Semenjak saya dan mereka menyatu dalam satu kelas, terciptalah komitmen untuk selalu bersama. Bukan sebagai teman sekelas, tapi sebuah keluarga. Lalu komitmen itu mulai berubah menjadi ketakutan. Ketakukan yang mencekam seperti sejuk yang merambat di permukaan kulit, lalu merasuk hingga ke tulang dan membekukannya. Saya terlalu takut untuk meyakini kalau sebentar lagi saya akan kehilangan keluarga saya.
Ada sesuatu pada mereka. Setiap gerakan mereka membuat saya tercengang, kadang tertawa, kadang merasa jengkel. Tapi itu adalah bentuk ekspresi mereka. Dan sialnya, saya menyukai apa yang mereka perbuat. Tepuk tangan saat seseorang datang terlambat dan tawa saat sang objek penderita kebingungan. Kegaduhan saat ada orang yang sial untuk menerima “gesekan” dan tertawa bersama, mengetahui semua orang menikmatinya. Atau waktu wali kelas berdelik marah, terganggu oleh tawa anak-anak. Teman sekelas yang tidak bisa duduk diam, mengitari kelas mencari suatu objek yang dimainkan. Saya selalu menemukan sesuatu yang istimewa dalam setiap tingkah mereka.
Karena itulah, saya tidak cukup berani saat mengetahui waktu saya untuk bersama mereka akan segera berakhir. Kami lebih dari sekedar sekumpulan orang yang berkumpul di tempat yang sama, waktu yang sama, dan kota yang sama. Kami adalah keluarga.
Meski kadang hasrat untuk menempeleng mereka muncul karena lawakan yang sukses membuat saya tertawa, rasa kehilangan itu tetap ada. Saya akan kehilangan keceriaan ditengah-tengah lautan tugas sekolah. Kehilangan teman membolos saat merasa bosan. Kehilangan ocehan guru yang kadang membuat mengantuk. Kehilangan bau pagi dan gemerisik daun yang bergesekan di sekolah. But most of all, saya akan kehilangan mereka.
Perasaan kebas itu kini terhapus. Bukankah di setiap ada pertemuan, akan ada perpisahan? Mereka punya impian. Saya punya impian. Berpisah untuk mengejarnya bukanlah suatu hal yang harus ditangisi.
Saya akan merindukan ocehan mereka, para guru, dan terik matahari yang menyengat saat upacara. Bahkan celotehan yang paling menyakitkan pun akan sangat terasa merindukan.
Demi apapun itu, saya tidak akan melupakan masa-masa SMA saya.
Nia lihat kamu. Tapi kamunya nggak lihat Nia. Kamu sibuk sama isi kotak makanmu. Makan apa sih? Sepertinya lezat. Mulutmu sampai penuh begitu. Hahaha tuh kan kamu tersedak. Makanya kalo makan pelan-pelan.
Siang ini panas ya? Nia keringetan nih! Kamunya sih enak berteduh di bawah pohon. Lah, Nia? Kalau bukan karena Pak Mardi ngadain ujian volly dadakan hari ini, Nia sih lebih milih bolos pelajaran dan pergi ke kantin. Hehe.
Kelas kamu kok enak sih nggak ada guru? Sayang sekali ya, Pak Mardi terlalu rajin dan nggak pernah absen ngajar. Andai aja kelas Nia sama kelas kamu sama-sama nggak ada pelajaran, mungkin Nia lebih konsen ngelihatin kamu makan.
Eh, kamu senyum. Bukan buat Nia sih, tapi Nia ikutan seneng. Seenggaknya Nia lihat senyum kamu. Lucu. Sedikit ngasih semangat Nia buat nyelesaiin ujian volly yang super ngebosenin ini. Tapi pukulan Nia nggak pernah bener nih. Jadi malu kalo kamu lihat.
Astaga, kamu beneran lihat! Ya Tuhan, bagaimana ini? Giliran Nia yang mukul nih. Aduh, please, jangan nengok kesini!
DUNG!
Alamak, bolanya malah kelempar ke belakang. Pukulan macam apa ini? Bodohnya dirimu Nia! Dan semuanya tertawa. Sebodo amat lah! Eh, kamu, kamu ikut ketawa nggak ya? Nia nggak berani lihat nih, malu!
Nia lihat Pak Mardi aja deh! Pak Mardi geleng-geleng kepala dari kejauhan. Dia bilang, “Kamu tuh mau mukul kemana sih? Masa bolanya terbang ke belakang sampai kena kepalanya Dion tuh!”
