Saya belum pernah membuat surat
sejenis ini. Saya hanya terbiasa menjadikan kata sebagai refleksi dari dentuman
rasa yang muncul di hati saya. Seperti saat ini, saya ingin mengurainya. Maka
bacalah apa yang tidak pernah terlihat selama ini.
Untuk kamu yang sedang ada dipikiran,
"Saya mengagumi kamu. Jangan tanya
waktu, karena mereka pun tidak tahu kapan semuanya bermula. Anehnya, kamu tidak
perlu berucap, dunia sendiri yang telah bercerita. Seolah seluruh sudut bumi
serentak memuji namamu dalam versi yang berbeda-beda.
Saya mengalirkan takdir pada arus
yang tenang, membiarkan segalanya berjalan apa adanya. Beberapa kali tertabrak
bebatuan, namun rupanya tak sanggup menghentikan arusnya. Mengapa setenang ini?
Padahal dalam hati saya sudah ingin meledak saat jarak menjeda kita.
Inikah yang dinamakan cemburu?
Kalau benar, kamulah yang pertama menciptanya.
Kesederhanaan yang kamu bangun
terlalu megah. Saya sampai kehabisan kata-kata untuk mengkisahkannya. Apalagi
saat melihat binar mata malu nan tulus yang selalu berpendar saat mata kita tak
sengaja bertautan, detik itu juga saya menjelma menjadi cenayang, menerka-nerka
apa yang sedang isi hatimu katakan.
Setiap kali mendengar celotehmu,
saya merasa memasuki dimensi waktu tak berujung. Kamu membawa saya mengarungi
dunia tanpa perlu menjejak. Lalu seketika saya bermimpi. Saya ingin kesana, ke
tempat dimana saja kamu menjatuhkan hati.
Melukislah mimpi. Menciptalah
bumi tempat kita kelak berpijak. Masa depan akan terus memanggil nama kita jika
takdir menginginkannya. Maka saya hanya bisa berdoa agar semuanya mendapat yang
terbaik dari Yang Maha Baik. Jangan khawatir, kemanapun mimpi membawamu pergi,
saya akan tetap bertahan disini. Karena saya tahu, sejauh apapun negeri yang
kamu kunjungi tidak akan pernah mengambilmu selamanya. Kamu pasti akan pulang. Ke
rumah.
Semoga saja saya bisa menjadi
rumah ternyaman untukmu kembali dari pertualangan.
Punya teman banyak. Bebas berlarian dan tertawa terbahak-bahak. Membeli gulali berwarna merah jambu. Bermain petak umpet. Memanjat monkey bar dan berlomba mengayun setinggi-tingginya di ayunan. Menggambar meja. Bernyanyi dengan suara keras tanpa takut orang mengkritik suara kita fals. Mengganggap diri mampu berubah menjadi power ranger dan saling mengklaim sebagai power ranger warna apa. Lalu bertengkar dengan teman. Sejam kemudian berbaikan seakan amnesia bahwa beberapa detik yang lalu saling membenci. Men-cie-kan teman perempuan yang dekat dengan teman laki-laki atau kita sendiri yang sok merasakan jatuh cinta pada kali pertama.
Semua terasa indah. Semua terasa mudah.
Lalu waktu bergulir. Umur kian bertambah. Masalah menggunung dan semakin rumit.
Memilih teman semakin selektif karena selalu ada yang menyandang gelar "pemakan teman sendiri". Sudah mulai menghindari jajanan pinggiran dengan alasan "nggak higenis". Lebih banyak bermain dengan gadget dan peran teman bermain mulai tersingkirkan, yang ada cuma teman hangout. Mulai menjaga sikap alias jaim. Sinis-sinisan, saling menggosip, menebar fitnah, dan lebih gilanya pada teman dekat sendiri. Lalu bertengkar dengan teman. Sampai mati saling membenci. Merasakan jatuh cinta yang dirasa terakhir kali tapi selalu berakhir menyedihkan.
Aku nggak tahu kenapa kita harus melalui proses ini. Sudah takdirnya?
Aku hanya kangen masa kecilku. Tapi aku, kamu, kita, sudah terlanjur dewasa. Maka mengapa kita tak sekalian saja mendewasakan diri?
Bertemanlah seperti masa kecil dengan sikap yang lebih dewasa. Lihat segala sesuatunya jangan hanya dari satu sisi. Kita manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Kalau kamu menganggap temanmu adalah manusia paling "buruk" di dunia, cobalah berkaca, seberapa banyak "buruk"mu yang kamu tutupi. Barangkali di mata Tuhan, dia lebih baik darimu, teman :)
Aku mengambil kutipan kata-kata Darwis Tere Liye dari novelnya "Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah" yang mungkin juga sudah pernah kamu baca, begini katanya:
"Cinta sejati selalu menemukan jalan. ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan terbaiknya. Kebetulan yang menakjubkan."
Itu yang kubilang "Sebenarnya Tuhan memberikan perasaan itu sederhana, tapi manusia yang membuatnya jadi rumit sendiri". Aku jadi teringat kisah Habibie dan Ainun, aku yakin kamu pasti juga sudah pernah mendengarnya, atau bahkan sudah menonton filmnya.
Jadi seperti yang kamu tahu, Habibie dan Ainun pernah bertemu saat masih berumur 13 tahun dikarenakan mereka satu sekolah dan menjadi murid paling cerdas dibagian ilmu eskak (kalau nggak salah). Dan guru eskak mereka pernah berkata, "Kalian ini jodoh!". Tahun-tahun setelahnya mereka berpisah. Habibie malah sempat ke Jerman, Ainun tetap di Indonesia. Mereka nggak melakukan kontak sama sekali. Sampai akhirnya saat yang tepat itu tiba, Tuhan mempertemukan mereka secara kebetulan. Ya, kebetulan yang menakjubkan. Itu namanya jodoh.
Maka dari itu, kalau ada yang bilang "Jodoh itu harus dikejar, kalau enggak, nanti diambil orang," aku agak kurang setuju sih. Yang menurutku benar, jodoh itu akan datang sendiri dan Tuhan yang akan menggerakkannya kearah kita. Tapi kitanya jangan diam juga. Terus memperbaiki diri, perbanyak doa, dan buka pergaulan seluas-luasnya. Siapa tahu jodoh kamu lagi di Jerman, Dis. Hehehe.
Atau... justru jodoh kamu sebenarnya sudah dekat, dekat sekali, tapi kamu aja yang nggak sadar karena kamu terlalu sibuk mencari? Who knows? :)
Sebenarnya aku nggak terlalu mengerti soal hati. Hati itu rumit. Segala sesuatu yang menyangkut perasaan itu pasti nggak pernah sederhana. Dan sialnya, aku mudah sekali menggunakan perasaan. Beginilah nasib tipe melankolis sejati. Hiks!
Otak manusia kadang nggak bisa mengerti maksud dari kata hatinya sendiri. Sering nggak sinergis. Alhasil, kita sering terjebak pada titik bifurkasi dimana harus memilih antara mengikuti kata otak atau kata hati. Dan aku, mungkin karena aku terlalu sering mengikuti kata hati dan berujung pada kekecewaan, akhir-akhir ini aku lebih memilih mendengarkan logika. Sebisa mungkin aku menjawab pertanyaan yang terus berkeliaran, "Apa dia orangnya?"
Tapi otak nggak bisa menjawabnya. Kenapa? Karena Tuhan mengirimkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu lewat hati, lewat perasaan, lewat hal tersensitif yang sering kali menghasilkan jawaban salah. Rumit kan?
Rumit itu karena kita yang membuatnya menjadi bercabang-cabang nggak karuan. Tuhan menciptakannya sederhana kok. Solusinya? Biarkan saja. Ketika orang baru mengetuk pintu hatimu, biarkan dia masuk. Kalau setelah hari berganti dan kamu merasa malah jadi rumit, berarti bukan dia orangnya. Kalau sudah tahu bukan dia orangnya, kenapa harus dipertahankan?
