P.s: baca cerita dibawah ini sambil dengerin lagu berikut, biar feelnya dapet :)
“DASAR LELAKI BIADAB!!! KAMU PIKIR SAYA NGGAK BISA HIDUP
TANPA KAMU!!!”
“Oh ya? Coba buktikan! Aku nggak yakin kamu bisa, HAHAHA,”
“BRENGSEK!!!”
“Sudahlah, Ndah. Semua makhluk di bumi ini juga tahu hidup
kamu itu bergantung sama aku,”
“Dari awal seharusnya saya sadar kalau kamu itu PENGECUT!!!”
“Pengecut? Hei, aku tahu kamu juga nggak tahan merawat anak
sial itu!”
PLAK!!!
***
Cekrek!
Aku memutar
ganggang pintu perlahan. Rupanya tidak dikunci. Hatiku jadi semakin cemas tidak
karuan. Pasalnya, tidak biasanya dia menelponku dan menyuruhku segera menuju ke
rumahnya.
Dari luar,
rumah itu terlihat sepi. Jujur, aku selalu mengagumi rumah bergaya minimalis
dengan pemandangan pantai itu. Pekarangannya yang indah, jalanan yang selalu
sunyi, dan suara ombak yang bergemuruh seakan ingin mengajak orang-orang yang
mendengarnya melelapkan diri kedalamnya.
Dan begitu aku
melangkahkan kaki memasukinya, aku terkejut setengah mati. Suasana didalam 180⁰ lebih menakutkan dan mengerikan.
Mungkin benar kata orang, rumah itu penuh misteri yang tidak pernah terpecahkan
sejak berabad-abad lamanya. Gelap. Hening. Sangat berantakan. Yang terdengar
hanya deru ombak memanggil-manggil.
Mataku terus
mencarinya. Jantungku berdegup lebih cepat seperti pelari maraton yang dipaksa
lari 100 putaran stadion Gelora Bung Karno. Gila, ini gila. Bulu kudukku
langsung berdiri. Lututku terasa lemas, padahal aku tidak mengidap arthritis.
Aku berharap dia baik-baik saja. Tapi dia dimana?
Setelah 15
menit aku mengitari isi rumah itu, entah mengapa tiba-tiba langkahku tertuntun
menuju pintu kaca belakang rumah yang tebuka lebar. Seperti ada yang
menarik-narik kakiku dan memberitahu dia ada disana.
Dan ternyata memang
benar. Dia disana. Duduk di ujung sebuah jetty yang terbuat dari kayu menuju
laut lepas yang keindahannya tiada tara. Dia tidak terlihat, hanya tampak
seperti siluet yang membaur dalam sunset. Siluet terindah yang pernah ada di muka
bumi.
Siluet itu
bernama Tasya. Gadis cantik berwajah tirus dengan rambut pendek sebahu. Aku
lupa kapan pertama kali mengenalnya. Yang aku tahu, setiap hari dia mampu
mencuri seluruh memori otakku sampai aku nyaris gila.
Seperti saat
ini.
Aku melewati
pintu kaca itu dan melangkah perlahan dengan perasaan yang campur aduk. Aneh. Ini
semua terlalu aneh. Aku merasa ada yang janggal. Di setiap kayu yang menjadi
pagar pembatas jetty ini terikat balon-balon berwarna putih. Lalu pada kayu
yang aku injak terlihat banyak jejak kaki berwarna merah.
Putih? Merah?
Pertanda apa ini?
Pikiranku
langsung tertuju padanya. “Tasya!”
Dia menoleh. Hening
sesaat. “Sini,” Tangannya menepuk-nepuk kayu disebelahnya pertanda aku harus duduk disana.
“Kamu kenapa disini sendirian?”
“Tasya pengen
lihat sunset,” ada seulas senyum tipis diantara kedua pipinya yang tirus.
Aku tahu, dia
memang pengagum nomer satu fenomena tenggelamnya matahari. Dia selalu cerita,
andai dia punya kesempatan kedua, dia mau terlahir sebagai matahari yang punya
cahaya terbesar segalaxi bimasakti. Tapi menurutku, dia tidak perlu berpikir
demikian.
Karena dia
memang matahari.
“Kamu nggak
papa, kan?” aku serius mengkhawatirkannya.
Hening kembali.
Dia mengayun-ayunkan kaki sampai ujung kakinya menyentuh air laut dan membentuk
gulungan ombak kecil.
“Tasya?”
“Mereka teriak
lagi. Tasya benci mereka,”
Aku tahu siapa
yang dia maksud.
“Mereka jahat!
Sampai kapan mereka mau teriak di depan Tasya? Tasya salah apa? Mereka nggak
perlu sayang sama Tasya. Tasya cuma pengen mereka diem,”
Aku menggenggam
tangannya. Erat. “Kamu jangan takut, ada aku disini,”
“Tasya nggak
takut. Sekarang mereka udah diem kok. Selamanya. Selamanya Tasya nggak bakal denger
suara mereka lagi. Hehehe,”
Keningku
berkerut. “Maksud kamu?”
Tiba-tiba angin
berhembus lebih kencang dari biasanya. Segerombol awan hitam berjalan dan
merusak pemandangan sunset yang begitu indah sore itu. Ditambah suara petir yang
menggelegar membuat suasana menjadi kelabu dalam sekejap.
Dia tersenyum. Senyum
termengerikan yang pernah dia tunjukkan untukku.
“Tasya, apa yang
udah kamu lakuin?”
Dia diam tapi
tatapannya tertuju pada genggaman tanganku. Entah feelingku yang salah atau bagaimana, tapi tatapan itu seakan
menjadi pertanda bahwa jawaban dari pertanyaanku ada disana. Aku melepaskan
genggamanku perlahan.
Merah. Ada
warna merah lagi.
Mataku
terbelalak kaget. YA TUHAN! Ini... ini... “Darah?” aku manatap nanar telapak
tanganku yang berlumuran darah. “Tasya, kamu...?” belum sempat aku bertanya,
dia kembali memberiku kejutan lain.
Tangannya
terayun kedepan. Jari telunjuknya menunjuk sesuatu. Sesuatu disana, di tengah
laut. Mengambang. Terseret ombak kesana kemari. Itu...
Astaga! Itu
manusia! Ya, aku yakin aku tidak salah lihat. Itu manusia. 2 manusia yang sudah
berwujud mayat.
Aku terlonjak
kaget. Refleks aku berdiri dan menjauh dari gadis itu. “Kamu... Kamu membunuh
mereka? Kamu gila, Sya!”
Lagi-lagi dia
tersenyum. Sial! Itu bukan senyum Tasya. Dia pasti sedang dimasuki roh halus. “Apa
kamu bilang? gila? Kamu bilang Tasya gila? Hahaha,” dia bangkit dari tempat
duduknya. Lalu kejutan ketiga muncul dan sukses membuat jantungku terlepas dari
posisinya.
Putih lagi.
Lalu merah. Dress baby doll putihnya
berlumuran darah. Tiba-tiba kakinya melangkah mendekatiku, meninggalkan jejak
berwarna merah. Merah lagi. Lalu putih. Wajah itu memutih. Pucat. “Iya, KAMU
GILA! Ini sudah gila namanya! KETERLALUAN!”
“KAMU YANG
GILA! Belum sadar juga? HAHAHA,” dia tertawa terbahak-bahak seperti mendapatkan
energi petir yang berebut bersahut-sahutan. Bulu kudukku kembali berdiri. Aku
hendak mundur tapi langkahku terpentok pada pagar kayu pembatas jetty. Sial!
Kalau aku mundur selangkah lagi, aku akan jatuh ke laut.
“PERGI! PERGI
KAMU DARI SINI! KAMU EMANG UDAH BENAR-BENAR NGGAK WARAS!”
“Hei, yang
nggak waras itu siapa?” Dia mengepungku. Semakin lama semakin mendekat, sampai tangannya
berhasil membelai pipiku. “Rendy sayang... kamu pikir Tasya nyata?”
“Hah?” keningku
berkerut lagi. Apa-apaan ini?
“Kamu belum
sadar ya kalau kita satu? Tasya itu kamu. Kamu itu ya Tasya. Jiwa kita sama. Kalau
menurut kamu Tasya gila, sesungguhnya kamu yang gila,” kali ini tangannya
mengelus rambutku.
Kepalaku
mendadak sakit. Sakit sekali. Dia pasti melakukannya lagi. Dia hendak mencuri
seluruh memori otakku. Ya Tuhan, tolong hentikan ini! Sakit Sekali... “AAAARRRGGHHH!!!”
Berisik.
............................................
lalu hening.
Pandanganku
mengabur. Semua berputar. Aku tersedot dalam mesin waktu. Lalu aku tersadar.
Sekelilingku sepi. Aku dimana? Putih. Semua putih. Tidak ada apa-apa disana.
Yang ada hanya sebuah layar besar yang sedang memutar sebuah film.
Adegan 1
Sebuah taman.
Tasya disana. Duduk disebuah ayunan dengan wajah yang begitu gembira. Hei, ada
aku juga!
“Kamu mau es
krim?” kataku sambil menyodorkan es krim cone
rasa vanilla.
“Mau!” dia
meraihnya lalu menjilatnya dengan penuh keceriaan. “Hmm, enak,”
Aku
memandangnya. Cukup lama. “Sya, kamu punya mimpi nggak?”
“Punya,”
“Apa?”
“Tasya pengen
jadi matahari,”
“Matahari?”
“Tasya pengen
bercahaya, Ren. Tasya pengen nggak ada orang yang takut gelap lagi karena Tasya,”
Adegan 2
Sebuah ruang
tamu dalam rumah bergaya minimalis. Ada 2 aktor disana. Seorang pria—kekar, berwajah garang, berkumis,
memakai kaos oblong dan jaket kulit dengan seorang wanita yang mungkin 5 tahun
lebih muda dari si pria—cantik,
rambut panjang dan dicepol asal, memakai daster berwana biru langit. Wajahnya
mirip denganku.