Hah? Kena kepala kamu? Serius? Eh, iya bener. Eh, eh, kok kamu jalan ke arah Nia? Aduh, Nia malu nih! Mau ditaroh dimana muka Nia? Nia nunduk aja deh.
Sekilas Nia lihat bayangan kamu semakin dekat. Serius deh, Nia nggak berani lihat muka kamu. Padahal kamu bukan monster bermata satu. Tapi jujur, detik ini kamu lebih menyeramkan dari itu.
Bayangan kamu berhenti bergerak. Astaga, bagaimana ini? Baju Nia makin basah sama keringat. Nia bau nih, jangan dekat-dekat Nia. Mending kamu lanjutin makan kamu sana!
“Nia, cepat ambil bolanya!” seru Pak Mardi. Oh iya, bolanya! Dimana ya bolanya? Kok nggak ada?
“Nih!” tiba-tiba kamu menyodorkan benda bulat yang sedang Nia cari. Nia bengong, sedikit malu sih. “Kalo mukul tuh kayak gini,”
DUNG!
Wow! Cool! Bolanya melewati net dan jatuh persis di depan Pak Mardi!
Nia melongo. Nia benar-benar speechless. Kamu senyum lalu pergi.
Pagi hari, ketika saya baru membuka mata, seperti biasa saya mengecek handphone untuk melihat apakah ada pesan yang masuk selama saya tidur. Ternyata ada beberapa pesan masuk via BBM dan 1 SMS. Saya membuka semua BBMnya dan tidak ada satupun yang perlu balasan saya. Lalu saya membuka SMS. Dan saya terkejut dengan isi pesan tersebut.
Mungkin lebih tepatnya terkejut pada siapa yang mengirim SMSnya.
Ialah sahabat lama saya. Namanya Adhi. Isi pesannya singkat. Sangat singkat malah. Dan saya membalasnya dengan pertanyaan. Lalu beberapa menit kemudian dia membalasnya dengan pesan yang lebih panjang yang sempat membuat saya tersenyum beberapa detik. Begini isi SMSnya.
Ah, si Adhi emang paling jago bikin saya ketawa!
Saya memang orangnya cuek, terkesan nggak peduli, atau bahkan lupa sama teman lama. Saya memang jarang duluan mengirim pesan untuk teman-teman saya, terutama teman-teman lama saya. Dan saya tahu kalian pasti berpikiran saya sudah berubah, jadi gaul karena berteman dengan anak-anak gaul disini. Mentang-mentang kuliah di Jakarta...
Semua itu salah. Saya nggak pernah lupa sama kalian. Saya memang jarang mengirim pesan duluan, tapi saya selalu memantau keadaan kalian dari jauh dengan cara saya sendiri. Dan pada dasarnya saya nggak berubah, hanya saja waktu yang menyuruh saya untuk berubah. Kalian pasti tahu maksud saya.
Sekali lagi saya katakan, saya nggak pernah lupa sama kalian, sama curhatan-curhatan kalian, bahkan sama semua cerita tentang kita dulu. Ada tawa sehabis mendapat nilai bagus, tangis saat putus sama pacar, marah saat salah satu diantara kita menjengkelkan, semuanya melebur menjadi satu dalam ingatan saya.
Jujur, saya kangen. Andai jarak dan waktu nggak sekongkol memisahkan kita, mungkin saya ada disamping kalian sekarang.
Entah mengapa, akhir-akhir ini banyak hal yang membuat saya tertegun. Bukan perihal kejutan, tapi semua ini cukup membuat saya terkejut beberapa detik, berpikir sehari semalam lalu membuat kesimpulan sendiri. Saya menyukainya. Saya suka menganalisis apa saja yang tidak terduga terjadi pada saya. Contohnya kata-kata dari beberapa orang disekitar saya.
1.“Lo tuh keponya keterlaluan. Itu artinya hidup lo ngebosenin,”
Ini kata salah satu teman terdekat saya. Saya yang notabennya ceplas ceplos, sempat dibuat tertegun dengan kata-kata itu. Saya memang kepo (mau tau urusan orang lain), tapi apa itu menandakan hidup saya ngebosenin? Ternyata tidak juga. Saya kepo tapi bukan berarti saya mau ikut campur urusan orang lain. Banyak kok manfaat dari kepo. Dengan kekepoan saya ini, saya bisa tau apa yang dirasakan teman-teman saya saat ini tanpa harus mendengar curhatan mereka secara langsung. Ya lewat curhatan mereka di jejaring sosial tentunya. Dan itu cukup membantu saya untuk mengambil sikap dengan mereka yang moodnya sedang tidak baik.