Ini keputusan besar yang pernah kuambil. Aku telah memilihnya menjadi partner dalam merajut mimpi besarku. Bersamanya, aku berharap lautku tak pernah lagi sunyi. Bersamanya, ombak berdesir hampir disetiap denting degup jantungku.
Jika kamu tanya apa perihal yang menjadi alasanku memilihnya, sejujurnya, aku tak tahu. Aku hanya melihat asa dalam jelaga kedua matanya yang berkilat tulus. Di sisi lain, ada sebongkah rindu yang mengantarkanku pada satu titik keyakinan. Rindu yang bercampur dengan jutaan rasa yang sulit aku mengerti. Ini kali pertama aku merasakannya.
Aku tidak bilang aku jatuh cinta.
Mungkin, belum.
Tapi satu yang harus kamu tahu, inspirasiku kembali berpendar. Setelah kamu meredupkannya dengan kepergianmu, dia menyalakannya lagi tanpa dia sadari. Terima kasih sudah memberiku tawa selama ini. Kini, aku benar-benar harus melepasmu.
Sampai jumpa lagi, Keenan. Aku berharap perahumu juga segera berlabuh.
Aku kangen Keenan. Bukan, Keenanku berbeda dengan Keenan Klapertaartholand. Keenanku nggak jago melukis. Keenanku nggak pendiam. Keenanku juga nggak sepintar dia.
Keenanku selalu bersikap apa adanya. Dia yang aneh, suka tertawa, dan punya banyak teman. Keenanku suka sekali mendengar cerita-ceritaku. Aku pernah bilang aku suka perahu kertas. Percakapan berikutnya, dia bilang dia suka perahu kertas. Dia berusaha menyukai apa yang aku suka. Dia berusaha membuatku nyaman.
Keenanku suka gunung, suka laut, dan suka jalan-jalan. Aku juga suka semuanya. Aku ingin sekali pergi bersamanya, menanjaki gunung tertinggi, menikmati desiran ombak di kala sunset, menjelajahi seluruh sudut negeri yang belum pernah kukunjungi. Aku yakin, bersamanya, lelah dalam perjalanan akan tergantikan nafas bahagia. Bersamanya, mimpi-mimpiku akan menjadi nyata.
Aku kangen Keenan. Kangen celotehnya, kangen leluconnya, kangen kehebohannya. Andai dia tahu, cerita-ceritanya masih kusimpan rapi dalam sebuah file. Bukan karena apa-apa, aku hanya takut tiba-tiba kangen disaat yang nggak tepat. Disaat waktu berputar lebih cepat dan kita berubah terlalu hebat.
Aku tahu, kita nggak akan bisa selamanya bersama. Kita bukan Kugy dan Keenan dalam perahu kertas. Kita bukan mereka yang punya radar neptunus.
" Keenanku, terima kasih sudah menjadi inspirasi hampir di semua puisiku. Maaf, aku nggak bisa mengatakannya langsung padamu. Maaf juga, aku berbohong pada mereka kalau puisi-puisi ini nggak ada hubungannya denganmu.
Aku takut mereka menghinamu lagi. Aku nggak bisa selamanya membelamu karena aku nggak punya alasan untuk melakukannya. Kita sudah terlalu jauh. Kita sudah melewati sejumlah waktu tanpa saling menyapa.
Lewat tulisan ini aku berharap kamu tahu, aku ingin sekali mendengar lagi suaramu. Puisiku meredup, Keenan. Aku kehabisan cerita. Aku ingin mengajakmu ke Ranca Buana, seperti saat Keenan mengajak Kugy kesana sebagai rasa terima kasihnya karena telah menjadi inspirasi di setiap lukisannya. Tapi kamu bilang, Ranca Buana nggak sebagus deskripsi dalam perahu kertas.
Kugy dan Keenan suka pisang susu. Aku dan Keenanku suka es durian. Kita selalu mencari es durian paling enak di sudut negeri ini. Aku ingat, terakhir kali kita makan es durian dengan kebab turki. Kombinasi yang aneh, tapi entahlah, aku menyukainya.
Keenan, sejak terakhir kali kita bersama mengunjungi kerajaan dewa neptunus, aku nggak pernah lupa satu pesanmu. Aku nggak boleh takut ombak. Bermain bersama ombak itu menyenangkan. Terima kasih karena kamu telah membuatku menyenanginya.
Apalagi yang bisa aku katakan selain terima kasih? Kamu mengajarkanku banyak hal tanpa kamu sadari. Kamu menjadikanku tertawa disaat-saat tergelap dalam hidupku. Kamu menelusup dalam pikiranku dan membuat inspirasiku mengalir deras dalam sekali kejap.
Keenan, aku selalu percaya, hati itu dipilih, bukan memilih. Kita nggak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan. Biarlah perahu kertas ini mencari pelabuhannya, dan setelahnya aku berjanji, tidak akan pernah berlayar lagi,"
Sumpah, ide-ide udah terlalu banyak numpuk dan rasanya mau tumpah meluber kemana-mana. Gue butuh wadah penampung. Gue butuh nulis!
Tapi gue nggak bisa, seenggaknya untuk saat ini. Sial!
Sidang proposal skripsi, ujian SOCA, KKD, penelitian, sidang skripsi, ujian OSCE dan bla bla bla lainnya benar-benar jadi inhibitor kuat yang siap ngebunuh setiap ide yang muncul di otak gue hampir di setiap harinya.
Ini tuh kayak... ngangenin sesuatu tapi kita nggak bisa ketemu sama yang kita kangenin. Dipendem terus, makin lama makin numpuk! AAAAARRRGGHHH!!!
Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini benar-benar terasa berbeda. Bukan karena saya sudah masuk semester akhir dan sedang riweuh dengan segala urusan skripsi, penelitian, soca, dan blah blah blah lainnya. Tapi karena something inside this heart yang nggak bisa saya deskripsikan bagaimana rasanya. Bisa dikatakan saya jatuh cinta. Jatuh cinta yang luar biasa kepada yang menciptakan cinta.
Saya belum pernah merasa sebahagia ini, setenang ini, dan sedamai ini. Ada hawa sejuk yang merambat di kulit setiap kali saya mengingat Dia. Saya tahu, Dia akan selalu bersama saya, walaupun seringkali saya cuek dan sebodo amat dengan segala kebaikan-Nya. Apakah ada yang lebih membahagiakan ketika kita tahu bahwa ada seseorang yang selalu setia menyayangi kita, selalu mendengar apa yang kita keluh kesahkan, selalu memberi apa yang kita butuhkan?
Bersama Dia saya merasa cukup. Saya bersyukur sejak lahir keluarga saya sudah mengenalkan Dia kepada saya. Dia yang terindah, yang sempurna, yang bisa membuat saya tersenyum dengan segala kejutan-kejutan kecil-Nya di hidup ini. Terima kasih, terima kasih atas segalanya. Atas rasa cinta sedalam ini yang tidak pernah saya rasakan seumur hidup saya. Semoga ini belum terlambat. Tapi insya Allah, jika Engkau menghendaki, saya ingin selalu istiqomah bersama-Mu.
Nggak nyangka udah kurang lebih 3
tahun gue ngejalanin ritual dinner hampir setiap hari bareng dua manusia
setengah alien ini. Walaupun capek setengah mati sehabis rapat atau segala
macem tetek bengek kehidupan kampus, tapi gue dan dua sahabat itu selalu
happy-happy aja ngejalanin ritual ini. Kesannya dinner itu adalah timing yang
pas buat merefresh pikiran yang jenuh sejenuh-jenuhnya sama dunia perkuliahan.
Sure!