“DASAR LELAKI BIADAB!!! KAMU PIKIR SAYA NGGAK BISA HIDUP
TANPA KAMU!!!”
“Oh ya? Coba buktikan! Aku nggak yakin kamu bisa, HAHAHA,”
“BRENGSEK!!!”
“Sudahlah, Ndah. Semua makhluk di bumi ini juga tahu hidup
kamu itu bergantung sama aku,”
“Dari awal seharusnya saya sadar kalau kamu itu PENGECUT!!!”
“Pengecut? Hei, aku tahu kamu juga nggak tahan merawat anak
sial itu!”
PLAK!!! Si wanita menampar si pria. Lalu terdengar suara
tangisan.
Adegan 3
Sebuah pintu
besar. Tiba-tiba pintu itu terbuka. Kamera menyorot 2 orang sedang
berbincang-bincang di dalam. Seorang lelaki berjas putih dengan seorang wanita
yang tidak terlihat karena membelakangi kamera.
“Dia mengidap
schizofrenia,” kata si lelaki berjas putih.
“Schizofrenia?”
“Ya,
schizofrenia. Sejenis gangguan jiwa yang sangat hebat. Perasaan, pikiran, dan
perbuatannya menjadi terpecah dan telihat tidak serasi. Kadang dia bisa tertawa
padahal hatinya sedang sedih, atau sebaliknya. Terlihat tidak sinkron dan
sering berubah-ubah,”
Hening.
Si wanita
menunduk.
“Bu, apa anak
Ibu pernah berkata bahwa dia melihat sesuatu yang Ibu tidak lihat atau
mendengar sesuatu yang tidak Ibu dengar?”
“Sering, Dok.
Dia sering berkata bahwa dia melihat gadis cantik sedang duduk di ujung jetty
rumah kami setiap sore. Saya juga sering melihat dia seperti berbincang dengan ‘sesuatu’
yang tidak saya lihat,”
“Sudah saya
duga,” lelaki berjas itu menyandarkan punggungnya pada kursi, “Penderita
schizofrenia memang sering mengalami halusinasi. Mereka menciptakan sosok-sosok
sendiri dalam khayalan mereka yang mungkin akan terus menghantui sepanjang
hidup mereka,”
“Apa dia bisa
sembuh, Dok?”
“Bisa, tapi
sulit. Karena...,” kalimat lelaki berjas putih itu menggantung setelah
melihat ke arah kamera.
Beberapa detik
kemudian, si wanita menoleh, mengikuti arah pandangan si lelaki berjas putih.
Ternyata dia wanita yang sama seperti pada adegan kedua.
“Re... Rendy?”
Adegan 4
Lokasi sama
seperti pada adegan kedua. Tapi kali ini di dalam sebuah kamar. Ada aku dan
wanita tadi. Aku terbaring diatas ranjang sedangkan si wanita duduk disampingku
dan mengelus-elus rambutku lembut. Matanya bengkak dan berair.
“Semua akan
segera membaik, Sayang. Ibu akan menjagamu dan tidak akan membiarkan orang lain
membuatmu terluka. Bahkan ayahmu sendiri. Ibu berjanji, selama nafas Ibu masih
berhembus, Ibu tidak akan membiarkan lelaki itu menyentuh dan menyakitimu.
Karena kamu anak Ibu satu-satunya. Anak kebanggaan Ibu. Ibu sayang kamu,”
Wanita itu
mengecup keningku.
Adegan 5
Tasya. Dia
berdiri di ujung jetty. Angin membuat rambut dan dress baby dollnya bergerak-gerak. Sekilas aku melihat dia
tersenyum lalu melambaikan sebelah tangannya.
Kemudian dia
membalik badan. Tiba-tiba semua menjadi buram dan berkabut. Lama kelamaan dia
hanya terlihat seperti sebuah siluet. Siluet dalam kegelapan. Semakin lama
semakin kabur dan menjadi tidak terlihat.
Lalu hilang.
Tasya menghilang.
Adegan 6
Kali ini rasanya
aneh. Adegan ini terasa nyata karena yang menjadi aktor satu-satunya adalah
aku.
Aku berada di
sebuah jetty. Sepi. Tidak ada siapa-siapa disana. Nafasku tersengal-sengal dan
seluruh tubuhku merinding. Aku berlumuran darah. Wajahku, badanku, tanganku sampai
kakiku yang meninggalkan jejak berwarna merah. Aku tersentak lalu melihat
kesekelilingku. Banyak cipratan darah dimana-mana. Bahkan sampai balon-balon putih
yang terikat di pagar kayu pembatas jetty berubah warna menjadi merah.
Aku mundur
beberapa langkah sampai aku terjatuh karena menabrak sesuatu. Sesuatu yang
besar. Aku mengucek mataku. Tidak mungkin, aku pasti salah lihat. Aku kucek
sekali lagi. Dua kali. Tiga kali. Dan semua semakin terlihat jelas.
Aku.....................................
aku menabrak mayat!
2 mayat yang
ditumpuk. Mayat pria dan wanita yang terdapat pada adegan kedua. Dan didekat
mayat-mayat itu—tepatnya di
ujung kakiku—ada sebuah
pistol tergeletak. Aku lekas mengambil pistol itu. Kalau-kalau si pembunuh itu
muncul, setidaknya aku bisa membunuhnya terlebih dahulu.
Sedetik...
Semenit....
................................
beberapa menit berikutnya, tidak juga ada yang muncul.
Aku memandang
pistol itu lekat. Lalu tatapanku tertumbuk pada mayat-mayat itu. Pistol...
mayat... pistol... merah... darah...
Aku... aku yang
membunuh mereka?
Tidak mungkin.
Rasanya ini mustahil. Bagaimana mungkin aku membunuh mereka tapi aku tidak
sadar?
Aku membunuh
mereka.
Aku membunuh.
Aku pembunuh.
Aku...
pembunuh?
Hatiku
bergemuruh. Pistol ini... aku membunuh mereka dengan pistol ini. Nafasku
menderu dan mataku panas. Apa yang sudah aku lakukan? APA YANG BARU AKU LAKUKAN,
TUHAN?
Jemariku
menekan pemantik pistol lalu mengarahkannya...................................
Sore ini, seharusnya cahaya
orange yang merambat memasuki jendela kamarku. Tapi awan hitam menutupinya dan
membuat segala sesuatunya menjadi lebih gelap. Anehnya, ada perasaan bahagia
yang mencuat setiap kali aku melihat mendung membungkus matahari. Itu artinya
hujan akan segera turun. Dan itu juga berarti dia akan segera muncul.
Yah... setidaknya dalam pikiranku
sendiri.
***
5 tahun yang lalu...
Hujan turun tidak terlalu deras.
Aku menikmati setiap rintiknya sambil membekap tanganku dalam saku jaket.
Dinginnya sungguh luar biasa. Kalau saja besok tidak ada ujian statiska, pasti
aku sudah menerobos hujan sedari tadi. Mungkin terdengar sedikit
kekanak-kanakan, tapi aku suka hujan-hujanan. Membiarkan setiap tetesnya jatuh
diatas kepalaku adalah salah satu caraku mencintai hujan. Aku suka hujan.
Sangat suka.
Cekrek!
Aku menoleh dan mendapati seorang
lelaki yang lebih tinggi dua jengkal dariku sedang memainkan kamera canonnya. Posisi
berdirinya tidak jauh dariku. Mungkin hanya satu meter.
Cekrek!
Dia memotret sekali lagi. Dua
kali. Tiga kali.
“Kamu suka hujan?”
Sekilas aku melihat ekspresi terkejut
dari wajahnya, lalu dia menoleh. Dingin, itulah kesan pertama yang aku tangkap
dari mimik mukanya saat menatapku untuk kali pertama. Ada jeda hening yang
cukup lama sampai akhirnya dia membuka mulut.
“Suka banget,” jawabnya singkat lalu
kembali asyik memotret sesuatu diatas kepalanya. Mataku mengikuti arah bidikan
lensanya. Genteng.
Keningku berkerut. “Kok hujannya
di foto?” Baru kali ini aku menemukan seseorang yang sebegitu sukanya sama
hujan sampai diabadikan dalam lensa kamera.
“Biar bisa ngelihat hujan setiap
hari,”
“Kenapa nggak dirasain aja?” Aku
memejamkan mata dan mulai merasakan jiwaku bersatu dengan hujan. “Ngerasain
hujannya harus pake hati. Rasanya tenang, damai, semua masalah seakan tiba-tiba
menghilang. Terus tarik nafas perlahan. Cium bau hujan. Hmmm... rasanya seperti
kembali hidup,”. Aku membuka mata dan mendapati dia memperhatikanku dengan
seksama. Aduh, jadi malu.
Dia tersenyum, aku pun meralat
perkataanku bahwa dia adalah manusia dingin. Dia nggak dingin, tapi sejuk.
Senyumnya teduh. “Setiap orang punya cara masing-masing buat nikmatin hujan,”
“Ah, aku setuju banget!”
“Kamu mau tahu nggak cara lain
yang asyik buat nikmatin hujan?”
“Emang gimana?”
“Minum teh susu hangat. Mau coba?”
“Sekarang?”
“Mumpung masih hujan,”
Detik berikutnya meluncur di luar
perkiraanku. Aku baru mengenalnya. Namanya Adit. Dia anak jurusan teknik sipil yang
kampusnya bersebelahan dengan kampusku. Hobbynya fotografi dan hujan adalah
objek kamera favoritenya. Menurutnya, hujan dan teh susu hangat adalah
kolaborasi paling top yang nggak ada tandingannya. Dan aku setuju setelah mencobanya
di cafetaria kampus bersamanya.
Aku nggak nyangka, hujan akan
mengikat kami sedemikian dekat. Walaupun beda kampus, tapi saat hujan turun,
dia rela berlari menuju kampusku dan mencariku. Lalu kami ngobrol dan membicarakan
apa saja sambil menikmati secangkir teh susu hangat. Begitu seterusnya. Hujan seakan
sudah menjadi sinyal bahwa kami harus bertemu.