2.“Parah, lo satu-satunya cewek yang bilang gue freak!”
Kata teman lelaki saya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke muka saya. Entah kenapa, saya suka menjadi satu-satunya orang yang melakukan sesuatu. Rasanya seperti Alexander Graham Bell yang pertama kali menemukan telepon.
3.“Nggak usah mikirin kado buat mama, dapetin nilai bagus aja buat kado mama,”
Yes, it’s from my super lovely mom. I love her too much and much. I’ll do my best for her. May Allah answer my pray to give her the best protection in every step she takes.
4.“Sini, Han. Gue kangen,”
Ah, ini dia. Sebuah kata kangen yang bikin saya kangen luar biasa. Itu dari—entah saya harus menyebutnya siapanya saya. Yang jelas saya kangen setelahnya.
5.“Amiiiin,”
Sebuah kata sederhana dari adik semata wayang saya yang mengamini doa dari saya. “Semoga keterima PTN ya”
6.“Tata’ Hani...”
Haha. Itu dari Fariz, si kecil lucu anak mbak kost. Saya senang mendengar suaranya memanggil nama saya. Terdengar polos.
7.“Hidayah itu seperti hujan. Terserah kita mau membiarkannya jatuh atau menadahnya dengan tangan kita,”
Kata kak nungky, mentor saya di forum kedokteran islam. Dia menjelaskan tentang hidayah. Ternyata hidayah itu tidak datang dengan sendirinya. Hidayah itu perlu niat dan kemauan. Dan jangan diam saja! Kejar si hidayah sampai dapat. Allah menyukai orang yang mau belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Pagi ini, kamu datang mengejutkanku. Ini memang bukan kunjungan pertamamu ke rumah baruku. Tapi... kita sudah cukup lama tidak bertemu.
Kamu berubah. Rambut acak-acakan yang dulu sering menjadi bahan omelanku, kini sudah kamu sisir rapi. Ada guratan rambut halus tumbuh di sepanjang kontur rahang bawahmu. Tubuhmu yang dulu kurus kini sudah lebih berisi. Pakaianmu juga lebih rapi ala pekerja kantoran. Dan, ah, ya, kamu sekarang memakai kacamata!
Satu-satunya yang tidak berubah darimu adalah sorot mata itu. Tetap teduh dan hangat. Aku merindukannya. Mungkin juga merindukanmu.
Oh iya, apa kabar?
***
Pukul 16.00, seharusnya kamu sudah sampai di rumahku.
Diluar memang sedang hujan. Aku yakin, kali ini hujan yang akan kamu jadikan alasan untuk datang terlambat. Kamu memang selalu banyak alasan. Padahal aku selalu bilang, aku benci orang yang ngaret!
Handphoneku berdering. Tanda SMS masuk. Sudah kuduga, pasti dari kamu.
From: Angga
Sayang, maaf kayaknya aku datang telat. Hujan deras dan jalanan macet. Tapi aku pasti datang. Wait me there. Love you.
Aku menghela nafas.
Sejam yang lalu aku memang menelpon dan memintamu untuk menemaniku disini. Kamu tau alasannya. Aku benci suara hujan. Ya, hanya itu. Aku akui, aku memang egois karena tidak pernah mengerti dan peduli keadaanmu. Aku selalu marah karena kamu selalu datang terlambat. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah memelukku tanpa berkata sepatah katapun.
Sebenarnya, itu yang aku butuhkan sekarang. Pelukanmu.
To: Angga
Cepatlah datang! Aku nggak suka nunggu lama! Hujan berisik sekali.
Pukul 16.10. Hujan diluar semakin deras.
Tubuhku gemetar dan pikiranku melayang pada hujan setahun yang lalu. Kamu pernah bilang, hujan dan susu cokelat hangat adalah pasangan yang paling serasi. Ya, aku selalu ingat itu. Sayangnya, aku benci hujan dan tidak suka susu cokelat. Tapi mungkin aku bisa membuatkannya untukmu.
Aku paksakan bangkit dari kasur dan menuju ke dapur.
Pukul 16.15. Dingin sekali.