Pas dinner, we always do some fun
things, walaupun kadang cuma sekedar haha hihi ngobrolin sesuatu yang nggak
jelas, curhat sampai ngebuka-buka aib, kuliner dipinggiran jalan, ngomentarin
mas-mas yang tiap malem galau mulu main biola di genteng, ngomentarin suara abang sate
yang punya suara falseto "terindah" di seluruh penjuru dunia, sok-sok-an makan
di mall padahal lagi kere, nonton bareng OVJ dan bla bla bla lainnya. Gue dan
mereka jadi kayak bener-bener kenal satu sama lain. Bahkan, hampir semua
penjual makanan di daerah tawakal pun kenal kita. Kalo satu diantara kita ga ada,
pasti mereka langsung nanya “Kok ga bertiga?”.
Sangking deketnya, gue sampai
hafal harus bersikap apa disaat dua kesayangan gue itu lagi badmood. “Kesayangan”,
yeah harus gue akui, i love them much! But i can’t tell this to both of them,
gengsi lah yauuuu muehehehe
This is it, my dinner partners for
almost 3 years
1st Adelita Yuli
Hapsari atau yang sering gue panggil Adel, Dels, Delle, Edel
Cewek ini selain dinner partner
yang paling gokil, dia juga partner in crime gue. Adaaaaa aja ide gila yang
sering gue sama dia lakuin. Mulai dari saling tukeran foto alay masing-masing,
saling ngirim voice note nggak penting, video call-an padahal jarak kosan cuma
100 meter, dan masih buanyaaaak lagi. Itu seringnya kita lakuin kalo lagi
badmood tingkat dewa mahabrata.
Dia juga temen brainstorming
paling yahud kalo gue lagi pengen bikin kreatifitas. Ide gue sama dia sering
nyambung. Mulai dari kolaborasi musikalisasi puisi, merancang surprise buat
temen, bikin video, sampai hijab tutorial muahahaha.
Si turunan cina ini emang sering
banget bikin gondok, apalagi kalo keras kepalanya kumat. Beuuuuh, sumpah gue
harus tarik nafas menahan kesabaran supaya nggak meledak-ledak. Masalahnya gue
sama dia itu sama, ya itu, sama-sama keras kepala. Kalo gue keras kepala juga,
benturan satu sama lain, ya ancur lah jadinya.
Dia juga moody, BANGET! Gue
sampai hafal kalo dia lagi bete. Ketawanya pasti lebih garing daripada kerupuk.
Kalo penghargaan piala citra ada nominasi manusia-manusia paling nggak peka,
gue yakin dia bakal masuk nominasi, dan bahkan mungkin menang. Haha. Inilah
susahnya punya temen yang sensitivitasnya dibawah rata-rata. Dia bete, gue
tahu. Gue bete, dia nggak peka, malah kadang bikin tambah bete. Yeaaaaah
*ngais-ngais tanah*
Tapi lepas dari semua itu,
manusia ini selalu sukses bikin acara makan malem gue jadi berwarna dengan
celetuk-celetukannya yang kadang bikin pengen bentur-benturin kepala sangking
gokilnya. Hwehehehe.
2nd Friyoga Syahril sering gue panggil Yoga, Yogs, Yo, Bapak
Muka boleh bapak-bapak tapi
kadang kelakuan kayak bocah. Ngambekan gitu deh. Tapi cowok ini care banget
looooh. Kalo gue lagi sakit, dia adalah manusia di lini pertama yang siap
nganterin gue berobat ke dokter. Gue inget waktu gue sakit mata, dia bahkan
rela bolak balik ke klinik karena dokternya nggak kunjung dateng, waktu itu
ujan pula. Duh, sweet banget deh! Hihi.
Dia juga pernah rela nyamperin
kosan gue jam 1 pagi cuma buat nganterin flash disc yang isinya makalah setelah sebelumnya gue curhat ke dia sambil nangis gara-gara
internet gue mati, nggak bisa download makalah di email kelompok, dan gue belum
ngerjain PPT buat presentasi besoknya. Itu jam 1 pagi loh, dan kosan gue sama
dia itu jauhnya naujubilleh. Bahkan dia juga rela gue suruh beli boneka segede
gaban buat kado adel yang gue tahu dia pasti malu setengah mampus ngebawa
boneka itu dari mall ke kosan gue. Hahaha.
Tapi kalo ngomongin keburukan
manusia ini yeeee, keras kepalanya itu loh masya Allah dah. Selain itu, manusia
ini juga sensi buangeeeeet ngelebihin sensinya cewek kalo lagi dapet. Gue
selalu pengen nyakar mukanya setiap kali dia ngehina gue jeleklah, gendutlah, joroklah dan sebagainya. Kata-katanya jleb abis nusuk sampe ke sumsum tulang.
Kalo gue jelek, gendut, jorok, kenapa sering banget lo bilang
sayang gue, Pak? Dasar aneh haha. Sayangnya sebagai sahabat yeee, jangan salah
paham!
Kalo udah iseng itu emang suka
kelewatan deh. Suka ngegoda-goda gitu bikin bulu kuduk gue jadi merinding.
Haha. I know, it just his jokes to make me and adel laugh :’)
Terima kasih buat kurang lebih 3
tahun dinner super indah ini. Gue tahu, sebentar lagi kita mau nggak mau harus
ninggalin ritual ini karena harus berpisah buat ngeraih cita-cita kita yaitu be
a good doctor.
Soon! Yeah SOON! Setelah nama
kita jadi dr. Hani, dr. Adel dan dr. Yoga, dinner bareng lagi yuks! Kalo bisa
sambil bawa suami/istri plus anak-anak kita nanti muehehehehehe
Pesan: Kalo lo punya waktu sekarang buat have fun sama teman-teman lo, do it! Walaupun have fun lo itu cuma sekedar kumpul-kumpul atau makan bareng atau bahkan ngelakuin hal-hal kecil yang ga meaning. Percaya deh, suatu saat lo bakal kangen sama masa-masa itu dan bakal jadi kenangan yang ga terlupakan seumur hidup lo. Every little thing they do, can make us laugh someday.
Pernah nggak lo ngejalanin sesuatu yang lo suka tapi tiba-tiba ditengah jalan lo merasa rasa itu bukan dari hati lo?
Gue pernah dan itu terjadi akhir-akhir ini.
Gue mahasiswa kedokteran dan kuliah di fakultas ini adalah keputusan gue. Jujur, dari kecil gue nggak pernah pengen jadi dokter. Alasannya simple, karena yang mau jadi dokter udah banyak. Setiap ditanya guru "Cita-citanya mau jadi apa?", hampir 3/4 isi kelas jawabnya mau jadi dokter. Waktu kecil gue emang nggak punya cita-cita tetap. Wajar, masih labil.
Semakin dewasa, gue tau apa yang gue mau. Gue suka gambar, ngolah warna, atau apapun yang berhubungan dengan art. So, waktu kelas 12, gue putusin buat nyoba masuk universitas yang ada fakultas designnya. Alhamdulillah, gue diterima pertama kali di universitas trisakti fakultas design komunikasi visual. Sejak saat itu gue mulai percaya diri. Gue sangat amat yakin takdir gue memang untuk menjadi mahasiswa design dan kerja di advertising adalah impian terbesar gue.
Tapi perjalanan hidup nggak bisa semulus yang kita mau. Ternyata nyokap bokap gue kurang setuju kalau gue masuk design. Mereka nyuruh gue masuk kedokteran. Kata mereka, kalo design masih bisa diasah lewat les atau kursus, tapi kalo kedokteran nggak bisa dan muka gue nggak cocok jadi mahasiswa design. Gue mikirnya nggak papalah buat cadangan (blagu yee kedokteran buat cadangan ckck) kalau nanti gue nggak diterima fakultas designnya ITB. Kenapa gue mau kedokteran? Alasannya juga simple, karena gue suka biologi dan gue nggak suka pelajaran itung-itungan.