Sampai suatu ketika hujan kembali
turun...
Aku mengaduk-aduk teh susu
hangatku sambil meresapi “rasa hujan” yang begitu nikmat. Tiba-tiba sebuah
pesan singkat masuk ke dalam handphoneku.
Sender: Hujanku
Maaf telat, Sayang. Masih ada dosen nih. Diluar hujan ya? Cieee, pasti
kamu kegirangan deh.
Seketika itu juga aku memandang
hujan. Entah kenapa sebersit senyum terbit dari dasar hatiku. Aku tahu,
hujanlah yang membawa kebahagiaan itu. Tanganku merogoh sesuatu dalam tas. Sebuah
note dengan pulpen yang aku selipkan di ulirnya. Jemariku pun mulai menari diatas
kertas yang masih suci.
Aku menyebutnya hujan.
Bulirnya meneduhkan bahkan sampai ke relung yang
terdalam
Bersamanya aku menemukan duniaku
Bolehkah
aku menyimpannya?
Setidaknya untuk ku kenang sendiri.
“Raina!”
Mendengar namaku dipanggil, mataku
langsung teralih pada sumber suara. Aku terkejut sepersekian detik.
“Adit!”
Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti
saat kami bertemu. Senyum teduh yang mampu menghujaniku dengan berjuta-juta
kekaguman. Tapi bedanya, kali ini senyum itu bukan untukku.
“Kamu udah nunggu lama ya? Maaf
banget ya, tadi dosennya ngaret,”
“Nggak papa kok. Nih, aku udah
pesenin kopi kesukaan kamu,”
“Terima kasih, Sayang,”
Aku tersenyum lalu melirik
beberapa senti ke arah meja di belakang mejaku. Dia disana, masih dengan teh
susu hangatnya. Ada suara gelak tawa perempuan yang terdengar membaur dengan bunyi hujan.
Sepertinya, dia sudah menemukan “hujan”nya. Begitu juga dengan diriku.
Tiba-tiba dia memiringkan
kepalanya sedikit dan mata kami bertemu pada satu titik. Jujur, saat itu degup
jantungku mulai kacau. Lalu dia menarik bola matanya ke atas—ke arah hujan, dan kembali
menatapku pada detik berikutnya. Entah atas sinyal apa, kami tersenyum berbarengan.
Ah, aku tahu, itu sinyal dari
hujan.
Bukankah hujan yang membuatku
menemukannya?
***
“Kalau hujan, jangan galau mulu!”
“Dih, siapa yang galau?”
“Lah, itu, ngapain kamu berdiri
dipinggir jendela?”
“Aku cuma inget kita waktu dulu,”
“Kenapa? Dulu aku ganteng ya?”
“GR! Sini teh susunya!”
“Nih! Dua cangkir teh susu hangat
plus suara hujan, romantis banget ya? Happy
anniversary, Raina! I love you,”
Selama ini gue nyangka, orang macem gue yang sifat kepo-nya udah mendarah daging sampai menusuk ke tulang belulang (halah!), selamanya bakal cuma bisa mengepoi orang dan akan terhindar dari kekepoan orang lain. TAPI SEMUA SALAH TERNYATA, HAHAHAHA. Saya terkepoi, Sodara-sodara! TERKEPOI!!! Dan ini termasuk aib dalam dunia perkepoan. Hani bersabda "Barang siapa yang sudah terkepoi, niscaya anda termasuk MANUSIA LEMAH!". That's mean include me :(
Akhirnya Hani Teguh membuat sebuah quote:
"TIDAK ADA MANUSIA YANG BISA BEBAS DARI SIFAT KEPO, BAIK ITU MENGKEPOI ATAUPUN TERKEPOI, MAKA BERHATI-HATILAH. KUATKAN BENTENG PERTAHANAN SELAMA MEMILIH HIDUP DI DUNIA MAYA"
"Aneh banget sih lo, Han!"
"Mimpi apaaaa gue punya temen seaneh lo,"
"Lo itu cewek paling freak yang pernah ada di muka bumi!"
Kutipan kata-kata diatas itu berkeliaran di pikiranku akhir-akhir ini. Mereka bilang aku aneh? Aneh apanya sih? Berkali-kali garuk-garuk pantat tetep aja nggak nemu jawabannya. Help! :(
Coba deh pikir, apa aneh kalo kamu...
1. Anak kedokteran tapi males cuci tangan sebelum makan
2. Ngaku cewek tapi hobby melihara bulu ketek
3. Bangga pamerin sendawa di depan gebetan
4. Pengen diet tapi apa aja diembat
5. Suka sok jalan di catwalk kalo udah ketemu kaca di kamar
6. Joget-joget eksotis kalo denger lagu nge-beat
7. Fans Kangen Band *serius*
8. Sering kentut, bau, tapi jago nyembunyiin dari orang-orang
9. Gampang GR! gampaaaaaang banget :(
10. Ngeluh, ngeluh dan ngeluh. Tiada hari tanpa ngeluh
11. Doyan stalking. Bahkan stalking-in tukang somay depan sekolah juga pernah
12. Kalo mandangin orang-orang bercengkrama, pasti di otak ini udah bikin coversation sendiri
13. Sangat amat cinta film drama cinta-cintaan
14. Selalu merasa menyatu dengan alam. #apeuh
15. Ngupil kalo belom dapet upilnya nggak bakal nyerah walau harus berdarah. Hidup upil!
Itu bukan aneh kan? Aku masih normal kan? Tolong, katakan kalo aku masih normal, Fernando! Hiks :'(
Semua berawal dari kebiasaan gue ngelamun waktu nyetir motor malem-malem. Waktu itu yang ada dipikiran gue, gue pengen bikin 1 tokoh cowok buat bakal calon novel gue nanti. Tokoh ini harus punya karakter kuat dan real di mata gue. Itu artinya dia harus benar-benar nyata, dia harus benar-benar ada, dia adalah orang-orang disekeliling gue. Gue coba berpikir keras.
Awalnya si A yang humoris, apa adanya, luar biasa dalam hal sosialisasi, dan penuh kejutan. Gue pikir, karena gue deket sama tokoh ini, gue nggak perlu kerja keras buat nyari tau tentang dia. Gue tau hampir semua tentang makhluk ini. Tapi pada akhirnya gue coret karena gue pikir tokoh ini kurang............... apa ya? kurang greget gitu loh.
Lalu imajinasi gue beralih ke si B. Sifatnya jaim, sok romantis, suka mendem apa yang dia rasain, sabar luar biasa sama hidupnya yang keras, kadang childish, sempat menarik perhatian gue. Tapi langsung gue coret, karena jujur aja gue nggak suka sama sifat "childish"nya. Sifat kayak gini nih yang bikin hampir semua cewek ilfil. Termasuk gue yang anti-banget-cowok-childish.
Otak gue terus mikir. Memory SMA pun terputar kembali. Dan nggak tau kenapa, tiba-tiba otak gue stuck sama tokoh itu. Sebut saja si C. Sempet gue ragu karena gue sama sekali nggak kenal cowok ini. Ngobrol aja nggak pernah, paling cuma ngomong satu dua kalimat. Tapi sebersit keyakinan muncul. Gue yakin cowok ini punya "sesuatu" yang tersembunyi dan nggak banyak orang tau. Sifatnya yang cuek dan terkesan kayak nggak pernah punya masalah—jujur bikin gue penasaran.
Pas nyampe rumah, gue buka internet. Sinyal "kepo" gue udah mencapai puncaknya. Awalnya gue coba kepo lewat twitter, nggak banyak yang gue dapet dari sini. Terus gue coba search lewat google. Gue nemuin formspringnya. Dari sini gue mulai menebak beberapa sifat dan karakternya. Tapi rasanya ada yang kurang, akhirnya gue coba search lagi di google dengan keyword yang gue tambahin selain namanya. Entah kenapa gue ngetik "......... (nama si C) blogspot" di kotak search google.
And TARAAAAA, i found that! i found his blog, a place where he usually pour the content of his mind and heart. Dan sumpah, tulisan-tulisannya di blog itu benar-benar bikin gue bengong, mangap, nahan napas, bahkan sampe lupa ngedip. Dan yang terparah, ada satu tulisan—he said that he cried when he wrote that—yang sukses bikin gue ngapusin air yang tumpah dari mata gue sama daster gue. Berkali-kali tanpa sadar gue gucapin "Oh God, gue baru tau dia orangnya kayak gini....,". Gue bener-bener tenggelam dalam setiap rangkaian kata-katanya yang lepas dan apa adanya dia, seakan gue ada di dunianya yang nggak banyak orang tau.
Sampai di tulisannya yang terakhir, gue akhirnya berani mendeklarasikan, "I'm totally in love with his character and lock him to be my main figure in my novel soon,"
Mungkin tidak ada yang tahu, sudah sejak lama saya mengagumi malam. Menikmatinya seorang diri adalah satu hal yang selalu ingin saya lakukan setiap hari. Karenanya, saya rela diam-diam menyelinap ke luar rumah dan berjalan tak tentu arah dengan motor butut kesayangan saya. Saya tahu resikonya, orang tua saya akan marah besar. Saya anak perempuan harapan mereka, keduanya tak ingin saya terbawa oleh kerasnya dunia malam.
Tapi saya tidak sepenakut mereka. Saya dan malam adalah sahabat. Kami sering bertukar cerita. Mungkin dalam konteks bernama realitas, saya lah yang selalu bercerita. Cerita apa saja, bahkan tanpa perlu bersuara sedikitpun, malam akan selalu menjadi pendengar yang setia.
Kemarin, saya kembali menemui malam setelah sekian lama...
Udara berhembus menampar wajah saya. Rasanya jauh lebih nikmat daripada meringkuk diatas kasur paling empuk sedunia sekalipun. Semua masalah seakan tertarik keatas, menguap menuju awan hitam yang membelenggu langit. Badan pun terasa seringan kapas. Tanpa sadar, saya tersenyum sepanjang perjalanan random hari itu.