Sweater tebal pemberian dari almarhum nenek tak cukup kuat menahan udara dingin yang menusuk-nusuk kulit. Apa mereka bersengkongkol ingin membunuhku? Ah, aku tidak boleh berpikir negatif. Kamu yang bilang, ‘di dunia ini tidak ada yang negatif kecuali pemikiran dari manusianya’. Aku percaya, karena kamu yang mengatakannya.
Aku berjalan ke ruang tamu sambil membawa segelas susu cokelat. Semoga kamu cepat datang supaya susu ini tidak keburu dingin.
Pukul 16.20. Sepertinya petir murka.
Aku menelungkup dan menutup telinga rapat-rapat. Ini yang aku benci dari hujan. Mereka selalu berisik sehingga membuat petir marah. Berhentilah! Jangan bertengkar dihadapanku!
Pukul 16.25. Rasanya aku mengantuk.
Tubuhku lemas sekali dan kepalaku pusing. Hujan diluar sudah mulai mereda. Kenapa kamu belum juga datang?
Aku ingin tidur. Tapi aku juga ingin melihatmu. Tuhan, aku mohon, aku ingin melihatnya sebentar saja.
Pukul 16.30. Akhirnya.
Pintu rumahku terbuka. Kamu masuk dengan tubuh basah kuyup lalu menghampiriku dan mengecup keningku.
“Sayang, maaf, aku...,”
“Kamu terlambat 30 menit, Sayang. Sekarang aku mengantuk. Aku tidur sebentar ya?”
***
Angga:
Hai, apa kabar, Aira? Sudah lama ya kita tidak bertemu? Maaf aku baru mengunjungimu sekarang. Banyak cerita yang mau aku sampaikan padamu. Boleh ya aku cerita? Setidaknya kamu tidak merasa kesepian.
Aku sekarang bekerja sebagai arsitek di salah satu perusahaan kontruksi di Jakarta. Kamu masih ingat, kan, cita-citaku yang ingin menjadi arsitek? Aku bersyukur Tuhan mengabulkannya. Dan 3 bulan yang lalu aku sempat pergi ke Korea untuk bekerja sama dengan arsitek disana merancang sebuah hotel. Sungguh itu hal paling luar biasa yang pernah aku alami.
Emm, cerita apa lagi ya? Sepertinya ceritaku tidak terlalu menarik buatmu. Mungkin lebih baik kita mengenang masa dulu. Sekalian bernostalgia. Aku masih ingat semua loh!
Aku masih ingat dengan impian-impianmu. Pergi ke pulau terpencil dan membangun rumah sederhana disana, mendirikan museum permen lolipop kesukaanmu, membuat halaman rumahmu penuh dengan bunga dari seluruh penjuru dunia. Haha, aku selalu tertawa setiap kamu mengatakannya. Menurutku, itu konyol. Lalu kamu memasang muka cemberut dan tidak bicara seharian.
Ingat tidak, dulu kamu sering mengomeliku karena rambutku yang berantakan? Haha, mukamu lucu sekali setiap marah. Pipimu jadi tembem dan memerah. Mirip kartun chibi maruko chan. Maka dari itu, aku tidak pernah bisa balas memarahimu.
Aku juga ingat kamu yang benci hujan. Menurutmu, mereka berisik. Lalu kamu menelponku dan memasang waktu untukku sampai di rumahmu. Sayangnya aku selalu terlambat. Dan kamu marah karena itu. Aira, sebenarnya keterlambatanku tidak pernah aku rencanakan. Aku juga tidak tahu kenapa aku tidak pernah bisa on time. Selalu saja ada halangan.
Tapi darimu aku belajar banyak hal. Aku jadi lebih menghargai waktu. Setiap detik itu berharga dan tidak semua orang punya banyak waktu. Ya, sepertimu. Waktumu terlalu sedikit. Dan terlalu cepat.
Andai saat itu aku sampai 30 menit lebih cepat, mungkin aku tidak merasa sebersalah ini. Tapi hari itu aku sedang sial. Mobilku mogok dan harus aku bawa ke bengkel. Lalu aku menaiki taksi. Ternyata, jalanan macet total karena banjir di salah satu ruas jalan. Akhirnya aku memilih berlari ke rumahmu.
Sayangnya, waktumu harus berakhir hari itu.
..........
..........
Aira, istriku juga pengidap kanker sepertimu. Aku sudah berjanji pada Tuhan tidak akan membuang waktunya yang terlalu sedikit hanya untuk menungguku. Terima kasih karena kamu telah mengajarkanku hal-hal kecil yang ternyata bisa merubah seluruh hidupku. Aku tidak akan melupakannya. Dan juga tidak akan melupakanmu. Sampai kapanpun.