Singkat cerita, gue di terima di fk trisakti lewat jalur undangan dan ITB nolak gue. Gue sakit hati. Akhirnya gue ngubur dalem-dalem cita-cita gue kerja di advertising dan nyoba move on ke kedokteran. Tapi ternyata segala hal yang udah cinta mati itu susah dihilanginnya. Dan beginilah hasilnya.
- Gue mahasiswa kedokteran tapi gue sering ngiri sama teman-teman gue yang sekarang jadi mahasiswa design (dan masih sedikit menyesal kenapa dulu nggak masuk design aja)
- Gue belajar tentang kedokteran lebih dari 20 menit udah nggak betah tapi gue bisa berjam-jam duduk ngegambar detail sketsa kota atau ngedesign busana pesta sampai lupa makan (Yeah you know i love eat much)
- Setiap ke gramedia, gue lebih milih ke rak design graphic atau design interior daripada ke rak ilmu kedokteran.
- Gue nggak bisa ngebayangin suatu saat nanti gue bakal kerja di RS tapi gue bisa ngebayangin gue kerja di kantor advertising.
- Kalau teman-teman gue antusias beli buku kedokteran, gue sama sekali nggak berminat dan rasanya pengen menjauh aja dari mereka. Kalaupun akhirnya gue beli buku kedokteran, itu cuma supaya gue nggak minder, bukan karena gue butuh.
- Saat teman-teman fk gue ngobrol soal penyakit or apapun tentang kedokteran, rasanya hati gue menciut dan kuping gue tertutup buat dengerin itu tapi kalau gue ngobrol sama teman-teman gue mahasiswa design, apapun yang mereka ceritain soal kuliah mereka, walaupun gue nggak ngerti, rasanya lebih menarik dan gue antusias.
- Dokter nggak pernah jadi cita-cita gue waktu kecil tapi jadi designer pernah dan itu bertahan lama sampai sekarang.
- Waktu papa bilang ke tukang-tukang, "Ini dia arsiteknya yang ngedesign interior rumah saya," sambil ngerangkul gue rasanya lebih bangga ketimbang papa bilang ke teman-temannya kalau gue anak kedokteran.
Aneh kan? Bukannya gue nggak bersyukur bisa kuliah di kedokteran, tapi ini masalah hati. Gue suka tapi gue nggak cinta. Beda sama design, i give all of my heart waktu otak gue berimajinasi tentang design spanduk atau saat tangan gue membuat sketsa wajah. Dan rasa gembira itu yang paling mencolok. Gue pernah sampai jingkrak-jingkrak kegirangan waktu dikasih tugas design cover buku tapi waktu dikasih tugas bikin makalah tentang penyakit, rasanya berat hati setengah mampus.
Yaaah nasi sudah menjadi bubur. Apa lagi yang bisa gue lakuin selain ngejalanin ini semua? Yang penting rasa suka itu masih ada. Bukannya sesuatu yang terbiasa bisa jadi menumbuhkan rasa cinta? Karena gue terbiasa belajar kedokteran, gue berharap, suatu saat gue bisa jadi cinta sama bidang ini. Mikirnya sih, dengan jadi dokter, Allah lagi ngebukain jalan gue buat lahan amal.
Toh, nggak semua yang kita pikir baik itu adalah yang terbaik buat kita. Allah lebih tahu :)
Jadi ceritanya, rumah gue baru dirobohin atapnya gara-gara banyak rayap yang ngegerogoti kayu-kayunya. Nah, setelah atap dibangun lagi, entah ada angin apa, tiba-tiba bokap ngajak gue buat ngedesign interior rumah gue sendiri. Wohooo!!! Gue sangat amat super excited sekaliiiihhh :p Ini tuh, salah satu dari empat mimpi besar gue. Apalagi kerjaan ini kolaborasi sama insinyur terhandal sejagat raya yang tidak lain tidak bukan adalah bokap gue sendiri hihi.
Tinggal 3, tinggal 3!!! Yuk ah, insya Allah 3 mimpi yang lain bakal kesampaian juga, 1 di tahun ini, yg 2 masih menunggu waktu. Aamiin. GANBATTEEEE HANI, Hap! hap! hap!
Honestly, i’m still in love with Yuri. Bodoh? Ya, aku memang bodoh.
Mungkin aku adalah satu-satunya pria dari sekian milyar manusia yang masih saja
percaya kalau cinta sejati itu akan datang andai kita mau bersabar menunggu.
Shit! Sebenarnya aku benci kata menunggu.
Tapi Yuri, perempuan itu—entah
apa yang dilakukannya sampai memberi efek sedemikian besar terhadap hidupku.
Aku gila. Bahkan sintingnya, aku rela menemaninya saat ini, di tempat ini,
pukul segini, hanya karena—i know i’m stupid
enough to do this—dia tidak bisa tidur. I
mean, ini pukul 01.00 pagi dan ini di pinggir tebing! Mana ada orang yang
mau bangun dan pergi ke tempat seperti ini hanya untuk menemani seseorang yang
tiba-tiba menelponnya dan mengatakan dia tidak bisa tidur sehingga butuh teman
mengobrol?
Oke, enough. *Inhale* *Exhale*
Yuri, if i can describe her in one word, she’s—for
me—everything. I like (and love)
everything on her. Rambut ikalnya yang panjang berkilau, alis tebalnya
seperti ada barisan semut membentuk lengkungan sempurna, mata coklatnya yang
berpendar indah, hidung mungilnya yang menyerupai seluncuran taman kanak-kanak,
bibir kecil tebal pink eksotis—i
don’t know how to find a simple word to describe this best part on her that i
loved much.
Dulu, Yuri cantik. Sekarang, dia
mempesona. Aku bukannya gombal. That’s
fact. Sejak dulu sampai sekarang, Yuri selalu bisa membuatku—bahkan
mungkin semua pria—menahan kedipan mata kami untuk sekian detik. Entahlah, she has an—people
say it “inner beauty”. Apapun yang dia pakai, apapun yang dia lakukan,
apapun yang dia ucapkan, selalu dan selalu membuat aura cantiknya terpancar.
I know her more than she know herself. Aku adalah (sialnya)
sahabatnya sejak kami masih sama-sama suka bermain petak umpet. Bukankah, itu
sudah petunjuk Tuhan kalau aku dan dia—berjodoh? Haha. Stupid! Aku tahu aku hanya tidak bisa menerima kalau di ruang
hatinya sudah ada yang menempati. Lelaki idamannya. Lelaki yang selalu bisa
membuatnya tertawa. Seharusnya. Tapi apa yang lelaki itu lakukan sekarang?
Kemana dia ketika Yuri tidak bisa tidur?
My eyes stuck on her (again). Ya Tuhan, dia semakin kurus. Tubuhnya
tidak sekuat dulu. Matanya sayu namun masih bependar seindah bintang di malam
ini.
“Ed, aku suka tempat ini,” Yuri
membuyarkan lamunanku.
“I know, Yuri,”
“You know what?”
“Everything, about you,”
“Really?”
“Yeah, mau bukti?”
“No. I know it, Ed,” Yuri merebahkan kepalanya di bahuku.
Dari sini, tampak jelas kerlip
bintang di langit gelap berpadu lampu-lampu rumah dan jalanan layaknya taburan
bintang dibawah kaki bukit. You safe here,
Yuri... Here, in my heart.
***
# Yuri
Ed, i’m very lucky to have him. Dia lelaki ter—i can’t describe him just in a
few words—sangking banyaknya ter—bla bla bla yang dia miliki.
Mungkin satu kata yang bisa aku ucapkan tentangnya. Ed gila. Dia lelaki tergila
yang pernah aku temui.
How come? Lihat ini, his
shoulder, always available 24 hours for me.
“Ed, dia muncul lagi malam ini,”
aku menegakkan kepalaku yang masih sedikit nyut-nyutan.