Sekelebat memori melintas di otak saya. Entah itu kejadian yang telah lampau atau yang baru saja terjadi. Yang jelas saya menikmatinya, seakan sedang menyaksikan putaran film di bioskop. Saya lah sang sutradara, scriptwriter, aktris sekaligus penontonnya. Bukankah itu menyenangkan?
Tiba-tiba sebuah lagu terputar dalam otak saya. Lagunya The Triangle - How could you ini benar-benar bikin saya meleleh dan galau luar biasa. Love this song so much! No doubt :)
Sebenarnya ini target kecil yang gue pasang kira-kira setahun yang lalu, yaitu cerpen gue muncul di blog gagas media (http://blog.gagasmedia.net/). Emang sih dari pihak gagas media nggak ngasih embel-embel uang, tapi seenggaknya cerpen gue berhasil tembus dari para editor yang bekerja di penerbit itu. Menurut gue itu udah ngasih kepuasan sendiri buat penulis yang masih super duper amatir kayak gue.
Gue ngirim tiga cerpen. Cerpen pertama, sampai nunggu berbulan-bulan, nggak ada balasan ataupun kemunculannya di blog gagas media. Begitu juga dengan cerpen kedua yang gue bikin sekitar 3 bulan setelah cerpen pertama. Sampai akhirnya cerpen ketiga, dimana gue udah bener-bener pasrah sama hasilnya dan gue udah males ngecek cerpen-cerpen yang muncul di blog itu.
Tapi pagi ini, setelah solat subuh, entah kenapa gue iseng buka blog itu lagi. Dan SUBHANALLAH, CERPEN GUEEEEEEE NONGOL DISITU!!!! KYAAAAA!!!
Nama gue ada disitu juga. OH GOSSSHHH!!! Gue hampir sesak nafas ngelihatnya :')
Bener-bener luar biasa berkah Ramadhan. Thank you Allah. Setelah ini, gue janji bakal belajar nulis yang lebih baik lagi. Sampai akhirnya mimpi besar gue terwujud yaitu nyiptain 1 novel hasil karya gue sendiri. Aamiin :)
Haaaah, rasanya campur aduk begitu gue bangun dihari pertama umur gue menginjak angka kepala dua. Hei dude, i'm twenty now! twenty loooh!!! Twenty means gue udah nggak pantes bertingkah kayak anak kecil lagi. No more egois. Yaaah, walaupun gue tau, egois termasuk sifat bejat yang sudah merajalela dalam darah gue. Istilahnya, egois itu ya gue, gue itu egois. Gue tau, selama ini banyak orang yang kesel sama sifat egois gue. Terutama keluarga gue. Kerasa banget loh!!! Walaupun mereka nggak menyatakan secara terang-terangan, tapi gue sadar kok waktu penyakit gue itu kumat. Dan hebatnya, mereka masih tahan sama sifat gue yang so childish ini :') That's the reason why i must say thanks to God for giving them in my woderful life. Mereka keluarga terhebat yang pernah saya miliki. I wanna send kiss attack from here. MUAH!
And for the best gift from God called friends, terima kasih banyaaaak guys!!! Hidup gue bakal kayak tv jaman baheula—just black and white—kalo nggak ada kalian. Gue tau, gue ini emang super duper nyebelin. Ngomong suka nggak dijaga, bikin kalian bete, kesel, marah, dongkol, jengkel, jengkol (#eh?), tapi kalian tetep mau nemenin gue, ngasih gue hidup yang mejikuhibiniu, dan secara nggak langsung ngasih gue banyaaaaak banget pelajaran hidup yang nggak bisa gue dapetin dibangku sekolah atau kuliah :)
The last but not least, thanks Allah, the only God i have, for amazing life and love that you give to me. Dan terima kasih buat nafas pertamanya di umur 20 tahun ini :)
2 sketsa dibawah ini saya buat benar-benar di tengah malam. Entah tiba-tiba ide itu muncul dan tangan saya gatal untuk mencoret-coret kertas HVS yang ada di depan mata saat itu. I know, i'm not an expert in design outfit, it just one of my hobbies :)
Cinta monyet itu apa sih? Kenapa ya namanya "cinta monyet"? Kenapa nggak cinta uler atau cinta kecebong? Sumpah ini awkward question yang akhir-akhir ini menuh-menuhin otak gue. Ada yang bisa jawab?
Ngomong-ngomong soal cinta monyet, gue mau cerita ah soal pengalaman cinta monyet jaman baheula. Jaman SD sama SMP, jaman-jamannya gue bermetamormofosis dari manusia suci tanpa dosa menjadi manusia alay penghuni acara musik dahsyat. Let's cekidot!
Waktu SD, gue terkenal sebagai anak kalem super pemalu yang kalo nggak diajak ngobrol nggak bakal ngomong. Talk less do more adalah prinsip gue. Diem-diem gini gue dulu ranking 3 besar loh hahaha *sombong* :p
Awal mula kehidupan percintaan masuk ke dunia gue adalah saat duduk di kelas 4 SD. Seorang cowok bule, temen SD gue di makassar, lewat perantaraan temen gue menyatakan cintanya yang terpendam dan nggak bisa diungkapin karena guenya kelewat pendiem. Pantesan cowok itu suka ngerjain gue. Ternyata ya... hahaha. Sayangnya gue udah keburu pindah ke Bekasi sih. Jadi, cinta itupun bertepuk sebelah tangan.
Next, di kelas 4 SD juga, kakak kelas flirting ke gue. Mungkin karena guenya yang sok-sok cool, ini manusia jadi agak-agak agresif. Demi ngobrol sama gue, dia sampai nyegat gue di gang sempit (jalur yang biasa gue lewatin buat pulang ke rumah) bahkan sampai ngejar gue pake sepedanya demi tau rumah gue dimana. Sayangnya ini nggak sampai tahap menyatakan cinta karena dia keburu lulus.
Di kelas 6 SD, cowok pindahan dikabarkan naksir sama gue. Pas ultah gue, katanya dia udah nyiapin sebuah boneka sekalian mau nembak gue. Sayangnya kabar tersebut udah keburu masuk telinga gue H-1 gue ultah. Alhasil karena gue takut mau jawab apa pas ditembak nanti, gue memutuskan untuk bolos sekolah selama 2 hari. Dahsyat kan? Hahahaha
Di SMP, disini nih fans gue bejibun *PD gilaaaa* hahahaha. Tapi beneran nggak boong. Banyak yang nembak lewat sms, tapi karena gue pikir cara nembak kayak gitu nggak gentle, jadinya gue tolak dengan bahasa yang super halus. Tapi ada juga cerita yang menurut gue menarik.
Gue ditembak sama 3 cowok dalam satu geng!!! Ini nih yang bikin gue mendadak migrain stadium akut. Tapi 3 cowok ini punya cara yang beda dalam hal pedekate. Cowok pertama, cara pedekatenya jauh lebih halus dari 2 cowok yang lain. Diem-diem menghanyutkan gitu deh. Tiba-tiba ngasih hadiah, suka sms rutin, suka ke gep sama gue lagi mandangin gue. Huehehehe...
Cowok kedua, cara pedekatenya agak lebih agresif dari cowok pertama. Karena gue sama dia satu kelompok belajar, dia suka minta diajarin. Kadang-kadang ngerjain gue, suka telpon gue sampai larut malem, bikin puisi buat gue. Ada cerita unik dari cowok yang satu ini. Cara dia dapetin nomer telpon gue terbilang beda dari cowok-cowok yang lain.
Pas study tour, sekolah gue pergi ke jogja. Waktu itu lagi hujan, bus gue sama bus dia sebelahan. Dari tempat duduk gue kalo dibuka jendelanya langsung ke arah tempat duduk dia. Awalnya cuma senyum-senyum, terus entah dapet ide darimana tiba-tiba dia memanfaatkan embun di kaca bus buat nulis pesan ke gue.
"No Hp plis"
Gue tulis "Buat?"
"Ada deh :)"
Gue langsung geleng-geleng kepala. Jual mahal dikit lah hahahaha. Tapi akhirnya dia nggak kehilangan akal. Dia nulis nomer telponnya di kaca, berharap gue mau nyatet nomernya. Tapi gue tetep nggak nulis, yakali masa gue sms dia duluan -_- Akhirnya dia ngasih kode ke temen sebelah gue di bus buat nulis nomer gue dikaca bus. Walaupun udah gue halang-halangin, ternyata temen gue ini jauh lebih tangkas. Cowok ini pun berhasil dapetin nomer hape gue
Cowok ketiga, ini cowok super duper ajaib. Cara pedekatenya jauh lebih agresif dan sangat frontal. Pernah loh di depan kelas, pas lagi pelajaran bahasa indonesia balas pantun, dia gombalin gue. Di depan guru bahasa indonesia, Meeen! Gini nih isi pantunnya,
Satu titik, dua koma Hani cantik, siapa yang punya?
Hahahaha, seisi kelas langsung ketawa ngakak, termasuk guru gue. Dia bikin dua pantun, satu lagi gue lupa. Dua-duanya buat gue dan bikin heboh kelas. Cara nembaknya pun terbilang aneh. Jadi waktu itu pas pulang sekolah, tiba-tiba gue di dorong temen gue ke dalam kelas trus gue dikunci dari luar. Otomatis gue ketakutan, teriak-teriak minta tolong. Tiba-tiba kedengeran suara ribut, semacam drum band gitu deh. Ada yang nyanyi juga, nyebut-nyebut nama gue. Terus akhirnya pintu kelas kebuka. Surpriseee...!!! Puluhan orang udah nangkring di depan kelas bawa peralatan kayak galon, botol, dst yang bisa nimbulin bunyi.
Cowok ini tiba-tiba muncul di tengah kerumunan, berlutut di depan gue dan bilang "Hani, gue udah lama suka sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue?"