Siapa yang tidak suka badut? Dia lucu dan menyenangkan. Khas dengan hidung bulatnya yang berwarna merah tomat, bibirnya yang selalu tersenyum lebar serta perutnya yang gendut membuncit. Setiap orang pasti akan terhibur dengan penampilannya, terutama anak kecil.
Aku memang bukan anak kecil dan aku tidak pernah melihat sesosok badut dari penampilannya. Tidak pernahkah kau berpikir siapa sesungguhnya manusia dibalik “topeng” itu?
Dia badut—makhluk berhidung bulat, berbibir lebar dan berperut buncit, begitulah orang-orang menilainya. Menurutku tidak. Badut itu penipu!
Siapa yang sangka dibalik senyum lebar palsu itu tersimpan kesedihan yang mendalam? Tidak ada yang tahu, kan? Ya, mereka tidak akan tahu dan tak mau tahu apa yang badut rasakan.
Mengapa aku yakin si badut punya kisah menyedihkan? Begini logikanya, apa mungkin si badut memang bercita-cita menjadi badut? Aku yakin tidak ada orang yang mau bekerja setiap hari dengan make up super menor hanya untuk ditertawakan orang-orang kalau tidak karena desakan.
“Asal asap dapur tetap ngebul setiap hari,” begitu katanya sambil tertawa. Aku tahu, tawa itu palsu. Hey badut, sebegitu menderitanyakah dirimu?
Tapi badut tetaplah badut. Apapun masalah yang tersembunyi dibalik "topeng" itu, badut akan tetap terlihat lucu kan?
[Aku harus bagaimana? Semuanya sudah terlanjur. Memang tak seharusnya mendung itu tetap disini. Bukankah aku sudah berkata "aku rela"? Maafkan aku, ini memang salahku]
Hari ini hujan kembali turun
Namun ada yang aneh
Setiap rintiknya terasa hambar
Tik... tik... tik...
Kosong, tak ada nyawa di dalamnya
Tik... tik... tik...
Kemana hujan yang biasanya?
Tik... tik... tik...
Aku:
Hey, ini sakit! Jangan sembarangan mengetuk pintu!
Kau tidak tahu pintu yang ini begitu istimewa
Kalau kau mau masuk harus pelan-pelan...
Janji ya?
Hujan pun mengangguk. Pintu itu terbuka perlahan. Seketika hujan terkejut.
Hujan:
Kenapa ada banyak kotak disini?
Berserakan, jauh lebih berantakan dari sampah
Katamu pintu ini istimewa?
Kalau seperti ini dalamnya, apa istimewanya?
Aku:
Dulu, ruang dibalik pintu ini begitu indah.
Kotak-kotak ini tersusun rapi.
Kau akan senang bermain disini, bersamaku.
Namun semuanya berubah.
Kotak terindahku telah dicuri orang.
Hujan:
Kotak apa yang dicuri?
Siapa yang berani mencurinya?
Aku:
Sekotak senyuman, makhluk bernama lelaki yang mencurinya.
Sekarang aku sudah lupa bagaimana caranya tersenyum.
Bisakah kau ajarkan aku?
Hujan:
Aku tidak bisa mengajarkanmu.
Tapi aku akan memberikanmu sesuatu.
Hujan menyerahkan kotak yang entah apa isinya.
Aku:
Apa ini kotak senyuman?
Hujan:
Bukan, ini kotak harapan.
Dengan kotak ini kau akan mampu menemukan senyummu kembali.
[Pergilah. Menjauhlah. Kali ini kupastikan semuanya sudah kembali seperti semula. Mendung itu sudah pergi. Aku baik-baik saja. Terima kasih telah menjadikannya sebagai jawaban, bahkan sebelum aku mengatakan "Aku mencintaimu"]
Heran. Aku mengherani kelakuanku sendiri. Kenapa mataku tak bisa lepas sedetikpun dari wajah lembayung itu? Wajah yang sedari tadi tak pernah membalas tatapanku—walaupun aku tahu sebenarnya dia menyadari aku sedang memperhatikannya.
Sekali lagi, aku menghela nafas. Mencoba tersadar dari kenyataan yang sesungguhnya. Tapi entah mengapa aku seakan tak ingin kenyataan itu ada. Aku ingin seperti ini saja. Duduk manis dan hanya diam sambil menikmati setiap garis lekuk wajahnya dan berhenti tepat disatu sudut lengkung bibirnya. Manis. Dia manis sekali seperti gula.