“Dimana?” Mendengar pertanyaan
ini aku menoleh padanya sembari mengerutkan kening. “Oh, maksudku, mimpi baik
atau...,” Ed menggantungkan kalimatnya, seperti enggan menyebutkan.
“Entahlah,” Aku menghembuskan
nafas panjang. Udara dingin menelusup dibalik sweater tebalku. Dingin sekali.
Hening. Kami seakan
mempersilahkan angin yang berbicara. Sudah biasa, suasana seperti ini sudah
sering aku lewati bersama Ed. Saat aku dan dia tidak ada bahan pembicaraan dan
kami membiarkan hening yang bersuara. Aku tidak masalah. Asal bersamanya, aku
tenang.
“Yuri,”
“Ya, Ed?”
“Apa dia... masih berarti
untukmu?”
Aku memandang wajah Ed yang masih
menatap lurus ke depan. “Jujur, masih. Dia masih disini,” Aku meletakkan
telapak tangan di dadaku. “Kenapa?”
“Kalau gitu...,” Ed mulai
menatapku. “ Kita sama,”
Aku tersentak sepersekian detik.
Mata itu... mata Ed... seperti... berbicara. Aku bisa merasakannya.
Udara dingin semakin menusuk-nusuk
tulangku. Aku mencengkram kedua lenganku seperti sedang memeluk diriku sendiri.
Tubuhku gemetar. Nafasku mulai sesak.
Tiba-tiba dua tangan kurus itu
memelukku. “Kamu pakai berapa lapis baju?”
“Dua,”
“Besok pakai empat ya. Kalau
lebih malah lebih baik. Badanmu butuh pelindung yang lebih hangat,” Ed
memelukku semakin erat. Badanku terbenam dalam tubuh besarnya yang mulai
mengurus. Aku merasakan tangannya mengelus-elus rambutku.
Entahlah, tiba-tiba ada
kehangatan menjalar di kulitku. Dengan dua lapis baju pun aku bisa merasa
hangat, asal ada Ed disampingku. “Kenapa kamu seperti ini, Ed?”
“Apa maksudmu?”
“Kenapa kamu selalu ada untukku?
Kenapa kamu tidak menikah saja dengan perempuan yang kamu cintai, lalu memiliki
anak-anak yang kelak saat dewasa akan memberimu cucu-cucu yang lucu? Kenapa
kamu...,” Aku menelan ludah. “lebih memilih sendiri?”
Herannya, Ed malah tertawa. “Dari
kita TK, SD, SMP, SMA, kuliah, kerja sampai kamu menikah, punya dua anak yang
sama-sama gantengnya dan tiga cucu yang lucu, kamu masih tetap cerewet ya?”
Aku mencoba melepaskan diri dari
pelukkan Ed lalu memandangnya. Mata kami bertemu untuk kesekian kalinya. Deru
nafas kami beradu. “Kamu bodoh, Ed,” kalimat itu meluncur begitu saja dari
mulutku.
Ed menyerah dan akhirnya menunduk. Sedetik kemudian memandang lurus ke depan. “Ya, aku bodoh,” Ed
tersenyum. Senyum tulus yang biasa dia berikan untukku.
Angin menggoyang-goyangkan
rambutnya yang sudah memutih. Aku terkagum. 65 tahun kami bersahabat dan Ed masih
sama seperti dulu—Ed yang tampan, Ed yang baik hati, Ed yang selalu menjadi
malaikat pelindungku.
Aku di bumi menunggumu, menunggu semua ceritamu tentang istana langit, menunggu semua celotehmu tentang negeri di atas awan, menunggu semua kisahmu tentang makhluk-makhluk penghuni atap bumi. Setiap apa yang keluar dari mulutmu adalah kedamaian. Karenanya aku disini, berdiri memandang langit dan berharap kamu segera pulang.
For me, friendship is about tolerate. Yap, toleransi. Berani berteman, itu artinya kamu harus berani
menerima perbedaan satu sama lain. Dan jangan sekali-kali kamu ngejudge kalau
kamu ngerasa nggak cocok sama dia hanya karena sifat kalian bertolak belakang.Sometimes, yang bertolak
belakang itu justru bisa saling melengkapi.Like
a puzzle. Temanmu adalah pengisi kekuranganmu.
Berteman, nggak selamanya selalu sejalan.I mean,kadang di tengah jalan muncul
ketidaknyamanan atas sifat dari teman kita. Dan penyebab ketidaknyamanan itu
tidak lain dan tidak bukan adalah ego, suatu pertahanan terhadap keyakinan kita
akan pembenaran diri. Wajar jika ego kita muncul ke permukaan secara tiba-tiba.
Itu manusiawi.
Tapi coba bayangkan jika ego kamu dan temanmu muncul disaat
bersamaan, mereka akan bertubrukan satu sama lain dan saling melukai. Namun
jika kamu sudah dewasa, kamu akan tahu saat itu adalah saatnya kamu mengalah.
Ada kalanya kita membandingkan teman yang satu dengan teman yang
lain. Teman saat sekolah dengan teman saat kuliah, si A yang enak diajak curhat
dengan si B yang kelihatan nggak peduli sama kita, atau dia yang sering nggak
klik sama kita dengan dia yang punya sifat sama dengan kita. Kali ini
ujung-ujungnya kita harus kembali ke definisi dari berteman.
Friendship is about tolerate.
Dari perbedaan akan tercipta satu kesatuan.Right?
Pernah suatu ketika menonton acara Hitam Putih, Deddy Corbuzier
berkata"Selama ini orang
berpikir, sahabat yang baik itu adalah sahabat yang ada disaat kita
susah/sedih, tapi kalau menurut saya, sahabat yang baik justru adalah dia yang
ada disaat kita senang. Kalau saya sedih, saya lebih memilih untuk menyendiri
dan merenung. Tapi coba bayangkan ketika anda sedang senang, misalnya sedang
ulang tahun, tidak ada sahabat disamping anda, tidak ada yang mengucapkan
selamat ulang tahun, bukankah itu lebih menyedihkan?"
Saya setuju denganstatementitu. Kenapa kita harus mempertanyakan
kemana teman kita disaat kita sedih? Justru mereka yang ada disaat kita bahagia
adalah yang terbaik. Ketika kamu sedih dan kamu tahu teman kamu sedang bahagia,try to hide your sadnessdan tersenyumlah. Atau jika kamu sudah
benar-benar tidak bisa untuk tersenyum, menghindarlah, jangan memaksa untuk
ikut nimbrung karena itu bisa memicu munculnya ego dengan perkataan
"Tolong lo ngertiin gue!". Kamu tahu dengan begitu kamu bisa merusak
kebahagiaan temanmu. Itu lebih kejam daripada nggak ada yang peduli saat kita
sedih.Sure!
Disini, bukan berarti saya sudah bisa menjadi sahabat yang baik
buat sahabat-sahabat saya. Saya cuma berusaha menjadi diri sendiri dan memahami
setiap karakter mereka.Try to
change the words"Coba
lo ada di posisi gue!" dengan "Coba ya gue ada di posisi lo...".
Dan yang terakhir, jangan gengsi ngucapin "Maaf" dan
"Terima kasih". Dua kata itu sangat ampuh mengikat tali persahabatan
lebih kuat. Berdasarkan pengalaman sih.
(Cerpen ini pernah diikutkan lomba yang diadakan Gagas Media. Sayangnya didiskualifikasi karena terlambat ngirim)
Terinspirasi dari lagu Dewi Lestari - Selamat Ulang Tahun
5 menit lagi. Kamu tahu, kan, setelah
5 menit ini berlalu akan ada yang berubah? Karenanya aku disini, menunggu
sesuatu yang menurutku masih ber-asa dari segala ketidakmungkinan. Aku percaya,
Tuhan akan memberikan kebahagian di sela luka yang belum sempurna sembuh. Dan
itu akan terjadi 5 menit lagi. 5 menit terpenting dalam hidupku.