SKAK MAT!!! Gue cuma bisa bengong dan nggak ngerti mau jawab apa. Masalahnya ini di depan banyak orang, nggak cuma temen seangkatan gue, tapi juga angkatan lain, bahkan anak SD yang gedung sekolahnya ada di lantai satu. Karena gue sangat wasting time dengan cuma bengong, entah dapet ide darimana dia nyodorin HP dan saputangan. Kalo gue ngambil HP berarti gue nerima dia, kalo saputangan berarti gue tolak. Suasana pun makin rame. Dan gue memutuskan untuk mengambil saputangan lalu pergi ninggalin rasa kecewa dari banyak orang. Tapi gue sama cowok ini masih kontak-kontakan kok sampai sekarang, like friends should be :)
Dan di SMA, ceritanya jauh lebih complicated. Untuk pertama kalinya, gue ditembak sama adik kelas gue, sama guru les gue, sama mantannya temen gue, dan lain-lain. Selain itu juga, di zaman ini pertama kalinya gue punya pacar! Ah, kalo diceritain bisa jadi berlembar-lembar folio.
So, sampai disini dulu ya. Postingan ini sama sekali nggak ada maksud buat pamer kalo banyak yang naksir gue atau apalah, sekedar sharing pengalaman aja kok. Siapa tau ada yang dapet inspirasi cara pedekate dari cerita-cerita diatas. Hehe siapa tau kaaaan? :)
Tidak ada yang tidak mungkin. Aku percaya kalimat itu. Pasalnya,
Tuhan sudah menggariskan takdir pada setiap ciptaan-Nya bahkan sebelum yang
diciptakan tersebut lahir ke dunia. Termasuk keberadaan kamu dihidupku.
Aku tahu Tuhan punya maksud mempertemukan kita. Walaupun rasanya
menyakitkan, tapi percayalah, di setiap rencana-Nya adalah yang terbaik untuk
kita. Mungkin dengan cara seperti ini Tuhan ingin memperingatkan kita. Kita
sudah lalai, Sayang. Sudah berapa lama kita menghapus “Tuhan” dalam ingatan
kita?
Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan. Karena Tuhan
Maha Pengampun.
***
“PERGI KAMU DARI RUMAH SAYA!!! SAYA TIDAK PERNAH MENGIZINKAN
GEMBEL MACAM KAMU MENGINJAKKAN KAKI LAGI DI RUMAH INI!!!”
“Tapi, Pa, dia berniat baik kesini,”
“BERANI-BERANINYA YA KAMU MEMBELA DIA!!!”
“Dia mau melamar Gyka, Pa,”
“APA??? MELAMAR??? HAHAHA. PUNYA APA DIA BERANI NGELAMAR KAMU???”
“Saya memang nggak punya apa-apa, Om. Tapi...,”
“TAPI APA??? MODAL CINTA ITU NGGAK CUKUP BUAT MEMBANGUN SEBUAH
RUMAH TANGGA!!! MAU KAMU KASIH MAKAN APA ANAK SAYA KALAU KAMU SUDAH MENIKAH
NANTI???”
“Saya juga belum tahu, Om. Tapi yang jelas saya harus menikahi
anak om secepatnya,”
“GILA KAMU YA???”
“Pa, dia memang harus menikahi Gyka,”
***
Malam ini hujan deras mengguyur kota Jakarta. Rasanya pas sekali
dikombinasikan dengan pikiranku yang sedang semerawut seperti benang kusut.
Untungnya ada kamu disini. Setidaknya ada yang bisa menyelamatkanku jika nanti
aku terlalu tenggelam dalam pikiranku sendiri.
“Mau roti?” tawarmu padaku memecah kesunyian. Sebungkus roti
coklat seharga Rp. 2500,- itu kamu sodorkan padaku.
Aku mengangguk. Perutku ini memang sudah merengek sejak tadi pagi.
Akhirnya baru malam ini aku bisa memasukkan sedikit makanan ke dalamnya. “Dapat
duit darimana?”
Mendengar pertanyaan itu tiba-tiba kamu menatapku. Aku hafal
tatapan itu. Tatapan yang seolah berkata bahwa kamu tidak suka diinterogasi.
Sayangnya aku memang harus mempertanyakan itu. “Halal kok!” jawabmu ketus.
Hening pun kembali merasuk. Hanya terdengar suara berisik dari
beberapa orang yang lalu lalang dan suara kereta terakhir jurusan Depok-Bekasi
yang baru saja transit di stasiun ini. Aku jadi ingat saat pertama kali bertemu
denganmu. Di kereta ekonomi jurusan Depok-Bekasi itulah takdir mempertemukan kita.
***
“DASAR ANAK NGGAK TAU DIRI!!! DIAJARIN SIAPA KAMU BERBUAT SEPERTI
ITU??!!!”
“Maafin Gyka, Pa...,”
“PAPA KECEWA SAMA KAMU GYKA!!! BERANI-BERANINYA KAMU BERBUAT
SERENDAH ITU!!!”
“Om, ini bukan salah Gyka,”
“LANTAS SALAH SIAPA??? KAMU MAU BILANG KEJADIAN INI KARENA NGGAK
SENGAJA??? KAMU PIKIR SAYA BEGO!!! BRENGSEK!!!”
“MULAI SEKARANG KAMU BUKAN ANAK SAYA!!! PERGI KAMU DARI SINI!!!
PERGI KALIAN!!!”
***
Jam menunjukkan pukul 21.00. Aku telat pulang lagi. Ini gara-gara dosen
statistik yang sukanya datang telat. Alhasil, kuliah sampai ngaret 1 jam. Untungnya
kereta terakhir masih bisa ke kejar.
It’s a beautiful night
We’re looking for something dumb to
do.
Hey baby, i think i wanna marry you...
Handphone-ku berdering. Tertera di layar “Papa
sayang”.
“Halo, Pa,”
“Nak, dimana kamu?”
“Gyka baru pulang nih, Pa. Kuliah terakhir ngaret jadinya Gyka
pulang agak malem,”
“Oh, ya sudah, hati-hati ya di jalan,”
“Oke, Papa Sayang,”
Klik! Telpon terputus. Papa memang selalu seperti ini semenjak
mama meninggal. Khawatirnya terlalu berlebihan. Apalagi aku adalah anak
satu-satunya yang dimiliki papa, perempuan pula. Wajar sih kalau papa over protective seperti ini.
“It’s a beautiful night, we’re looking
for something dumb to do. Hey baby, i think i wanna marry you... Permisi, Mbak, Mas,”
Seorang pengamen tiba-tiba mendekatiku. Tubuhnya kurus, tinggi dan
sangat dekil. Rambutnya ikal diikat ke belakang. Wajahnya oval dengan struktur
rahang yang sangat tegas. Dengan berbekal gitar kotornya itu dia melanjutkan
lagu Bruno Mars kesukaanku. Suaranya enak juga.
“Permisi, Mbak,” lelaki kucel itu mengulurkan tangannya padaku.
Aku merogoh dompet dan mengambil uang Rp 2000,-. “Suaranya enak,
Mas,”
Mendengar pujianku, ekspresinya terlihat agak kaget. Mungkin selama
dia ngamen belum pernah ada orang yang memujinya. “Oh, ehm... makasih, Mbak,”
ucapnya sambil tersenyum malu.
“Besok nyanyi disini lagi ya, Mas. Kalo memang ditakdirkan, saya pasti bisa melihat Mas nyanyi lagi,”
***
“Kamu habis apain aku, Ka? Kita berbuat apa semalam?”
“Aku nggak tau, Gy. Aku nggak ingat apa-apa,”
“Ka, aku takut,”
“Maafin aku, Gy. Pikiranku lagi kacau. Aku mabuk semalam,”
“Aku harus bilang apa sama papa?”
“Nggak akan terjadi apa-apa kok, Sayang,”
***
Malam semakin larut. Stasiun sudah sepi pengunjung. Aku mendengar
kamu menangis lagi. Aku hanya pura-pura tidur. Kamu memang tidak pernah cerita
apa-apa tentang semua masalahmu, tentang apa yang mendesak di dadamu. Dan aku
tidak pernah memaksamu untuk cerita. Mungkin hanya dengan menangis kamu bisa
lega.
Semoga cerita kita ini berakhir bahagia. Itulah harapan yang
selalu aku selipkan dalam setiap doaku sebelum tidur pada Tuhan.
***
Tanganku meraba-raba alas tidurku. Eh, kenapa strukturnya lembut
ya? Aku buru-buru membuka mata. Kasur? Kenapa aku ada di kasur? Seingatku
semalam aku masih tidur di aspal.
“Selamat pagi, Sayang,”
Mataku langsung teralih pada sosok di depan pintu. Sosok yang sudah
lama tidak aku temui. Walaupun sudah lama tidak bertemu, tapi aku masih hafal wajahnya
yang teduh dengan senyumnya yang selalu membuatku nyaman berada di dekatnya. “Papa?”
“Nih, papa bawain susu dan roti kesukaan kamu,” tangannya
menyodorkan meja lipat berisi susu dan setumpuk roti tawar.
Aku merasa canggung dengan semua ini. Sepertinya aku sudah terbiasa
tidak makan seharian. “Gaka mana, Pa?”
Ekspresi papa yang ceria pun berubah 180⁰. Pasti sebentar lagi
beliau akan marah. “Gaka nitipin surat ini buat kamu,” ucap papa sambil
menyerahan sepucuk surat tanpa amplop dari dalam saku celananya. Ternyata papa
nggak marah sama sekali. Ada apa ini?
Aku mengambil surat itu dengan perasaan yang tidak karuan.
***
Dear Gyka,
Tidak terasa ya sudah terlalu jauh
kita melangkah. Aku merasa keadaanku semakin membaik dengan kehadiranmu. Tapi
disaat yang bersamaan pun aku merasa keadaanmu malah semakin memburuk.