Hey, Aldy, sadarlah!
Suara-suara semacam itu terus menghantam gendang telingaku. Argh, aku benci hidup seperti ini. Hati dan pikiranku sedang tak bisa singkron menghadapi kenyataan. Aku ingin marah, tapi sayangnya aku tidak tahu harus marah dengan siapa. Dengannya? Dengan semua hari-hari bersamanya? Atau yang salah adalah awal mula perkenalan kami? Sepertinya memang yang patut disalahkan adalah perkenalan itu.
Tidak seharusnya aku berada ditoko buku itu. Tidak seharusnya aku membeli buku Astronomi itu. Tidak seharusnya dia menyukai buku yang sama. Tidak seharusnya kami berkenalan, berbicara tentang banyak hal, dan mulai menjalin tali persahabatan. Tidak seharusnya takdir kami berakhir seperti ini.
Dan sekarang aku terjebak. Terjebak dalam hal yang aku sendiri sulit untuk menjelaskannya. Dan dia... ah, dia semakin hari semakin mempesona. Mata bulat itu, hidung mungil itu, bibir tipis itu... ck! Mengenaskan sekali aku.
Dia menoleh, menatapku sejenak. “Rasanya aneh, tapi aku akan berusaha membiasakan diri memanggilmu kakak,” ujarnya sambil tersenyum. Matanya menerawang seakan berusaha menelusuri apa yang ada dipikiranku. Bodoh! Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dalam pikiranku. Pikiranku sedang kosong.
“Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang ingin disampaikan?” dia bertanya seperti mengintrogasiku.
Aku terdiam sesaat. Beberapa detik kemudian sebuah kalimat yang tak kusadari meluncur indah dari mulutku. “Tak bisakah untuk hari ini saja jangan anggap aku sebagai kakak tirimu? Aku mencintaimu, Elia,”
Saat itu saya sedang menikmati pemandangan sepanjang perjalanan menuju desa Sukatani melalui kaca mobil saya. Terbantang hamparan warna hijau berkilauan karena diterpa sinar matahari bertautan dengan siluet biru muda khas langit. Sungguh lukisan Tuhan yang begitu menakjubkan.
Desa Sukatani adalah desanya para petani yang terletak dipinggiran kota Bekasi. Selama perjalanan, mata saya seakan disegarkan oleh keasrian tanaman padi yang masih hijau maupun yang sudah menguning. Ketika saya menurunkan kaca mobil, WUSSSSSHH! angin menampar-nampar wajah saya lembut. Mata saya terpejam, berusaha merasakan setiap jengkal nikmat yang diberikan Tuhan. Alhamdulillah wa syukurillah J
Dan angan saya mulai memutar kembali memori beberapa tahun yang lalu, tepat ketika seragam putih abu masih menceritakan kisahnya...
Bekasi, 2010
“GESEEEEEKKKK!!!!” teriak seorang anak laki-laki mengacaukan suasana kelas yang sunyi senyap. Mendadak beberapa anak lelaki maju ke depan kelas dan menggotong tubuh seorang anak laki-laki yang sedang duduk kalem mencatat rumus matematika yang ada di papan tulis. Kebetulan guru yang bersangkutan sedang ada urusan setelah meninggalkan coretan tangannya terlebih dahulu.
Si anak yang digotong, lalu berteriak memohon “EH GILA LO SEMUA PLEASE JANGAN GUEEEEEE!!!”
Namun permohonan anak tersebut ditolak dan tubuhnya sudah dibawa secara paksa menuju sebuah pilar penyangga gedung sekolah. “GESEEEEEKKKK!!!” teriakan mengomandoi dari salah satu anak yang diikuti penarikan paksa kaki si anak yang digotong sehingga terbuka membentuk huruf V lalu bagian vitalnya digesekkan ke pilar tersebut. Sadis!
Si anak yang digotong merintih kesakitan. Namun sayang, rintihannya malah ditertawakan dengan anak-anak lain. Setelah puas mengerjai, anak tersebut dibebaskan dari siksaan “Gila! Kenapa harus gue sih yang kena gesek?”