Jujur, aku gugup.
Aku takut terlihat aneh dengan gaun
ini. Ditambah lipstik pink dan pemerah pipi. Apa kamu akan menyebutku badut
dengan stelan seperti ini?
Sebenarnya, aku belum siap menyambut 5
menit itu. Tapi kamu yang meyakinkanku. Kamu yang selalu meyakinkanku. 5 menit
lagi. Baiklah, aku akan menunggu.
Semoga 5 menit itu tidak lama.
***
“5 menit lagi. Kenapa aku takut ya?”
Kamu menatapku lalu tersenyum. “Everything will be alright, Naya. Jangan
gemetar seperti itu,”
Aku manyun. Laki-laki ini memang
selalu menghadapi segala sesuatunya dengan santai. Kelewat santai malah. Mungkin,
kalau 1 meter di depannya ada mobil yang melaju dengan kecepatan 100 km/jam,
dia dengan santainya akan berjalan seolah masih punya nyawa cadangan. Kadang
sikapnya itu mengesalkan. Tidak bisakah dia merasakan kegugupan yang aku
rasakan sekarang?
“Hei,” tiba-tiba kamu menggenggam
tanganku yang sedari tadi mengetuk-ngetuk tembok pembatas rooftop rumah kami
yang hanya setinggi pinggangku dengan tidak berirama. Entah kenapa, seketika
itu juga ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku. Rasa takut pun
perlahan memudar seiring dengan terbitnya senyum itu. “Sudah siap dengan
permohonan baru?”
Aku mengangguk.
“Seberapa banyak?”
“Hanya satu,”
“Kenapa cuma satu? Kamu bisa membuat seratus
permohonan sekalipun,”
“Aku nggak butuh banyak permohonan,”
“Boleh aku tahu apa permohonanmu?”
Dengan mantap aku menggeleng, “ Ini
rahasia antara aku dan Sirius,”
Sirius yang aku maksud adalah nama
bintang yang dipercaya memiliki cahaya paling terang dalam ilmu Astronomi. Ini
semua gara-gara dia. Dongeng tentang Sirius yang dia ceritakan 8 tahun yang
lalu itu seolah sudah memiliki ruang khusus dalam kotak imanginasiku. Dan
parahnya aku percaya.
Aku percaya jika Sirius itu adalah
jelmaan dari dewa Apollo−yang orang Yunani anggap sebagai dewa cahaya. Konon, Sirius
hanya muncul satu tahun sekali dan itu jatuh tepat pada hari dimana seluruh
manusia merayakannya sebagai perayaan tahun baru. Pada hari itu, jika kita
mengajukan permohonan, maka dewa Apollo akan mengabulkannya.
Dan entah kebetulan yang disengaja
atau tidak, aku lahir di tanggal itu, tepat di malam tahun baru, 1 januari.
“Kita hitung mundur ya. 10... 9...
8...,”
Entah kenapa jantungku berdegup lebih
keras.
“7... 6... 5...,”
Aku mulai memejamkan mata. Jemariku
saling bertautan.
“4... 3... 2...1. Let’s make a wish!”
Hatiku lekas menggumam 1 permohonan
yang sudah aku siapkan jauh-jauh hari. 1 permohonan sederhana yang aku yakin
tidak akan menyusahkan dewa Apollo. Ini karena tahun lalu aku membuat begitu
banyak permohonan dan tidak semua permohonan itu terkabul. Pikirku, mungkin
karena dewa Apollo kerepotan dengan ratusan permohonan yang aku ajukan. Dan
kali ini aku meringkasnya menjadi 1.
Hanya
1, kok, dewa Apollo.
Tiba-tiba terdengar bunyi letusan dan
terompet dimana-mana. Mataku membuka dan aku sontak terpana dengan pemandangan
spektakuler dihadapanku. Ada kembang api. Kembang api yang bermunculan layaknya
cipratan cat warna-warni di kanvas hitam. Ini luar biasa. Ini... hadiah dari
Tuhan yang tidak ternilai indahnya.
“Happy
birthday to you... happy birthday to you... happy birthday, happy birthday,
happy birthday, Naya...”
Aku menoleh. Belum selesai rasa
kagumku pada keelokkan langit malam ini, dengan tiba-tiba lagi aku mendapat
kejutan baru. Kamu berdiri disana, bermandikan cahaya lampu yang diatur
sedemikian rupa pada sebuah papan putih membentuk kalimat “Happy Birthday”. Wajahmu
bersinar, seperti Sirius di malam ini. Lalu kamu tersenyum. Aku sampai tak
dapat berkata-kata dan hanya bisa berkaca-kaca.
“Cut Nayala Anggraini, selamat ulang
tahun yang ke 16 ya. Semoga kamu semakin dewasa, semakin cantik, selalu sehat
dan tidak kurang satu apapun. Dan oh ya, semoga permohonanmu pada sirius
dikabulkan. Aku menyanyangimu. Selalu,”
Setelah kamu mengucapkannya, detik itu
juga pipiku basah.
***
Malam ini dingin sekali. Sepertinya
udara di rooftop rumah sedang tidak bersahabat. Tubuhku gemetar. Hidungku
sampai meler beberapa kali. Tapi semua bisa aku tahan sebentar saja. Mungkin
sampai kamu datang.
2 menit lagi.
2 menit lagi saat itu akan tiba. Aku
butuh kamu untuk melengkapi semuanya. Cepatlah datang, Siriusku.
***
KRIIINGGG!!!
Telpon rumah berdering. Tidak ada
orang di rumah selain aku. Sepertinya mbok Tarti sedang ke pasar. “Halo,”
“Halo, Mbok. Naya ada?”
Aku mengenal suara itu. Seketika itu
juga ide jahilku muncul. “Maaf, Mas Gilang, mbak Nayanya tadi kabur,”
“Hah? Kabur? Kabur gimana maksudnya,
Mbok?”
“Ndak
tau, Mas. Tadi dia tiba-tiba pergi bawa koper,”
“Serius? Mbok nggak becanda, kan?”
terdengar nada panik dari kalimat itu. Perutku langsung geli.
“Kalo saya becanda, Mas, kan harusnya
ketawa,”
“Mbok, tolong dong jangan main-main!
Saya udah pusing sama pekerjaan di kantor. Saya nggak ada waktu becanda
sekarang!”
Aku menyerah. Rasanya sakit sekali
menahan ribuan semut yang menggelitiki perutku. Tawaku langsung meledak.
“Na... Naya?”
“Hahahaha. Serius amat sih, Mas
Gilang. Jangan diambil pusing ah, nanti cepet tua. Hehehe,”
Hening di seberang.
“Mas, kok diem?”
Ada helaan nafas terdengar. “Naya,
kamu tahu jantung aku udah mau copot,”
“Cie... kaget ya? Hahahaha,”
“Naya, ini nggak lucu. Aku panik, Nay.
Tahu kamu seberapa khawatirnya aku? Tadi aku sempat kepikir mau beli tiket ke
Jakarta saat ini juga begitu tahu kabar kamu kabur. Kamu tahu, kan, jarak
Amsterdam-Jakarta itu nggak deket? Ribuan kilo, Nay! Dan aku yakin, kamu nggak
kepikiran kalo aku bakal ketakutan setengah mati selama menempuh ribuan kilo
itu. Aku takut kehilangan kamu, Naya. Aku takut,”
Hening kembali. Kali ini sunyi yang membungkam
mulutku. Entah kenapa rasanya sakit sekali. Kata-kata itu... seperti pedang
yang menusuk-nusuk ragaku. Perih. Mataku langsung panas.
“Ma... maaf,”
***
Perihal kabur, aku sudah sering
melakukannya beberapa tahun yang lalu. Bukan tanpa alasan aku memutuskannya.
