di posisi gue!" dengan "Coba ya gue ada di posisi lo...".
Dan yang terakhir, jangan gengsi ngucapin "Maaf" dan
"Terima kasih". Dua kata itu sangat ampuh mengikat tali persahabatan
lebih kuat. Berdasarkan pengalaman sih.