“Karena lo belom jadi murid laki-laki kalo belom kena gesek,”
Haha. Permainan gesek menggesek itu memang menjadi tontonan yang mengasyikkan bagi murid kelas 12 saat itu ditengah padatnya jadwal sekolah, ditambah PM (Penambahan materi) dan bimbel. Walaupun sudah banyak korbannya, namun tidak ada satupun anak yang menyimpan dendam. Justru permainan ini menjadi kenangan tersendiri dibalik usangnya seragam putih abu kami sekarang.
Ngomong-ngomong soal gesek-menggesek, nggak afdhol kalo kita nggak ngomongin siapa penciptanya. Permainan ini diciptakan oleh sekelompok anak laki-laki, yang bisa dikatakan tidak pernah mendapat perhatian khusus dari warga sekolah. Mungkin bagi anak-anak lain, mereka hanyalah segerombol anak bandel yang sukanya duduk di bangku belakang, selalu membuat keributan, dan tidak pernah mencetak prestasi di bidang akademik sekalipun. Namun entah mengapa, seiring berjalannya waktu, mereka mampu menunjukkan bahwa mereka itu "ada", mereka juga merupakan bagian warga sekolah yang patut dibanggakan.
Mereka adalah Palbis Family atau biasa disingkat PBF. Terdiri dari 9 pejantan tangguh dengan karakter dan keunikan masing-masing. Inilah wajah mereka.
Dari kiri ke kanan: Surya, Daus, Arha, Dimas, Ega, Opang, Ocid, Salman, Putu
Ide gila terlintas di benak saya. Saya ingin menulis kisah mereka dan (syukur-syukur bisa) menjadikannya sebuah novel. Kenapa harus mereka? Karena menurut saya kisah mereka menggambarkan dunia putih-abu yang sesungguhnya. Dunia dimana mimpi, harapan, ego, cita-cita, cinta, persahabatan, persaingan bercampur aduk menjadi satu ramuan bernama kenangan.
Semoga saja ide ini tidak sekedar niat namun bisa terlaksana, insya Allah :)
Mendung tidak selamanya menyedihkan. Itu yang kamu ajarkan padaku. Aku tahu, kadang pilihan yang menyakitkan itu adalah yang terbaik. Dan hidup akan terus berjalan. Tidak ada lagi kita. Yang ada hanya aku dan kamu. Ya, aku dan kamu. Cukup lama aku berusaha memahaminya. Walaupun nalarku tak pernah dapat meraihnya.
Kenapa? Hanya “kenapa?” yang terus berputar di otakku saat itu. Mungkin aku sedikit shock dengan dunia yang berubah tiba-tiba. Aku tahu kamu sudah memikirkannya lebih jauh dari yang aku pikirkan. Bahkan sampai hal tersensitif yang bernama perasaan.
Kamu pikir aku akan kuat. Ya, aku kuat. Bahkan sampai kamu mengatakan “Kita akan tetap berteman seperti biasa” dan aku tahu semua tidak akan berjalan biasa. Karena cerita “kita” telah berubah menjadi cerita “aku” dan cerita “kamu”.
Hey, bukankah mendung hanya sesaat?
Aku tahu kamu lebih tegar dari yang terlihat. Ya, kita memang sama-sama tahu. Waktulah yang memberitahu.
Wanita : Adakah hal yang membuatmu takut selama ini selain Allah?
Pria : Tidak ada. Sesungguhnya Allah lah penciptaku, tidak ada yang perlu aku takuti selain Dia.
Wanita : Adakah hal yang ingin selalu kau lakukan setiap hari selain mendekatkan diri pada Allah?
Pria : Tidak ada. Semua yang kulakukan, insya Allah, hanya untuk mencari ridha-Nya
Wanita : Bolehkah aku tahu satu doa yang selalu kau panjatkan pada Allah setiap dua pertiga malam?
Pria : Aku ingin Allah selalu meneguhkan hatiku untuk berjuang di jalan-Nya
Si wanita pun terdiam dengan wajah tertunduk sedih.
Pria : Jika aku boleh tahu, mengapa kau menanyakan itu semua padaku?
Wanita : Jawabanmu memang sungguh luar biasa, Pria-ku. Namun maafkan aku, sesungguhnya aku hanyalah wanita biasa, yang ingin sekali kau cintai hingga kau takut kehilanganku, yang ingin sekali kau manja dengan kasih sayangmu setiap hari, dan yang ingin sekali kau selipkan namanya dalam setiap doa-doamu
Si pria tersenyum sembari menenggakkan wajah wanitanya.