Aku hanya merasa tidak enak. Ini bukan tempatku. Ini bukan “rumah”ku. Rasanya
seperti orang asing yang terperangkap dalam pulau terpencil. Segalanya serba
tidak nyaman.
Aku cuma ingin satu. Pulang ke rumah.
Rumahku yang sebenarnya. Rumah tempatku dilahirkan. Kalo dipikir-pikir gampang
saja. Aku tinggal pulang ke rumah dan hidup bahagia disana. Tapi masalahnya
tidak sesederhana itu.
Aku tuna wisma. Rumahku hancur pada peristiwa
tsunami Aceh 26 Desember 2004 silam. Segalanya terenggut saat itu. Tidak hanya
rumahku, tapi juga jiwaku. Menyakitkan memang melihat begitu banyak jasad
berserakan disekelilingku. Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan selain melihat
ayah dan ibuku terjepit diantara timbunan batu bata dan beton sedangkan aku
tidak bisa berbuat apa-apa karena umurku baru 9 tahun saat itu.
Duniaku menjadi gelap. Tidak ada
cahaya sama sekali. Aku seperti tidak punya harapan, tidak tahu kemana harus
menuju. Semua orang berteriak tapi aku merasa kesepian. Hancur. Semuanya hancur.
Rasanya paru-paruku sudah tidak sanggup beroperasi lagi sebagaimana mestinya.
Mungkin sebaiknya Tuhan mencabut nyawaku saat itu juga.
Tapi ternyata Tuhan malah menggariskan
takdir yang sebaliknya. Dia mengirim kamu. Seakan menjadi penerang diantara
kabut duka pada hari itu. Kamu, dengan seragam kaos bertuliskan “Relawan PMI”
membawaku keluar dari ruang gelap itu. Tidak hanya itu, kamu juga memberiku
harapan baru dengan caramu yang unik. Dongeng tentang Sirius. Dongeng tentang
harapan yang akan selalu muncul di malam tahun baru. Kamu menceritakannya
dengan menggebu-gebu. Dan bodohnya aku percaya begitu saja.
Takdir menuntunku menuju rumahmu.
Alasannya sederhana, kamu butuh teman disana. Rupanya kamu juga sebatang kara.
Tapi berbeda denganku, ayah ibumu masih bernyawa. Hanya saja, jarak ribuan kilo
yang memisahkan kalian. Kamu di Jakarta dan mereka di Amsterdam. Sedangkan aku?
Aku dan orang tuaku terpisah oleh dunia yang berbeda. Kami tidak akan bertemu
lagi selama aku masih memilih menapak jejak pada bumi.
Tahun berganti tahun, Sirius datang
lalu pergi, luka itu pulih secara perlahan. Hidupku nyaris kembali sempurna.
Kamu seolah menjadi perekat serpihan-serpihan bahagiaku yang berserakan. Entah
kenapa, aku rela menunggui pintu itu sampai ralut malam, asal bisa melihat kamu
datang sepulang kerja. Aku rela bangun lebih pagi, asal bisa memandang ekspresi
lugumu saat tidur. Aku rela berpura-pura bahagia, asal bisa menikmati senyummu
setiap saat.
Awalnya aku menduga ini hanya sebuah
refleksi dari rasa nyaman yang kamu ciptakan. Namun seiring bertambahnya umur,
aku merasa ada yang aneh. Ada sesuatu yang tumbuh, entah apa itu, yang lama kelamaan
menyesaki seluruh ruang dihatiku. Seperti... rasa tidak ingin kehilangan. Apa
ini sudah tidak normal?
Mungkin bisa dikatakan dalam batas
kewajaran jika kamu bukan seorang lelaki yang 11 tahun lebih tua dariku atau
jika kamu bukan seseorang yang baru aku kenal secara tidak sengaja dalam sebuah
tragedi besar atau jika kamu bukan seorang pria yang sudah seharusnya memilih
wanita dewasa sebagai pendamping hidup bukannya seorang gadis remaja yang masih
bertingkah kekanakkan. Tapi pada akhirnya aku harus menyadari bahwa ini bukan
negeri dongeng yang dengan mudahnya menyatukan cinta sang putri dan pangeran.
***
“Nay, aku mau ngasih tau kamu sesuatu,”
Malam ini tumben-tumbennya kamu pulang
lebih awal dan mengajak aku makan malam di rumah. Menunya nasi goreng spesial
ala mbok Tarti. Walaupun sederhana, tapi rasanya menyenangkan karena ini adalah
momen langka. Bisa duduk berhadapan dengan kamu tepat pukul 7 malam seperti ini
mungkin bisa dihitung dengan jari sangking jarangnya kamu pulang sebelum tengah
malam.
“Wah, samaan dong! Aku juga mau ngasih
tau Mas sesuatu,” ujarku dengan wajah semeriah mungkin.
“Oh ya? Tentang apa?”
Aku meletakkan sendokku dan beralih
menopang dagu. “Tebak dulu!”
“Kamu baru beli boneka baru?”
“No!”
senyumku merekah. Aku tau kamu tidak mungkin bisa menebak.
“Ada siaran ulang barbie di televisi?”
“Haha, bukan,”
“Terus apa? Kasih clue dong!”
“Sesuatu yang bakal bikin Mas kaget,”
Wajahmu berubah serius. Aku tahu kamu
sedang memutar otak untuk menebak-nebak apa yang ingin aku katakan. Andai kamu
tahu, semakin kamu mengerutkan keningmu, wajahmu semakin lucu. “Kecoa?”
Aku tersenyum penuh kemenangan. “Payah
nih! Masa gitu aja nyerah. Jadi gini... sebenernya yang mau aku kasih tau
itu...,” sengaja aku menggantungkan kalimat itu sambil mengamati ekspresimu
yang terlihat dipenuhi rasa penasaran. Keningmu yang berkerut, alis tebalmu
yang terangkat naik, mata coklatmu yang berubah membulat, hidungmu yang
terlihat menahan nafas, lalu berakhir pada mulutmu yang menganga lebar—entah
kenapa membuatku semakin terpesona. Denyut aneh ini terasa kembali. Denyut yang
hanya muncul pada saat sorot mataku dan matamu bertemu pada satu titik.
Sepertinya ketidaknormalan ini mulai muncul lagi.
“Hei, kok malah bengong?” seketika itu
juga kamu membuyarkan khayalanku.
Aku nyengir. “Sebenernya.... aku punya
kejutan buat Mas,” aku melihat perubahan air muka di wajahmu. Sebelum kamu
membuka mulut, aku sudah menyambar lebih dahulu. “Dan kejutannya bakal ada pas
malam tahun baru nanti, tepat saat aku berumur 17 tahun,”
Aku kira kamu akan memaksaku memberi
tahu apa bentuk kejutan itu. Karena setahuku, kamu orang yang paling anti sama
yang namanya kejutan. Kamu paling nggak suka dibikin penasaran. Tapi anehnya,
kali ini kamu justru diam.
“Kok kelihatan nggak seneng sih?” aku
manyun.
“Ng... nggak kok, aku seneng. Hehe,”
Entah kenapa aku mengendus ada yang
tidak beres dengan dirimu, mungkin lebih tepatnya ada yang salah dengan
rangkaian saraf di otakmu. Aku lihat dari tadi kamu lebih banyak mengunci mulut
dan tidak sebawel biasanya. Kulitmu juga memucat. Apa jangan-jangan kamu sedang
sakit?
“Oh iya, Mas mau ngasih tau apa?”
“Hah?
“Tadi katanya Mas mau ngasih tau
sesuatu,”
“Oh... nggak jadi deh, hehe,”
***
Aku melirik jam tangan yang tidak aku
kenakan. 30 detik lagi dan kamu belum juga menampakkan batang hidung. Rasa
gelisah itu semakin menyeruak dan membuat pikiranku menjadi tidak karuan.