Kamu tau nggak rasanya? Rasanya sakit,
Gy. Aku tidak bisa perkirakan seberapa besar rasa sakit ini melihat kamu harus
tidur dibawah atap stasiun dan hanya makan jika aku punya uang. Kamu tidak
pantas mendapatkan ini. Pertama kali aku bertemu denganmu, aku melihatmu
sebagai anak kuliahan yang ceria dan begitu mempesona. Aku ingin melihat
keceriaan itu lagi. Mungkin dengan kembali ke rumahmu adalah solusinya.
Maaf aku harus pergi, Sayang. Aku
sendiri tidak tahu kapan akan kembali. Jika takdir berpihak padaku, mungkin kita
bisa bertemu lagi. Itu kan yang selalu kamu agungkan dari kata “takdir”? Takdir
Tuhan itu tidak pernah salah. Aku percaya itu kok.
Oh iya, titip anak kita ya. Kalau
sudah lahir nanti jaga dia baik-baik. Aku menyayangimu.
Malam ini, tepat di malam minggu yang sunyi dan sepi, anak-anak kost berkelana entah kemana bersama pacar-pacar mereka, dan gue yang bingung harus menghadapi malam ini dengan berbuat apa— berhubung pacar nggak punya dan TTM juga nggak punya —so gue memutuskan merekam suara gue sendiri di soundcloud dengan sesuatu yang sangat sangat sangat random dan nggak penting. Tapi apa boleh buat, daripada gue galau nggak jelas, mending do something useful kan? (apanya yang useful coba -_-)
Dan TARAAAAAA!!! ini dia hasilnya. Siap-siap tutup kuping ya, lambaikan tangan ke kamera aja kalo nggak kuat!
Karena gue sadar suara gue itu bisa merusak kehidupan kalian, jadi semenit aja ya rekamannya. Wait for the next record yups! (mending bagus suara lo han -_-) huehehehehe...
Entah apa yang membuatku berani menulis surat ini. Mungkin karena rindu yang terlalu menggebu. Akhir-akhir ini dia terlihat disekelilingku. Masih dengan senyum yang sama. Seolah menghipnotisku, sampai aku tak bisa bedakan mana bayangan dan mana kenyataan.
Dulu, dibawah lindunganmu kami banyak bercerita. Cerita apa saja. Tentang duniaku atau dunianya, dua-duanya sama-sama menarik. Dan aku menyukainya, menyukai saat-saat di senja itu. Saat dimana angin menggoyangkan rantingmu, dan kami layaknya anak kecil menangkap dedaunan yang gugur.
Di depannya aku bisa menjadi diriku sendiri. Terkadang bertingkah seperti anak kecil yang butuh perhatian, terkadang terlihat tegar namun di hari kemudian menjadi rapuh, terkadang ceria kelewat batas lalu esoknya menangis terisak-isak. Semua orang mengatakan aku aneh, bahkan pacarku sendiri. Tapi dia tidak pernah protes dengan keanehanku.
Karena dia tahu segalanya tentangku. Tentang kesukaanku pada buah durian, tentang kegilaanku pada warna coklat, atau tentang impian-impian konyolku. Ya, semuanya, bahkan tentang sesuatu yang tidak pernah aku tunjukkan sekalipun. Maka dari itu aku sering memanggilnya dengan sebutan, dukun.
But nobody’s perfect. Ada satu hal yang dia tidak tahu, bahwa yang aku ceritakan padamu ini adalah tentang dirinya.
Pohon beringin, kalau suatu saat dia menemuimu, tolong katakan padanya ya. Surat ini bukanlah fiksi. Aku benar-benar merindukannya.
I hate the way you look at me. I dunno why, but i'm not comfort with this situation. May be, you stare at me with no reason. I hope the truth like that.
But you do it not just in the first, second, or third time. You almost do it when we meet up. Your eyes such tell something, but your mouth do nothing. Sometimes, you ask me, "Ngapain lo liat-liat gue?", and i answer with frowning face "Dih, GR! lo kali yang ngeliatin gue!"
One day, i went to the toilet. We passed and almost collided. Our eyes were contacted again. But, i was so dizzy and i was little bit surprised cause you know about my condition, so you asked, "Kenapa lo?". Hey, that's the first time you ask me besides "Ngapain lo liat-liat gue?".
Why you didn't say anything? Why you let me guess what your eyes tell about? Oh meeen, you make me so curious. I know you have someone in your life, i see her picture in your wallpaper, but why you keep stare at me like you want to say something that can't be spoken? Am i just "GR"?
Matanya tidak dapat berbohong. Aku lihat betul ada cipratan-cipratan aneh setiap kali tatapannya tertuju pada sosok itu. Gayanya saja yang terlihat tidak peduli. Sifat tomboynya memang terlalu dominan dan menutupi sifat kewanitaannya. Tapi walau bagaimanapun dia tetaplah seorang perempuan. Dia punya perasaan.
Namanya Killa. Anaknya manis. Dia termasuk salah satu orang penting di sekolahku. Bagaimana tidak? Dia pernah menjadi wakil dari Indonesia dalam turnamen taekwondo se-ASEAN. Otaknya juga cerdas. Namun sayangnya kurang diasah. Aku perhatikan dia sering tidur di kelas. Entah karena apa. Mungkin dia punya alasan.
Killa berjalan ke arah sosok di ujung koridor itu. Kedua tangannya memegang masing-masing satu botol pocari sweat. Salah satu botolnya dilempar asal ke arah sosok itu. Dan sosok itu terkejut bukan main. Killa tertawa melihat reaksinya. Sosok itu marah. Tapi Killa tidak perduli. Dia duduk di samping sosok itu, masih dengan tawa yang sama.
“Sayang, sebentar lagi band aku manggung. Doain ya,”
Aku terperangah mendengar suara itu. Ah, ternyata pacarku. Aku tersenyum padanya sembari mengangkat jempol pertanda aku pasti akan mendoakannya. Dia mengacak-acak rambutku lalu berbalik dan pergi meninggalkanku menuju kerumunan massa di depan panggung.
Tiba-tiba aku merasa tidak becus menjadi seorang pacar. Bukankah seharusnya aku memberinya semangat?
“Sayang,” aku memanggilnya sebelum dia semakin menjauh. Dia menoleh ke arahku. “Semangat ya!” ucapku sambil mengangkat kepalan tangan.
Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu. Tapi rasanya aneh. Ada yang berbeda. Apa ini perasaanku saja?
Dia membalik badan lalu pergi menjauh. Aku memandang punggungnya lekat. Dia merogoh saku celananya dan mengambil handphone. Sepertinya dia ingin menelepon seseorang. Siapa yang dia telepon?
Entah kenapa mataku langsung tertuju pada Killa.
***
Suara berisik dilapangan sekolah membuatku tidak nyaman membaca buku Physics Education ini. Sekalipun aku sedang berada di perpustakaan yang sepi. Ya, seharusnya tempat ini hening dan tenang. Karena sepenglihatanku, hanya ada aku dan penjaga perpustakaan di tempat ini. Namun suara musik yang kata Daffa beraliran rock ini berdentum kencang memekakkan telinga. Dinding perpus pun tak cukup kokoh meredam suara –suara tidak jelas itu. Heran, kenapa Daffa begitu suka musik brutal seperti ini?
Aku menutup buku. Percuma saja sepertinya jika aku melanjutkan hobby membacaku dalam keadaan berisik seperti ini. Mataku menerawang menembus jendela perpus. Entah kenapa, titik sorot mataku bertumpu pada satu sosok berkilau di bawah pohon beringin di sisi lapangan.
Gia. Nama yang selalu terdengar indah di telingaku. Sejak SD dulu, dia selalu berkilau dengan kesederhanaannya. Sayangnya dia sering tidak percaya diri. Andai aku punya kesempatan untuk mendekatinya, hal pertama yang akan aku lakukan adalah memberinya semangat untuk tidak malu tampil di muka umum. Aku tahu dia punya bakat menyanyi, tapi dia tidak pernah memperlihatkannya di depan umum.
Dulu saat SD kelas 6, ujian kesenian adalah menyanyi. Mau tidak mau dia harus tampil di depan kelas. Awalnya kelihatan meragukan, tapi saat dia mulai bernyanyi, suaranya menggetarkan seisi kelas. Bulu kudukku sampai berdiri. Dan pada akhirnya, dia lah satu-satunya anak yang mendapat nilai 100 dalam ujian kesenian saat itu.
Aku memang telah mengenalnya sejak lama. Tapi entah kenapa nyaliku selalu ciut setiap kali aku ingin mengajaknya berbicara. Bahkan saat berpapasan pun aku tidak berani menatap matanya, apalagi tersenyum. Bodoh. Ya, aku memang bodoh. Aku menyukainya tapi aku hanya bisa memandanginya dari balik jendela seperti ini.
Tiba-tiba seseorang yang aku kenal muncul dalam pandanganku. Dia mendekati Gia. Tangannya mengacak-acak rambut Gia mesra. Sial. Dadaku rasanya panas. Cemburu itu muncul lagi. Untungnya dia segera meninggalkan Gia menuju panggung. Rasa panas itu kembali mendingin.
Handphone-ku berdering. Dari Daffa.
“Heh, bray, bentar lagi gue manggung nih. Gue mau tunjukkin ke elo musik rock itu nggak selalu brutal. Gue tunggu ye dibawah panggung,”
Klik. Telpon terputus.
***
Mataku menangkap satu siluet di ujung koridor. Dalam sekejap aku sudah tau siapa sosok itu. Tertidur dengan posisi duduk di lantai dengan telinga disumbat headet. Siapa lagi kalau bukan Yuza, kapten tim sepak bola kebanggaan sekolahku.
Kebiasaannya memang seperti ini. Ujung koridor ini adalah tempat favoritnya untuk tidur. Dia memang sangat suka tidur. Tapi dia tahu waktu-waktu yang tepat untuk tidur, tidak seperti aku. Haha. Aku suka kebablasan tidur di kelas. Itu karena sekarang setiap sore sampai malam aku harus melatih taekwondo di kompleks sebelah rumah. Lumayan uangnya buat jajan, nggak nyusahin orang tua. Sampai sekolah pun, tubuhku akhirnya menyerah. Capek.