Pria : Wanita-ku, aku mencintaimu karena Allah, dengan jalan yang ridhoi Allah, dan untuk mendapatkan ridho Allah. Adakah hal yang masih kau sangsikan?
Wanita : J
The End
Saya tidak tahu mendapat inspirasi darimana menulis ini.
Saya hanya mengagumi mereka yang berani menikah muda.
Saya cuma ingin share tentang pengalaman saya dengan jilbab yang sudah saya kenakan sejak kelas 4 SD. Semoga bisa jadi pembelajaran :)
Awal mulanya, saat itu saya kelas 1 SD. Saya bersekolah di sebuah sekolah islam bernama SD Muhammadiyah 15 Surabaya. Di sekolah saya yang cukup sederhana itu pertama kalinya saya diajarkan tentang makna berhijab dan memang seluruh murid perempuan diharuskan berjilbab disana. Entah kenapa, mungkin karena sudah terbiasa, saya bilang ke ibu saya, saya ingin memakai jilbab kemana-mana. Sayang, ibu saya malah berkata, "Kamu masih lucu kalo pake baju-baju gini" sembari menunjuk dress saya yang tanpa lengan dengan rok mengembang super mini. Ibu saya saat itu memang belum berjilbab dan dia melihat potensi saya yang suka bergaya di depan kamera. Niat itu pun luntur seketika.
Kelas 2 SD. Saya pindah ke Makassar dan melanjutkan sekolah disana mengikuti ayah saya yang harus pindah tugas. Sekolah saya kali ini tambah tidak mendukung saya untuk memakai jilbab. Saya bersekolah di SD Negeri IKIP 1. Sekolah negeri, ya, sekolah yang tidak mengharuskan murid perempuannya berjilbab. Namun dari sekolah ini saya mendapat seorang sahabat yang menurut pandangan saya sungguh luar biasa.
Namanya Aini. Anaknya cantik dan pintar. Dia satu-satunya murid perempuan yang berjilbab dikelas saya. Saya kagum dengannya. Dia anak yang sangat berani. Berani tampil di depan umum, berani membela saya kalo ada yang iseng dengan saya, dan pastinya berani menjadi beda dengan jilbabnya. Suatu ketika dia mengajak saya membuat sebuah janji atas nama persahabatan.
Aini : "Kamu pakai jilbab dong, Han, biar sama kayak aku. Kan kita sahabat,"
Saya : "Tapi aku malu"
Aini : "Dicoba dulu. Masa belum dicoba udah malu,"
Saya : "Ntar aja deh pas kelas 5"
Aini : "Yaaaah, yaudah deh. kelas 5 ya? Janji?" (menyodorkan jari kelingking)
Saya : (mengaitkan jari kelingking ke kelingking Aini) "Janji"
Siapa yang menyangka ternyata janji kecil itu yang merubah saya. Namun sayang, sebelum saya dan Aini naik ke tingkat 5, kami harus berpisah. Saya pindah ke Bekasi (lagi-lagi karena ayah saya pindah tugas) dan Aini harus pindah ke Jayapura, Irian Jaya. Jarak yang begitu jauh membuat saya sedih dan bingung bagaimana berkomunikasi dengan Aini. Masalahnya kami belum punya handphone dan tidak ada yang tau alamat kami yang baru. Saya dan Aini benar-benar lose contact.
Janji itu, saya masih mengingatnya. Mungkin hanya janji itu yang mengikat kami. Kebetulan di Bekasi ini saya kembali bersekolah di sekolah islam. SD Bani Saleh 3. Saya resmi memakai jilbab di kelas 4 SD. Awalnya mungkin karena Aini, namun lama kelamaan saya menyadari kalau saya memang benar-benar ingin memakai jilbab. Alhamdulillah ibu saya juga sudah memakai jilbab dan mengizinkan keinginan saya ini. Sampai saat ini, terhitung kurang lebih sudah 9 tahun saya memakai jilbab. Segala puji bagi Allah :)
Untuk teman-teman yang belum berjilbab, segeralah memakai jilbab. Karena jilbab itu yang membedakan wanita muslimah dengan wanita-wanita lain. Jangan berkata "Saya ingin menjilbabi hati saya dulu baru memakai jilbab". Kawan, justru jilbab yang yang akan menjilbabi hati kamu. Ketika kamu sudah berjilbab, otomatis jilbab yang akan membatasi diri kamu terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan tuntunan Al-quran dan As-sunah.
Dalam Al-quran jelas tertera,
"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."