Berbagai spekulasi muncul dalam benakku. Tapi aku menepisnya dan berharap kamu
nyata ada disini saat ini juga.
Untuk mengusir sepi, otakku sedari
tadi memutar memori lama dalam album kenangan antara aku dan kamu. Semuanya
terasa menyenangkan. Terutama di tempat ini. Tempat rahasia yang menjadi penghubung
antara aku, kamu dan Sirius. Sebuah rooftop yang cukup luas. Tidak ada barang
satupun disana, bahkan lampu sekalipun. Ini yang sering aku keluhkan padamu.
Aku butuh lampu karena aku takut gelap. Dan kamu tahu sebabnya. Trauma psikis.
Tapi setiap kali aku mengeluh seperti
itu kamu selalu berkata bahwa semakin hari langit akan semakin turun dan suatu
saat kamu bisa menggapainya hanya dengan berjinjit saja. Lalu ketika saat itu
tiba, kamu berjanji akan memetik salah satu bintang di langit untuk kamu jadikan
lampu di rooftop ini supaya aku tidak takut lagi. Aku boleh memilih bintang
mana yang cocok untuk dijadikan lampu. Dan aku memilih Sirius.
Sirius, bintang ini sudah memberi
kekuatan tersendiri untukku menjalani sisa hidup. Sejak tragedi itu, aku selalu
menanti setiap malam tahun baru dan mempersiapkan permohonan-permohonan khusus
beberapa hari sebelumnya. Malam tahun baru sudah menjadi malam sakral yang
sangat amat berarti untukku. Ada 3 hal yang membuat malam itu begitu berharga.
Pertama, pada malam itu aku akan
bertambah usia. Kedua, Sirius, bintang kesayanganku ini akan muncul dan aku
bisa mengajukan permohonan padanya. Ketiga, ini yang sebenarnya menjadi alasan
terbesar mengapa aku begitu menyukai malam itu, karena kamu akan meluangkan
seluruh waktumu yang mahal untukku. Ya, hanya untukku. Tidak diduakan dengan
pekerjaan kantor atau kesibukanmu yang lain.
Dan detik itu semakin mendekat. Dingin
menusuk-nusuk kulit seakan sedang mengadakan konspirasi besar dengan alam untuk
membunuhku secara perlahan. Tubuhku gemetar kian hebat. Aku butuh kamu. Aku
butuh pelukmu. Aku mohon, sebentar saja datang kesini. Sebentar saja, kuatkan
aku. Jadikan aku siap menghadapi kenyataan bahwa sebentar lagi kamu akan
menjauh, sebentar lagi kamu tidak akan lagi bisa melewati malam tahun baru denganku,
sebentar lagi dongeng sirius itu akan benar-benar lenyap dalam ingatanku.
Sebentar lagi, sebentar lagi, dan
sebentar lagi...
Sejujurnya, aku belum siap mengganti
kata sebentar lagi itu dengan saat ini.
***
Dear, Naya
Sebelum
kamu membaca surat ini sampai akhir, aku ingin kamu tahu, bahwa aku tidak
pernah berpura-pura menyayangimu. Aku benar-benar sayang kamu sejak awal Tuhan
menggariskan takdirku menemukanmu. Kamu yang membuatku merasa memiliki hidup.
Hidup yang dalam definisi kamusku berarti tidak lagi merasa kosong ditengah
suara-suara berisik yang tumpang tindih dalam gendang telingaku.
Kalau
aku boleh menganalogikan, kamu itu seperti crayon, punya banyak warna yang
masing-masing warna mencerminkan 1 perasaanmu. Aku melihat warna biru saat kamu
sedang tersenyum. Sejuk dan mendamaikan. Lain waktu aku bisa melihat warna
merah saat emosimu sedang meledak-ledak. Atau warna hitam saat hatimu sedang
dirundung kesedihan. Semua terlihat jelas, Naya. Terlalu jelas. Bahkan sampai
saat kamu memancarkan warna merah jambu di setiap kali aku berada di sampingmu.
Naya...
kamu itu perempuan terhebat yang pernah aku temui. Ketegaranmu menantang hidup adalah
alasan mengapa aku berkata demikian. Aku kagum padamu. Dan entah atas dorongan
apa, aku selalu ingin melindungimu, aku selalu ingin menjaga nyala mata itu,
aku selalu ingin menjadi alasan di balik tawa riangmu.
Awalnya
aku hanya berpikir bahwa selamanya aku bisa menjagamu karena kita satu atap.
Tapi ketika hari itu datang, aku menyadari bahwa segalanya tidak sesederhana
itu. Hari itu adalah hari dimana aku terjatuh pada hati perempuan lain. Namanya
Claudia. Dia teman kecilku saat aku masih tinggal di Amsterdam. Dialah pencipta
asli dongeng Sirius itu. Dongeng yang sebenarnya ditujukan agar aku tidak
menangis ketika ayah dan ibu tidak bisa pulang ke rumah karena sibuk dengan
urusan kantornya.
Aku
tidak menyangka dongeng Sirius itu akan berefek besar pada kehidupanmu. Dan
kehidupanmu adalah kehidupanku juga. Maka ketika kamu kembali menjadi kamu, aku
pun seperti punya nyawa cadangan sehingga hidupku kembali hidup. Namun seperti
yang kukatakan sebelumnya, semua ternyata tidak sesederhana itu. Aku tidak memikirkan
akan hadirnya kehidupan lain yang kelak menjadi kehidupanku juga.
I’m so sorry Naya if what i wanna tell
to you will hurt you much. Aku nggak bisa
datang malam tahun baru nanti. Aku harus ke Amsterdam. Aku dan Claudia akan
bertunangan. Sebenarnya berkali-kali aku ingin memberitahumu, tapi aku nggak
sanggup. Aku takut akan merusak semua kebahagiaanmu bahkan sebelum hari H itu
datang. Maafkan aku, Naya. Maafkan aku jika keputusanku tidak memberitahumu ini
salah.
Dan
aku ucapkan, selamat ulang tahun, Naya. Jadilah perempuan yang semakin dewasa,
cantik hatinya, rupanya, maupun tingkah lakunya. Dari sini aku akan memohon
pada Sirius untuk terus menjagamu karena aku tidak akan bisa lagi menemuimu
sesering dulu.
Aku
harap kamu mengerti, Naya. Aku menyayangimu, tapi aku mencintainya. Sekali lagi
maaf.
Gilang
***
“10... 9... 8...,”
Cut
Nayala Anggraini, selamat ulang tahun yang ke 16 ya. Semoga kamu semakin
dewasa, semakin cantik, selalu sehat dan tidak kurang satu apapun. Dan oh ya,
semoga permohonanmu pada Sirius dikabulkan. Aku menyanyangimu. Selalu.
Mataku panas dan hatiku terasa
disesaki sesuatu yang menyakitkan. Sakitnya melebihi hawa dingin yang begitu
mencekam sedari tadi.
“7... 6... 5...,”
Aku
takut kehilangan kamu, Naya. Aku takut.
Ada air disana, tertampung di kedua
kelopak mataku. Semakin lama semakin menggunung dan rasanya perih.
“4... 3... 2... 1,”
Tes!
Kelopak mataku melemah dan air itu
mengalir dengan indahnya seiring dengan munculnya kembang api berwarna-warni di
angkasa gelap.
Aku
harap kamu mengerti, Naya. Aku menyayangimu, tapi aku mencintainya. Sekali lagi
maaf.
“Kamu yang nggak pernah ngerti,
Gilang. Semua ini buat kamu,”
Saat itu juga aku menghapus seluruh make up yang menempel di wajahku. Bodoh!
***
Sirius,
di ulang tahunku yang ke 16 ini, aku cuma mau memohon satu hal.
Kuatkan
aku untuk mengatakan yang sejujurnya padanya nanti,