Ide jahil muncul dibenakku. Aku lemparkan salah satu botol pocari sweat dan jatuh tepat dipangkuannya. Yuza terlonjak kaget. Sungguh, ekspresinya benar-benar lucu.
“Hahaha, kaget ya?”
“Kampret!” Dia membuka headsetnya. Tangannya menurunkan kacamata lalu mengusap matanya yang merah dan berair. “Sialan lo, La!”
Aku duduk di sebelahnya. “Hahaha, lagian sih lo suasana lagi berisik gini masih aja sempet-sempetnya tidur,”
“Ngapain juga gue dengerin band-band alay itu,” ujarnya cuek.
Walaupun bukan aku yang di bilang alay, tapi rasanya aku tidak terima dia menyebut band-band di panggung itu alay, "Heh, mereka itu bukan band alay. Itu namanya band indie, band yang masih baru, masih fresh. Lagian temen lo si Daffa itu ikut acara ini juga. Berarti dia alay dong?”
“Ya kecuali dia,”
Aku menempeleng kepalanya. “Woo, pilih kasih,”
Yuza melengos. Dia kembali memasang headsetnya. Mata sendunya terpejam. Ah, kenapa dia harus tidur lagi? Tidak bisakah dia menghargai kehadiranku?
Aku mencoba menghibur diri. Ini memang sifat Yuza. Nggak peka, bukan tipe perasa. Bahkan dengan jarak sedekat ini pun selama kami duduk di bangku SMA, dia tidak pernah menganggap kehadiranku itu sebagai sesuatu yang aneh. Ehm, maksudku, jika aku menjadi dia, aku akan merasa aneh dengan perempuan yang selalu mendekatiku, seolah menawarkan persahabatan yang aku sendiri tidak butuh.
Aku sering bertanya dalam hati. Apakah dia tidak pernah sedikitpun menangkap gelagat aneh dariku? Daffa saja sering memergokiku sedang memperhatikannya.
Yeah, Daffa memang cowok paling sialan yang pernah ada. Sering sekali dia memancing respon dari Yuza. Pernah saat aku sedang melamun, Daffa mengagetkanku dengan berteriak, “Eaaa, lagi ngelamunin Yuza yaaa? Hahaha,”. Seisi kelas pun dengar, bahkan mungkin Yuza sendiri. How “kampret” he is!
Tapi walaupun mengesalkan, tidak aku pungkiri bahwa celetukan-celetukan Daffa itu sangat membantuku. Setidaknya aku tidak perlu mengatakan langsung pada Yuza kalau aku tertarik padanya. Bukannya aku nggak berani ngomong langsung, tapi aku nggak mau disamakan dengan cewek-cewek genit itu. Cewek-cewek yang menjuluki diri mereka “Yuza holic”, sebuah fans club penggila Yuza yang merupakan gabungan cewek-cewek dari kelas 1 sampai kelas 3. Padahal Yuza sendiri tidak merasa punya fans.
“Hello Smansasi, MANA SUARANYAAAAAA???”
Suara itu terdengar menggema dari atas panggung. Aku memicingkan mata. Sontak aku menggoyang-goyangkan tubuh Yuza. “Heh, Yuza bangun! Daffa tuh tampil!”
Yuza tergelak. Dia menurunkan kacamata lalu mengusap matanya yang kembali merah dan berair. “Hah? Serius?”
“Iya, yaudah yuk kesana!” aku menarik tangannya kasar.
***
Andai mereka tidak menarikku kesini, mungkin aku masih bisa berteduh di dalam kelas. Mereka adalah teman-teman dekatku. Dea, Rita, Tania, dan Selvy. Awalnya aku menolak ajakan mereka. But, in the name of friendship, aku sampai rela berada di tengah-tengah kerumunan orang seperti ini. Euw, panasnya.
“Sebentar lagi band kita maju nih,” ucap Selvy antusias. Teman-temanku yang lain tak kalah antusias. Mereka bahkan sudah menyiapkan sebuah teriakan untuk mensupport band dari sekolah kami nanti ketika tampil. Mungkin cuma aku saja yang tidak menikmati keramaian ini.
“Hello Smansasi, MANA SUARANYAAAAAA???” teriak MC dari atas panggung membuat suasana semakin gaduh.
“GO SMANSASI, GO SMANSASI, GO GO GO, AAAARRRKKKHHHH!!!”
Aku melihat kesekeliling. Semua orang terlihat excited. Eh, tapi, hey, ternyata bukan cuma aku yang tidak tertarik. Dia juga. Sudah aku duga. Tapi kenapa dia ada disini ya? Biasanya jika suasana sudah ramai seperti ini dia akan bersembunyi di perpustakaan. Aku mengenalnya. Dia memang suka tempat yang hening, sepi, jauh dari keramaian.
Ya, aku sangat mengenalnya. Dulu, entah sekarang. Tapi sepertinya dia masih tetap sama. Kesukaannya tetap memakai kemeja kemanapun dia berada. Aku lihat tangannya juga menenteng buku berjudul “Physics Education”. Oh God, dia masih suka fisika rupanya, pelajaran paling membosankan yang pernah aku temui. Big applause.
Eh, kenapa aku jadi kangen ya? Ya Tuhan, aku kangen dengan kekakuannya, kangen dengan omelannya setiap kali aku malas belajar, kangen dengan jokes-jokes garingnya. Ingin sekali aku bertanya, “Fatra, did you feel the same with me?”
Aku ingat terakhir kali kami berada dalam jarak yang dekat. Saat itu dia marah. Marah besar sekali. Aku tidak pernah melihatnya semarah itu. Matanya tajam, aku sampai takut. Aku tahu kemarahannya bukan tanpa alasan. Dia memergokiku pulang ke rumah bersama Desta, teman se-modellingku. But i swear, i did nothing with Desta. Dia hanya menawari mengantarku pulang karena saat itu Fatra bilang tidak bisa menjemputku. Ternyata Fatra berbohong. Dia berada di rumahku untuk menyiapkan surprise karena hari itu hari ulang tahunku.
Aku maklum kalau dia marah. Dia memang orang yang sangat cemburuan. Bahkan terkadang kecemburuannya itu mengalahkan logikanya sendiri. Dan hari itu, di saat aku seharusnya bahagia merayakan hari ulang tahunku, i broke up with him. Memang aku yang memutuskannya karena aku benar-benar benci melihatnya membentakku seperti itu. Tapi kenapa sekarang seakan karma itu berlaku ya?
“AAAAAAA YUZAAAAAAA!!!”
Lamunanku buyar seketika. Teriakan teman-temanku ini benar-benar luar biasa. Aku mengusap-usap telingaku yang berdengung. Seperti ada ratusan lebah berada di dalamnya.
“Eh, Niar, fotoin kita dong!” ujar Dea sambil menyerahkan i-phonenya. Aku menghela nafas panjang sebelum meraihnya. Kebiasaan deh mereka.
Teman-temanku ini benar-benar aneh. They’re a big fans of Yuza—siswa dari kelas IPA 6, kapten tim football di sekolahku, dan ehm, aku akui, lumayan ganteng. Sangking ngefansnya, mereka sampai membuat fans club bernama “Yuza holic”. Dan lebih gilanya, setiap kali Yuza bertanding, mereka selalu setia berada di pinggir lapangan, berteriak sekuat tenaga untuk mensupport dan rela panas-panasan. Bahkan saat Yuza bertanding di kompleksnya dalam rangka 17 Agustusan pun mereka setia mendampinginya. Is that a crazy thing, right?
CEKREK! CEKREK! CEKREK! Tiga buah foto yang sempurna untuk penggemar berat Yuza. Semoga mereka puas.
“Eh, gue kesana dulu ya,” kata Yuza pamit dari fans-fansnya. Dia sempat tersenyum padaku dan aku membalasnya. Di sebelahnya berdiri seorang cewek tomboy bertubuh mungil. Wajahnya cemberut saat teman-temanku minta foto eksklusif bersama Yuza. Siapa ya dia? Ehm, maybe his girlfriend.
“Hey, Fatra!”
Deg! Jantungku rasanya mau copot saat mendengar nama itu disebut. Yuza yang masih berada di dekatku yang memanggilnya. Entah kenapa aku refleks menoleh kearah Fatra. Dan saat itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mataku bertemu dengan matanya.
***
“Heh, Yuza bangun! Daffa tuh tampil!” teriak Killa di telingaku.
Suara cemprengnya yang keterlaluan langsung membuka mataku yang terasa baru beberapa menit terlelap. “Hah? Serius?”
“Iya, yaudah yuk kesana!” Killa menarik tanganku kasar. Cewek ini kecil-kecil tarikannya kenceng, Men. Bakat taekwondonya benar-benar mendarah daging.
Sebenarnya aku malas ke depan panggung. Rame, pengap, rusuh. Kenapa sih Daffa mesti ikut acara ginian? Aku tahu dia ingin memajukan nama bandnya. Tapi, hey, bukan disini wadahnya. Sepertinya daritadi aku perhatikan, band-band yang tampil cuma alay-alay yang sok ngerti musik. Bukannya ngeremehin, tapi gimana ya? Ah sudahlah.
“Kita ke depan yuk!” ajak Killa dan hampir menarikku lagi andai aku tidak buru-buru menolaknya.
“Gue ke Fatra aja deh! Tuh, dia disana!” kataku yang merasa beruntung menemukan sobat kentalku itu di tengah kerumunan. Setidaknya aku bisa terlepas dari cewek ini.
“Ah, kesana aja yuk, Za. Lebih deket lebih asik,” Tuh kan, mulai deh maksa-maksa nggak jelas.
“Nggak ah, gue kesana aja. Lagian...,” belum sempat aku memberi alasan, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan yang entah berasal dari mana.
“AAAAAAA YUZAAAAAAA!!!” Ya Tuhan, tidak bisakah hidupku tentram, damai, aman, sentosa barang sebentar saja?
Segerombolan cewek menghampiriku. Aku mengenal cewek-cewek ini. Mereka selalu ada dimanapun aku berada, berteriak lalu membuat ulah-ulah yang kadang aku tidak mengerti esensinya. Entahlah, apa yang membuat mereka kesurupan seperti ini.
“Yuza, foto dong pleaseee! Ntar gue jadiin DP BBM, avatar, profil picture di FB, skype, MSN, YM, ah pokoknya semua deh! Ya? Ya?” kata salah satu cewek yang aku kenal bernama Tania. Ucapannya pun diangguki teman-temannya.
Kalau sudah begini apa boleh buat. Daripada aku digentayangi mereka sepanjang hari. Aku pun menyanggupi permintaan mereka dan mereka langsung loncat kegirangan.
“Eh, Niar, fotoin kita dong!” pinta Dea pada seseorang bercadigan pink yang sedang menghadap ke arah panggung.
Seseorang itu berbalik badan dan detik itu juga jantungku seakan berhenti berdetak. Sial! Seseorang itu... Daniar Elisia Putri.
Aku merutuki diriku sendiri. Sindrom ketemu cewek itu muncul lagi. Deg-degan, merinding, panas dingin, dan lain-lain. Semoga kecupuan ini tidak terlihat dimata Niar. Malu gila!
Niar menerima permintaan teman segengnya. Entah dengan ikhlas atau karena terpaksa, dia akhirnya memotret kami. Ya Tuhan, cantiknya keterlaluan. Aku bersyukur Tuhan bersedia menciptakan makhluk sesempurna ini di tengah cewek-cewek sok cantik dan kecentilan yang ada di dunia ini.
Entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Mungkin, sejak pertama kali Fatra mengenalkannya padaku. Ya, dulu Niar memang pacar Fatra. Tapi saat itu aku masih bisa mengontrol diri, mungkin karena aku tidak mau dianggap makan teman. Dan saat kabar mereka putus beredar, ketidaknormalan ini mulai muncul. Niar seakan menjadi hantu yang membayangi kemanapun aku berada.
Yang aku tahu, dia adalah salah satu model dari agency ternama di Indonesia. Akhir-akhir ini wajahnya juga sering menghiasi layar kaca. Entah di video clip, iklan, atau ftv-ftv. Posturnya yang tinggi langsing, wajah blasteran Jawa-Uzbekistan, dan bakat di bidang entertaiment membuatnya pantas muncul dimana-mana. Nikkita Willy mah lewat!
“Eh, gue kesana dulu ya,” kataku pamit pada cewek-cewek ini setelah puas berfoto. Sebelum pergi, aku coba mencuri senyum pada Niar. Dan wohooo, dia balas tersenyum. Astaga... rasanya pengen salto, khayang, roll depan, roll belakang dalam satu gerakan sekaligus.
But, keep calm, Yuza! Stay cool is the best way to attract her attention.
***
Akhirnya hari ini datang juga. Festival band indie yang diadakan sekolahku, SMA Negeri 1 Bekasi atau yang biasa disingkat Smansasi. Ini pertama kalinya band-ku tampil. Setelah melewati audisi internal antar band-band dalam sekolah, hari ini, kami—The Luzea—tampil mewakili sekolah kami dalam festival band indie se-Jabodetabek. Sebuah pencapaian yang luar biasa menurutku karena band ini baru dibentuk 2 bulan yang lalu.
And this is the time. “Hello Smansasi, MANA SUARANYAAAAAA???”
God, please bless us now. Sumpah ini deg-degannya parah. Aku melirik 3 temanku yang lain. Tara, sang drummer sedari tadi menghentak-hentakkan kakinya. Galang, bassist andalan kami ini sudah menghabiskan 1 kotak tissue untuk mengusap keringatnya. Dan Po, si vokalis bersuara ngebass ini bolak-balik meminum air mineral, entah karena haus atau memang ginjalnya bocor. Inilah bentuk kenervousan kami.
Mau tidak mau, life must go on, right? Dan sekarang kami sudah diatas panggung. Aku bisa melihat semua dari atas sini. Ada rasa bangga terselip diantara rasa-rasa lain yang bercampur aduk tidak karuan.
“The Luzea, band asal SMA 1 Bekasi ini katanya baru pertama kali tampil diatas panggung. Bagaimana rasanya bisa digambarkan?” tanya si MC basa-basi.
Aku membiarkan Po yang menjawab semua pertanyaan MC. Mataku mencoba mencari-cari dua orang yang aku harapkan berada di kerumunan itu. Ah, itu mereka. Fatra dan Yuza. Mereka adalah sahabat paling kampret sedunia. Pasalnya, merekalah yang paling tidak percaya kalau bandku bisa lolos audisi internal kemarin. But now, aku buktikan di panggung ini.
“DAFFAAAAA!!!” teriakan cempreng yang aku kenal itu membuatku mengalihkan pandangan ke satu sosok mungil yang berdiri disamping Yuza. Namanya Killa. “DAFFAAAAA!!!” sekali lagi dia berteriak sembari melambaikan tangan.
Aku tersenyum menandakan bahwa aku melihatnya. Tapi dia tetap melambaikan tangan, kali ini ditambah loncat-loncat. Haha. Lucu sekali dia. Gayanya yang tomboy kadang tidak cocok dengan sifatnya yang masih kekanak-kanakan. Aku sudah pernah bilang padanya. Dan dia tidak perduli omonganku.
Aku tahu, yang dia perdulikan memang hanya Yuza. Dia selalu cerita panjang lebar tentang Yuza. Apapun. Bahkan dia bisa cerita berulang-ulang sampai aku bosan mendengarnya. Inilah nasib menjadi abang-abangan.
Tapi biarlah seperti ini, aku merasa menjadi abang-adek adalah hal yang paling tepat untuk bisa dekat dengannya. Apalagi setelah insiden penolakan itu, bisa sedekat inipun menjadi hal yang luar biasa. Ya, aku memang pernah menembak Killa dan dia menolakku mentah-mentah.
“And now, this is the song from Goo Goo Dols, Iris,” kata Po mengawali aksi kami diatas panggung.
Aku memulai dengan petikan gitarku. Suara gaduh itupun berubah sunyi. Lalu Po masuk ke dalam musik dengan suara baritonnya, perlahan tapi pasti. Aku rasakan seluruh penonton hanyut dalam lagu ini.
And I’d give up forever to touch you.
Cause I know that you feel me somehow.
You're the closest to heaven that I'll ever be.
And I don't want to go home right now
Dari atas sini, aku bisa melihat semuanya. Aku bahkan melihat yang seharusnya tidak terlihat. Seperti saat Yuza mencuri pandang ke arah Niar. Aku tahu Yuza bukan tipe orang yang suka mengumbar masalah pribadinya. Dia yang paling pendiam dan jarang bercerita diantara aku dan Fatra. Tapi dari tatapannya itu jelas sekali terlihat dia menyimpan “sesuatu” pada cewek cantik itu.
And all I can taste is this moment And all I can breathe is your life And sooner or later it's over I just don't wanna miss you tonight
Sayangnya, perhatian Yuza bertepuk sebelah tangan. Ternyata Niar masih menyimpan kenangan-kenangannya bersama Fatra. Bukannya aku sok tahu. Tapi aku sempat melihat pandangannya stuck pada Fatra. Beberapa kali senyumannya terkembang ringan, padahal Fatra tidak meliriknya sama sekali.
And I don't want the world to see me 'Cause I don't think that they'd understand When everything's meant to be broken I just want you to know who I am
Aku tahu, Fatra memang sudah melupakan semua kenangannya bersama Niar. Dia merasa sudah cukup sakit hati atas perlakuan Niar padanya dulu. Dan sekarang, perhatiannya teralih pada seorang gadis. Teman masa SDnya. First lovenya. Namun sayang, gadis itu sudah menjadi milikku. Dia adalah perempuanku. Gia.
Aku cukup respect dengan keberanian Fatra yang jujur padaku bahwa dia menyukai Gia. Dia mengatakan kalau dia akan sportif dan tidak akan mengganggu hubunganku dengan Gia. Aku percaya padanya.
And you can't fight the tears that ain't coming Or the moment of truth in your lies When everything feels like the movies Yeah you bleed just to know you're alive
Dan Gia, dia memberikan hatinya dengan sempurna padaku. Ya, hanya padaku. Dengan keadaan seperti ini bukannya aku merasa senang, tapi justru aku merasa bersalah. Aku seringkali merasakan ada getar-getar cemburu pada Gia saat aku berdekatan dengan Killa. Tapi Gia tetap diam dan hanya diam. Dia tidak pernah mengungkapkan apapun yang dia rasakan. Sifat Gia memang setipe dengan Yuza. Perbedaannya, aku masih bisa membaca yang dirasakan Yuza lewat gelagatnya, sedangkan Gia sama sekali tidak menunjukkan apa-apa. Aku tidak tahu pasti dia cemburu atau tidak. Semoga saja hanya feelingku.
“DAFFAAAA!!!” teriakan cempreng itu memecah konsentrasiku. Bahkan dalam suara berisik seperti inipun aku masih bisa mendengar teriakannya.
Ini juga yang tidak aku tahu pasti. Sebenarnya apa yang aku rasakan pada Killa. Rasanya aneh. Aku menyayanginya, tapi tidak seperti rasa sayangku pada Gia. Ini dua rasa yang berbeda. Aku sudah mencoba berulang kali untuk menyayanginya seperti seorang kakak pada adiknya. Tapi bukan begini rasanya. Aku juga pernah mencoba menjauhinya, namun hasilnya nihil. Aku justru semakin terbayang-bayangi oleh sosoknya.
I just want you to know who I’am.
I just want you to know who I’am.
I just want you to know who I’am.
Dari sini aku mulai menyadari. Bahwa kami sudah terjebak dalam segienam tak berujung. Dan entah sampai kapan akan seperti ini.